Permainan Menipu

Permainan Menipu
Disonansi Kognitif


__ADS_3

.


.


.


.


.


Setelah kejadian itu, pak Roy kini tidak menjaga di tengah-tengah ruangan lagi, melainkan ia berjaga di depan persis pintu lemari yang berisi brankas itu. Pikirannya semakin kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih akibat faktor kelelahan dan gertakan dari Daniel.


Disisi lain, Daniel dan Alice kembali mengamati pak Roy dari kamar 03 menggunakan teropong setelah kejadian itu. Alice masih saja khawatir saat memikirkan perkataan pak Roy yg bisa saja ia menyerah dan putus asa karena di pikirannya tidak ada cara untuk mengambil uang itu secara diam-diam atau dipaksa.


Daniel mengetahui kondisi Alice hanya dengan melihatnya saja tanpa bertanya. Daniel akan berusaha secara perlahan mengembalikan rasa semangat dan pikiran yang positif bahwa mereka akan menang dan mendapatkan kembali uangnya.


Tapi, Daniel tidak akan mengatakannya atau melakukannya secara tidak langsung tentang rencana ke depan yang harus mereka lakukan, karena Daniel punya alasan tersendiri. Karena akan hal itu membuat Alice semakin penasaran sekaligus tetap cemas..


"Hehehe.. Lihat dia.. Dia semakin kacau sekali.." Celetuk Daniel setelah melihat pak Roy menggunakan teropongnya. Alice juga mengintip dari sela² gorden pak Roy, memang terlihat namun tidak begitu jelas dengan ekspresi pak Roy, dikarenakan posisi pak Roy yg berubah dan semakin jauh dari letak jendela kamarnya. Maka dari itu, Daniel menyarankan untuk menggunakan teropong agar lebih efektif pengawasan mereka.


Karena gerak-gerik Alice ingin melihat, Daniel memberikan teropong kepadanya, tentu Alice menerima tanpa penolakan, beberapa detik kemudian, Alice memberikan teropongnya kembali ke Daniel, dari ekspresinya tidak ada tanda² bersemangat sedikitpun dan itu seperti sudah menyerah. Daniel menerimanya dengan menghela nafas panjang.


"Kalau kau perhatikan, dia pasti menyangka bahwa kita akan menyerah begitu dia memberitahu tentang brankas itu. Tapi karena aku sama sekali tidak mundur, dia jadi semakin gelisah. Ini adalah gambaran sempurna dari disonansi kognitif ."


"Disonansi... ..Apa??"


"Itu istilah psikologi. Apa kau pernah mengalami ini? aku beri contoh..."


"....Saat di sekolah tepatnya di sebuah ruang kelas, guru bertanya kepada seluruh muridnya 'jawaban mana yang benar A atau B?', mau dipikir sekeras apapun, kamu tahu jawabannya pasti B. Lalu sang guru berkeliling, meminta jawaban dari semua murid. Murid pertama menjawab dengan lantang, "A!!”. Kemudian, murid ke-2, yang tak yakin dengan jawabannya sendiri, menjawab A. Murid ke-3 menjawab A. Murid ke-4 menjawab A juga. Sampai tiba giliranmu, akhirnya 'A' adalah jawabanmu. Padahal kau tahu bahwa B adalah jawaban yang benar.. Apalagi jika yang menjawab murid yang pintar pasti digiliran berikutnya pasti akan mengikuti jawaban dari si murid pintar... Tidak selalu murid terpintar dikelas menjawab dengan benar.. Yah, sudah dipastikan mereka tidak percaya diri dengan jawabannya." Daniel menjelaskan dengan cara analogi agar Alice mudah memahaminya dan ini sudah pasti dialami beberapa orang karena sangat umum.


"ah, aku pernah mengalaminya..."


"Manusia biasanya, merasa gelisah ketika ada ketidakcocokan di antara mereka dan lingkungan luarnya. Lalu, agar tidak gelisah, mereka mencoba untuk membiasakan diri dengan lingkungan itu. Saat itu, aku yakin pak Roy membayangkan kekecewaan kita ketika dia memperlihatkan brankas itu. Namun, aku menentang prediksinya di depan matanya dengan penuh percaya diri. Jadi, dia menggabungkan pikirannya dengan penampilanku yang percaya diri. Pak Roy menjadi gelisah, dan jatuh ke dalam disonansi kognitif. "


"Pada akhirnya, semua akan menjadi lebih buruk baginya. Hehehe... Manusia menjadi lemah ketika kau menghancurkan rasa percaya dirinya." Sambung Daniel panjang lebar, namun Daniel yakin bahwa hal itu tidak akan mengurangi rasa kekhawatiran dan keputuasaan Alice, ia hanya menjelaskan kondisi pak Roy dari sudut pandang ilmu.


"Jadi, kamu berbohong bahwa kamu punya cara untuk mengambil 20 miliar itu dari brankasnya. Jadi itu hanya gertakan... Hanya memojokkannya secara psikologis." Alice menunduk sedih, jika itu benar maka ini sudah selesai baginya untuk memenangkan permainan ini. Namun, justru Daniel tertawa kecil karena Alice menganggap Daniel tidak mempunyai rencana lain.


"Haha.. Jadi kau tidak percaya padaku?? Itu bukan cuma gertakan atau komentar sembarang saja. Ada cara untuk mengambil uangnya dari brankas itu. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa memberitahu." Ujar Daniel dengan ekspresi penuh percaya diri, aku sedikit melirik ke arahnya yang tersenyum ke arahku. Itu membuatku malu! Karena Daniel mengatakan dia mempunyai rencana, aku mencoba untuk menebak rencana tersebut, namun dipikir² semakin lama malah tidak menemukan jawabannya, setiap aku menemukan cara pasti setelah itu ada konsekuensi yang membuat rencana itu tidak akan berhasil.


Setelah itu kami sibuk dengan tugas nya Masing-masing, sebenarnya Alice tidak ada tugas apapun, paling hanya membersihkan kamar jika kotor, Karena saat ini waktunya untuk bergantian mengawasi. Karena dirasa pekerjaannya sudah selesai, Alice duduk bersenderan di tembok untuk istirahat sekaligus mencoba memikirkan kembali rencana apa yang akan dilakukan Daniel.


Beberapa saat kemudian, Alice tidak menemukan jawaban apapun, bukannya mendapatkan solusi malah Alice semakin pusing. Ia memegang kepalanya seperti orang yg depresi dan frustasi. Karena terlalu fokus berpikir, tanpa sadar dari tadi Daniel memperhatikan Alice.


"Hei, kamu kenapa?" Celetuk Daniel tiba² bertanya, Alice terkejut, ia tidak langsung menjawab.


"Hah... Kamu tenang saja, aku sudah punya rencana yang matang. Kamu tidak perlu susah² berpikir keras untuk mencoba menebak sekiranya rencana apa yang aku miliki." Daniel sedikit tertawa karena ia bisa menebak apa yang dipikirkan Alice, itu membuatnya terkejut karena Daniel bisa mengetahui apa isi pikirannya. Alice tersenyum masam karena itu.


"Kamu memperhatikan ku dari awal, kan?"


"Tentu.."


"Bukankah kamu harus terus mengawasi pergerakan pak Roy?


"Membosankan, hasilnya tetap sama, tidak terlalu signifikan. Seperti biasa sangat pasif.."


"Hah...."


Aku tak punya pilihan lain kecuali mempercayainya. Sedikit demi sedikit, melihat penampilan kacau sang lawan. Membuat kemenangan menjadi semakin jauh. Tapi, untuk sekarang aku melakukan apa yang aku bisa. Tidak diragukan lagi kalau guruku, telah mencapai batasnya. Terkadang, dengan tindakan anehnya, dia menunjukkan kalau dia kehilangan akalnya.


POV : Pak Roy...


Note : "[.... ]" Berbicara dalam hati


"[Orang itu....... Pasti punya semacam kartu truf.]" Pak Roy mengingat kembali perkataan dan ekspresi Daniel yang sangat percaya diri itu. Tentu hal itu membuatnya dia heran sekaligus gelisah, takutnya apa yang dikatakan Daniel ada benarnya..


Apa itu hanya sebuah gertakan saja? Walaupun itu mungkin ada benarnya, tapi sebaiknya hal itu dikesampingkan terlebih dahulu. Gua harus bisa menebak apa yang direncanakan si Daniel itu..

__ADS_1


"[Bagaimana??? Bagaimana dia bisa brangkas ini?? Jangan bilang.. Kalau dia sudah tahu nomor kombinasi brankasnya. .??! Tapi itu tidak mungkin, tidak mungkin dia tahu! Meski dia tahu kombinasinya, brankas ini tidak bisa dibuka begitu saja. Dia butuh kunci! Dan kuncinya hanya gua yang punya.]" Pak Roy merogoh kantongnya untuk mengecek sekaligus memastikan kuncinya ada di dalamnya.


"[Mau dipikirkan sebagaimanapun, ini tidak bisa dibuka! Selain dibuka dengan kekerasan. Eh...!! Tunggu, jangan² dia berniat membukanya dengan paksa!!? Hmmm.. Membukanya dengan paksa... Itu tidak mungkin menghancurkan sesuatu yang kokoh seperti ini. Baiklah, kalau gua ingin membuka brankas ini... Ya... Satu-satunya cara adalah membakar pintunya dengan obor las. Tunggu! Oh iya, obor las! Itu pasti mungkin!]" Pak Roy membayangkan Daniel sedang memegang obor las. Merasa itu mungkin bisa terjadi dan masuk akal, Tiba-tiba pak Roy berdiri dan mondar-mandir panik sembari memikirkan apa yang harus dilakukan.


Disisi lain, Alice dan Daniel melihat ekspresi wajah pak Roy terkadang berubah². Alice merasa semakin aneh dengan gelagat pak Roy. Daniel tertawa kecil melihat tingkah pak Roy.


"[Astaga! Dia akan melas pintunya ketika gua tidur. Tidak akan gua biarkan!]" Tiba-tiba Pak Roy berlari menuju ke dapur untuk mencari dan membawa sesuatu, dari sudut pandang Alice dan Daniel, mereka hanya melihat pak Roy lari saja entah kemana. Namun, tak berselang lama dia pun kembali ke kamarnya, kedatangannya kembali membuat Alice merasa aneh sekaligus terkejut dengan apa yg dilakukan pak Roy. Daniel lagi² hanya tertawa saja melihat itu.


Pak Roy kembali dengan membawa pisau buah dan golok di kedua tanganya, ia duduk kembali di depan brankas layaknya seorang prajurit yg sedang menjaga pintu kamar sang raja.


"......." Alice tidak mengatakan apapun, ia mencoba mencerna apa yang dipikirkan pak Roy.


"Hahhaa.. Lihat... Apa yg sedang dia lakukan?"


"[Majulah kalo berani! Ketika kau kemari, maka gua akan mengusir lu dengan golok gua! Tapi, tunggu.. Apa dia benar-benar akan menghancurkan brankasnya disini? Meski dengan obor las terkuat sekalipun, setidaknya butuh waktu 20-30 menit... Jika dia akan melakukan nya sampai sejauh itu.. Dia akan membawa dan menghancurkannya di suatu tempat. .. Pasti begitu!! Tapi, tidak, tidak, tidak mungkin... Berat brankas ini 190 kilo, tidak mungkin bisa dibawa oleh satu orang saja.. Oh ya!! Siapa bilang dia sendiri!!]" Pak Roy membayangkan beberapa orang suruhan Daniel yang akan membawa brankas itu secara paksa. Karena hal itu, lagi² pak Roy berlari keluar kamar. Dan saat kembali ia membawa rantai di tangannya.


"(Ohh tidak!! Gawat!!)"


"Hehehe... Pasti dia akan melakukan hal konyol lagi.."


Beberapa saat kemudian...


Tek! Tek! Tek! Krenggg!!!


"Bu-bunya apa itu??" Tanya Alice kepada Daniel. Daniel tertawa terkekeh-kekeh, ini membuat Alice bingung. Apa ada yang lucu? Daniel meminta maaf karena dari tadi ia tidak berhenti tertawa, mungkin saja Ini membuat Alice bingung sekaligus terganggu.


"Dia berpikir kalau akan ada beberapa orang yang akan membawa keluar brankasnya. Tidak hanya merekatkannya, dia juga melilitnya dengan rantai. Heh.. Dia hanya buang-buang waktu." Kata Daniel dengan santainya


melihat wajah Daniel yang penuh percaya diri, aku sangat tertolong. Kalau tidak ada dia.. Aku mungkin akan menjadi gila seperti pak Roy. 25 hari telah berlalu semenjak permainan dimulai. .


Tinggal 4 hari lagi Sebelum permainan berakhir...


Suatu ketika, pak Roy membuka pintu dengan sangat hati-hati, sebelum keluar ia celingak-celinguk untuk memastikan bahwa tidak ada siapa² atau tidak ada yang melihatnya. Merasa sudah aman, pak Roy berjalan cepat menuju kotak pos. Ia sudah lama tidak keluar rumah hampir 2 minggu, hanya sekedar untuk mengecek kotak pos. Saat dicek kotak posnya, terdapat surat berwarna hitam diantara surat berwarna putih. Tentu dengan cepat, pak Roy membawa masuk dan membacanya ketika sudah dikamarnya. Suratnya bertuliskan:


...4 hari tersisa sampai ...


...permainan berakhir....


Achmad Roy : + 10.000.000.000


Aiyla Alice Caira: - 10.000.000.000


Pada 14 juni pukul 17.00, kami akan Mengirim seseorang untuk mengambil uangnya. Pada saat itu, permainan akan berakhir.


"Artinya, tinggal 90 jam lagi!!!" Pak Roy mengecek jam ditangan nya di perasaan mulai gembira karena sebentar lagi 10 miliar akan menjadi miliknya.


"Hehehe.. Jika aku bisa bertahan 90 jam lagi.... 10 miliar itu akan menjadi milikku!"


Tentu saja aku juga mendapatkan pemberitahuan itu..


"Tinggal 4 hari lagi... Jam 5?! Uh.. A-Apa yang harus kita lakukan??" Tanya Alice mulai khawatir karena waktu yang semakin mepet. Daniel menjawab dengan santai.


"Tidak ada.. Tetap lakukan Apa yang sedang kita lakukan. Awasi pak Roy setiap saat untuk membuat nya tertekan.".


" Tapi..."


"Itu akan baik-baik saja. Aku telah menyihir brankas itu. Ketika saatnya tiba, brankas itu akan terbuka lebar.


"???" Aku bingung dengan perkataan Daniel. Menyihir? Itu tidak mungkin. Pasti dia sedang bercanda, namun buat apa ia bercanda disaat kondisi seperti ini? Ah pasti dia berbohong...


Waktu berlalu begitu saja dan terasa cepat, membuat ku semakin cemas. .


3 hari lagi sampai permainan berakhir....


"Ti-ti-tiga hari lagi!!! Harus bertahan selama tiga hari!!" Terlihat pak Roy menggunakan seluruh tenaganya sampai titik darah penghabisan, sedangkan Alice hanya mengawasinya saja, karena itu diperintahkan oleh Daniel, namun tak melakukan apapun yang secara signifikan membuatnya semakin cemas.


2 hari lagi sampai permainan berakhir...

__ADS_1


Daniel meminta izin kepada Alice untuk keluar sebentar untuk bertemu dengan temannya. Kini semakin lama Alice pikirannya semakin tidak jernih dan stress. Daniel tahu akan hal itu, namun untuk membangkitkan semangatnya itu, Daniel hanya berkata template seperti biasa. "Kau tidak perlu khawatir, aku punya rencana."


"Mau ngapain?? Apa kamu ingin bermain??" Tanya Alice, sepertinya dia akan ngegas, Daniel mengerti. Kelihatan dari nada dan raut wajahnya yg tidak senang seakan Daniel tidak serius untuk membantunya.


"Hahh aku mengerti, aku bertemu dengan temanku untuk sekedar meminjam baju, untuk apa? Karena itu merupakan bagian dari rencana kita, baju yang akan ku pinjam ini peran nya cukup penting. Jadi, tenang saja... Kau hanya perlu melihat nya." Setelah mengatakan hal itu, Daniel beranjak keluar dari rumah tanpa mendengar jawaban dari Alice.


23 jam lagi sampai permainan berakhir.....


15 jam lagi sampai permainan berakhir....


"Tinggal setengah hari lagi.. Terbuka lebar?? Bisakah dia melakukannya?"


5 jam lagi sampai permainan berakhir...


"Sedikit lagi!! Sebentar lagi 10 miliar itu akan menjadi milikku! !


Sampai permainan berakhir.... Tinggal tersisa 55 menit lagi ....


Alice berlari keluar rumah menuju rumah pak Roy dengan matanya yang berair.. Ya, dia menangis..


" Dengan begini aku akan kalah!!"


"!!!"


"Daniel!! Tolong aku!! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!!" Alice berteriak mencari Daniel tepat di depan jendela kamar pak Roy, Alice berpikir bahwa Daniel berada di sekitar rumahnya dan sekaligus mencoba keberuntungan terakhir untuk memohon kepada pak Roy.


Jreg!!! (Jendela yang digeser sangat keras)


"HAHAHA! SUDAH KUDUGA!! MEMBUKA BRANKASNYA?? ITU HANYA OMONG KOSONG!!" Teriak pak Roy kepada Alice yang kondisinya kini sangat menyedihkan, pak Roy semakin yakin bahwa ia akan menang. Karena pak Roy membuka jendelanya, ini kesempatan terakhir Alice untuk meminta maaf sekaligus memohon kepada pak Roy.


"Aku minta maaf pak karena terus mengawasimu selama sebulan ini.. Jadi kumohon padamu.. Kembalikan 10 miliar kepadaku. Pak kumohon tolong aku pak! Tol--"


"Aku tidak peduli!! Enyalah!!" Tiba-tiba saja wajah Alice ditampar dan didorong menjauh dari jendela oleh pak Roy.


"Kyaa!"


Bruk!!


Ketika Alice terjatuh, dengan cepat pak Roy menutup kembali jendelanya, Alice langsung bangkit berdiri dan mengetuk beberapa kali jendela diiringi dengan tangisan ku yang tidak dapat ditahan lagi, aku tetap berusaha terus meminta tolong kepada pak Roy.


"Pak!! Tolong aku pak!!"


"Hehehe!! 45 menit lagi!"


Tek! Tek! Tek!


"Pak!! Tolong aku pak!! Maafkan aku!!"


"Tinggal 30 menit!!!"


"Pak!!"


"15 menit lagi!!!"


"Pa.. Pak! Pak.." Aku mulai lelah, suaraku mulai habis dan mataku mulai membekak akibat menangis cukup lama.


Tek! Tek! Tek!


"1 menit lagi......!!!!!!!"


"!!!" Aku pasrah mendengar hal itu, yang dipikiranku saat ini hanyalah ketika aku mendapatkan hutang yang begitu besar.. Jika diketahui oleh ayahku, tentu membuat syok (shock) uang sebanyak itu bagaimana cara ia membayarnya?


"5, 4, 3, 2, 1..!!!"


Ting!!!


"AKU MENANG!!!!!!!!"

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2