
Walaupun 6 jam adalah waktu yang lama, waktunya berlalu sebelum aku menyadarinya. Tanpa perkembangan apapun, tim kamu tidak Punya pilihan selain memilih..
Waktu tersisa beberapa menit lagi, para pemain mulai memasukkan kertas suaranya di kotak vote. Perlahan tapi pasti, hal itu membuatku semakin tegang.
Teeeeeeet!
"Waktu habis!" Seru Dealer mengakhiri babak kedua ini. "Sekarang kami akan menghitung hasil pilihan!" Seru Sang Dealer, beberapa karyawan mulai berdatangan untuk menghitung dan meletakan kertas suara di papan. Ketika hal itu, aku teringat perkataan Daniel saat awal babak kedua.
Jika perbedaan hasil babak berikutnya juga sama, 4 banding 6, maka artinya ini adalah skenario terburuk.
Mungkin itulah kira² perkataan Daniel di awal babak kurang lebihnya.
"Ya....! Lalu... Tidak...! Tidak...!"
"(Skenario terburuk? Tidak mungkin!)" Gumam Alice cemas, tanpa sadar saat ia berpikir terlalu lama, penghitungan suara pun telah selesai. "Penghitungan telah selesai!"
"4 banding 6, Ya telah menjadi minoritas!"
"(I-Ini seperti yang Daniel katakan..!)" Batin Alice tak menduga hal itu benar-benar akan Terjadi. Bukan hanya Alice, melainkan disisi yang berbeda Daniel juga terkejut bahwa prediksinya akan hal itu benar terjadi.
"Pemain yang memilih tidak sekarang diminta untum keluar." Perlahan pemain yang menjadi mayoritas di babak kedua ini mulai meninggalkan ruangan ini.
"(X..! Ternyata dia telah melakukan sesuatu!)" Batin Daniel terkejut sekaligus khawatir, tentang apa rencana atau strategi yang dimiliki oleh X.
Sekarang tim kami hanya tinggal Aiko dan Daniel. Manajer pabrik dan aku telah kalah.
Daniel.... Aiko... Tolong menangkan permainan ini!
Aku tidak mengatakan apapun, yg hanya kulakukan saat berjalan pergi menoleh ke arah mereka dengan tatapan seakan mengatakan hl itu. Ya, walaupun mungkin tidak sama persis apa yang kukatakan dalam hati. Seakan mengerti Aiko tersenyum tipis.
"(Serahkan padaku!)"
Jadi, saat aku berjalan keluar, menurutmu apa yang aku lihat? Tak pain adalah sosok tak menyenangkan nomor 15. Entah bagaimana dia dapat kembali menang.
.
.
.
Sekarang, secara keseluruhan pemain hanya tersisa:
-peserta nomor 15
-Riordan
-Aiko
-Daniel
"Permainan hari ini telah berakhir. Ronde berikutnya dijadwalkan akan di mulai jam 8 pagi, seperti hari ini. Hanya anda berempatlah peserta nya. Sampai saat itu, nikmati kunjungan anda." Perkataan dealer itu sekaligus mengakhiri permainan hari ini. Is berjalan Keluar dark ruangan ini begitupun just para pemain.
"Hei, X masih disini." Bisik Aiko Kepada Daniel yg Ada disampingnya, mereka berjalan di belakang pemain 15 Dan Riordan dengan jarak cukup jauh. Daniel meresponnya hanya Angguk saja.
"Hm.."
__ADS_1
Singkatnya, kini Daniel telah sampai di kamarnya, is segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena ia merasa tidak enak dengan badannya. Saat lagi mandi Dan berpikir akan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara telephone..
Hmmm?
Daniel memutuskan akan menjawabnya setelah ia selesai mandi. Begitu sudah selesai, ternyata hpnya masih berbunyi Dan bergetar. Sambil mengelap bagian tubuh dan rambut yang masih basah Daniel mengangkatnya.
^^^"Halo....? Oh, Ternyata kamu.." ^^^
"Syukurlah! Kukira aku tak dapat menghubungimu." Ucap Alice di dalam telepon itu dengan perasaan lega.
^^^ "Telepon genggamku selalu bersamaku, kecuali dalam game." Jelas Daniel sekaligus mengingati kembali Alice berdasarkan apa yang pernah dikatakan oleh karyawan DGT. ^^^
^^^"Jadi, sekarang kamu dimana?" ^^^
"Dirumah. Aku baru saja sampai."
^^^"Apa DGT meminya pembayaran?"^^^
"Belum sampai saat ini. Daniel, ronde terakhir tadi berakhir seperti yang kamu prediksi, 4 banding 6, berarti X.."
^^^"Ya, tak salah lagi, X telah bekerja di Balik layar." Daniel mendengus. ^^^
"Begitu ya..." Alice menunduk sedih, takutnya si X mempunya rencana yang lebih ampuh dibandingkan dengan rencana Daniel.
^^^"Maaf, tapi bisa telepon lagi nanti? Ada yang harus kuurus. Kalau aku tak bertindak sekarang, maka dipastikan kita akan kalah dalam game besok pagi, pasti." Sedaritadi menelpon, Daniel memakai bajunya dengan sedikit terburu-buru. Ia tidak membiarkan dirinya diam hanya karena sebuah panggilan telpon. ^^^
"Kalah??! Pasti?!" Merasa hal itu gawat, Alice terkejut. Namun, belum Bertanya lebih lanjut, Daniel langsung saat itu juga menutup telponnya.
^^^"Yah, sampai nanti."^^^
.
.
.
"Gawat! Apa yang harus kulakukan?!"
Sekali lagi, aku diserang rasa takut. Tapi tak peduli seberapa besar kekhawatiranku, tak Ada yang dapat kulakukan di titik ini!
Tak dapat menahan diriku sendiri, aku memutuskan keesokan harinya until kembali ke Wisma (sebuah bangunan)
.
.
.
Pov : Daniel
Daniel berjalan keluar dari kamar dan menelusuri lorong yg begitu panjang untuk menuju ke lobby, Daniel berharap orang yg dicarinya ada disana atau tidak ia akan kerepotan untuk mencari "orang itu" di seluruh bangunan ini.
Dan benar saja, ketika sampai di lobby dan membuka pintu, ia melihat peserta yang Daniel cari yaitu peserta no.15, Daniel segera bergegas menghampiri nya yang sedang berdiri bersandar.
"Hei, kau mau berbicara sebentar?" Tanya Daniel sekaligus membuka topik pembicaraan. Ia hanya melirik Daniel dengan wajah yang begitu datar, menyilangkan kedua tangannya di dada adalah ciri khas dari pemain no.15
__ADS_1
"Ada keperluan apa?"
"Begini, aku langsung to the point saja. Aku tau kau bekerja sama dan se-tim dengan peserta 3."
"...?" Tentu peserta 15 terkejut akan hal itu, namun ia tetap harus bersikap seperti biasa saja seakan pernyataan itu tidak benar.
"Kau telah dibohongi oleh peserta 3."
"Apa maksud kau?"
"Hah, tidak perlu berpura-pura lagi, aku sudah tau semuanya, hanya saja aku perlu melakukan sesuatu."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin kalo aku bekerja sama dengan peserta 3, bukankah kau tidak punya bukti dan mungkin saja aku akan berbohong."
"Simpel, karena kita sama-sama pihak yang dirugikan nanti. Dan itu dilakukan oleh peserta 15. Dia seorang pengkhianat."
Peserta 15 mengangkat satu alisnya bingung maksud dari perkataan Daniel.
"Kalau kau bergabung dan bekerja sama denganku, kita bisa menang... Hanya saja, biarkan kondisi seperti saat ini dan aku jamin kau akan dipermainkan oleh peserta 3."
"Satu lagi, sebagai jaminan kau akan ku beri papan namaku, tapi sebagai gantinya kau harus memberikan informasi dalam tim kau." Tanpa pikir panjang, Daniel memberikan papan namanya kepada peserta 15. Tentu, hal itu membuat ia sedikit bingung dan terkejut.
"(Hmm, kupikir tidak ada masalahnya jika aku memberitahu tim ini, lagipula itu hanya akan berpengaruh sedikit.)" Batin peserta 15 sejenak memikirkan apa yang harus dilakukan. Tapi, pada akhirnya ia menerima papan nama itu.
"Baiklah, aku akan bekerja sama denganmu."
.
.
.
Keesokan paginya..
^^^"Apa?? Kau kembali?" Teriak Daniel terkejut dengan pernyataan yg berasal dari telepon genggamnya. ^^^
"Iya.." Jawabku dengan pelan karena aku merasa bersalah, aku menelpon Daniel untuk sekedar memberikan kabar bahwa dirinya kembali datang dan telah sampai di depan wisma.
^^^"Untuk apa?! Sekarang kau tak dapat melakukan apa-apa!!" ^^^
"Tapi.. Aku hanya akan lebih khawatir kalau di rumah saja."
^^^"Tetap saja! Sampai kembali ke tempat sejauh ini?!"^^^
" Yah... Kamu tahu, bukan hanya aku yang kembali. Aku bertemu dengan pemain nomor 1 barusan. Dia pasti sama khawatirnya seperti aku dan kembali untuk memeriksa keadaan." Aku mencoba menjelaskan apa yang ia temui sebelum dirinya menelpon Daniel, bagi Daniel itu merupakan sebuah informasi yang sangat penting.
"?!" Daniel terkejut, terpaku sejenak mencerna apa yg dikatakan Alice. Daniel percaya bahwa Alice tidak berbohong tentang hal itu. Bahkan tanpa sadar saat Daniel tiba² terdiam, suara ketukan pintu terdengar berkali-kali. Ketukan itu pasti karyawan DGT untuk memperingati para peserta bahwa permainan akan segera dimulai.
"Nomor 22?? Kami akan memulai ronde berikutnya sebentar lagi. Harap datang ke ruang resepsi." Perintah sang karyawan sekaligus memperingati Daniel dari luar kamar. Daniel meresponnya dengan sedikit meninggikan suaranya agar dapat terdengar.
"Baik, sebentar lagi."
"Gamenya akan dimulai, akan ku telpon lagi ketika sudah selesai." Ucap Daniel kepada Alice tanda ia akan segera mengakhirinya, belum sempat mengatakan apapun telpon sudah dimatikan.
...
__ADS_1
Bodohnya diriku... Aku melakukan hal yang tak perlu lagi, kan..?
Bersambung..