
Tanpa peduli dengan tanggapan pak Roy, Alice berlari meninggalkan rumah pak roy begitu saja..
Aku sudah memutuskan untuk 'bertempur' dengannya, menangis tidak akan menyelesaikan apapun. Selain itu, aku mempunyai rekan yang kuat. Si penipu jenius yang pernah membuat bangkrut sebuah perusahaan besar mengatakan kalimat itu dengan percaya diri
"Aku punya rencana" kata Daniel dengan yakin.
entah berapa lama Alice sudah berlari, konsentrasi Alice terganggu karena memikirkan kembali kata² Daniel diwaktu kemarin.
.
.
.
Di hari sebelumnya, ketika mereka turun dari kereta. Daniel berniat untuk mengakhiri pertemuan ini distasiun dan pulang kerumah masing². namun Alice tidak menyetujui nya. Sesungguhnya waktu itu Daniel tidak menunjukkan tanda² ingin berpisah dengan Alice, namun Alice dengan instingnya menyimpulkan bahwa saat mereka turun nanti akan mengakhirinya hari ini dan dilanjutkan dibesok hari.
"Hei, tunggu.. ehmmm.. anu... Apa kamu berniat untuk beritahu tentang apa rencanamu?" dengan suara yg pelan Alice bertanya kepada Daniel, Alice menarik baju bagian bawah agar Daniel setidaknya berhenti berjalan dan menanggapinya.
"??" Namun, ternyata diluar dugaan Alice. Daniel melirik kebelakang, mengangkat sedikit kepalanya dengan tatapan matanya seakan bertanya "Ada apa?"
tanpa memberhentikan kakinya.
"Aku ingin bertanya dan memastikan sesuatu.." suaranya lirih, Alice berhenti berjalan tatapan matanya mengarah kebawah melihat sepatunya sedikit kotor, jika dilihat dari sisi Daniel seperti orang bersedih atau menyesali akan sesuatu.
Daniel menoleh kebelakang, tanpa membalikkan posisi badannya ke arah Alice, Daniel bertanya dengan cuek.
"Ada apa? apa kakimu sakit karena berjalan? ata---"
"Kamu ingin mengatakan rencanamu sekarang, kan?" Alice mengangkat wajahnya dan menatap Daniel yg berjarak diantara mereka mungkin 5 meter. matanya berkaca-kaca seakan ingin menangis
"Tentu, tpi di apartemenku" Daniel mengangguk dengan senyum tipisnya, mendengar hal itu Alice sedikit merasa lega karena jika Daniel tidak mengatakan rencananya Alice akan sulit untuk tidur karena dipikirannya terngiang-ngiang apa yg direncanakan oleh Daniel, rasa penasarannya melebihi rasa kantuknya.
[Hhhh... jika aku mengatakan hal yg berlawanan dari perkataannya atau beragumen terus dengannya maka akan membuang² waktu, sebaiknya aku menuruti perkataan dia terlebih dahulu. yeah, Aku mengerti keadaannya.. Suasana hati dan pikiran yg tidak normal membuat dia panik, khawatir dan gelisah. apa mungkin dia baru pertama kali mengalaminya? hmmm, dari gelagatnya mungkin ini bukan yg pertama kali baginya, namun hal ini lebih parah dari sebelumnya. Semoga dengan aku mengatakan rencanaku membuatnya sedikit lebih tenang dari sebelumnya, namun aku tidak berani menjamin 50% dia akan seperti itu. karena aku akan mengatakan rencanaku secara bertahap jadi lebih tepatnya tidak semuanya aku memberitahunya. ya, karena rencanaku mungkin saja bisa berubah kedepannya seiring berjalannya waktu dan aku tidak mau membuatnya menjadi khawatir, mulai meragukanku dan mulai tidak mempercayaiku karena rencanaku selalu berubah-ubah.]
setelah mengatakannya Daniel bermonolog, antara tidak sadar atau lupa bahwa dia sedang bersama dengan orang lain, terkadang dia suka bermain dengan pikirannya disaat sendiri sampai lupa waktu, jika tidak diingatkan ataupun diganggu maka ia terus berpikir. bahkan saat Alice berbicara dengannya Daniel tidak merespon. Alice melihat Daniel seperti orang sedang berpikir, jari telunjuk tangan kanannya ditekuk yang berada di tengah² garis bibirnya yg rapat diikuti jempolnya yg berada di bagian bawah bibirnya.
Sepertinya Alice terlalu memperhatikan wajah Daniel terutama di bagian bibirnya, Alice menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa tersipunya lalu Alice berjalan mendekat ke arah Daniel, kini jarak mereka hanya berbeda satu langkah saja. walaupun sudah dekat Daniel tidak sadar juga. Alice melambaikan tangannya didepan mata Daniel, blum sadar juga. Akhirnya, Alice menggunakan cara terakhir yaitu mengguncangkan tubuh Daniel dan itu efektif.
"Hei! kamu baik² saja kan? kamu melamun dari tadi loh.." Alice berkata sambil mengguncangkan tubuh Daniel dan akhirnya sadar juga.
"Eh?" Daniel terkejut, lengan kedua tangannya dipegang oleh Alice tanpa sepengetahuan nya. [ ah.. aku tidak menyadarinya, aku melamun sepertinya ]. Dengan buru² Daniel mundur dari Alice 1 langkah dan itu membuat genggaman tangan Alice terlepas dan jarak kalian normal kembali tidak terlalu dekat.
"Maaf, aku tadi melamun... jadi, tadi kau ngomong apa?" Daniel membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda minta maaf. Karena merasa tidak enak, Daniel bertanya tentang apa yg Alice katakan disaat Daniel melamun..
"ah, tidak perlu sampai membungkukkan badan mu, aku maafkan kok.." sebelum melanjutkan perkataannya, Alice sekilas tersenyum kepadaku dan tak berselang lama ia melanjutkan lagi.
"Ah klo itu tidak terlalu penting. hmm.. bagaimana kalo kita sebaiknya langsung pergi ke apartemen mu? Aku takut klo kita terlalu malam.."
Alice mengalihkan topik pembicaraan, Alice berbicara dengan mata tidak menatap Daniel, tapi Daniel merasa lega. Daniel pun setuju dan akhirnya kalian pun berjalan menuju Apartemen Daniel.
Selama perjalanan tidak ada yg mengobrol membuat suasana menjadi hening dan canggung ditambah lagi posisi jalan Alice dan Daniel yg berdampingan. Alice pun berpikir, namun saat lagi berpikir Daniel sedikit menggerakan kakinya ke arah kanan otomatis Daniel sedikit menjauhi Alice.
"...." menyadari hal itu Alice menoleh ke Daniel dengan heran, Daniel mengetahui tatapan itu pun diam saja tetap berjalan dengan pandangan lurus kedepan.
[ Sial, aku benci dengan suasana ini, hhhh..]
Daniel tanpa sadar menghela nafas panjang.. untungnya tak berselang lama dari itu mereka pun sampai di apartemen, tak butuh waktu lama mereka naik lift sampai didepan kamar Daniel.
"..."
"pe-permisi.."
"Baiklah, kau duduk disitu dulu, kau mau minum apa?" tanya Daniel tanpa melihat ke arah Alice hanya menunjuk ke arah tempat untuk Alice duduk.
"Air putih saja.." Alice berkata sambil beranjak menuju tempat yg ditunjuk Daniel.
"hm.."
5 menit kemudian....
"Nih... maaf tidak ada yg lain.." kata Daniel cuek sambil menaruh gelas berisi air putih. Alice tersenyum masam
"Ah tidak apa-apa.." Alice pun minum air yg diberikan Daniel. yg terdengar saat itu hanya suara tegakan air yg diminum Alice. untuk menghilangkan suasana hening, setelah minum Alice bertanya.
"Jadi apa rencanamu?" dengan mengubah posisi duduk Alice menjadi serius.
"ini sangat mudah, ada 2 hal yang harus kita lakukan hanya dengan itu, kita bisa mendapatkan uang kembali. Pertama katakan dengan jelas kepada lawanmu kalau kau sudah memutuskan untuk bermain dipermainan ini. Dan yang kedua, cermati terus lawanmu setiap saat."
"Hanya itu saja.... rencanamu?" Alice mengerutkan keningnya tidak yakin dengan rencana Daniel, masalahnya tidak dijelaskan rencana mengenai bagaimana cara mengambil Uang tersebut.
"Benar itu saja."
"..."
"hhh... Percaya padaku, aku akan membantumu, tenang saja." Daniel dengan santai menyeruput minuman yg ada di gelasnya.
"Sudah terlalu malam, kau mau menginap disini terlebih dahulu hanya untuk 1 malam?"
"ah, Terima kasih atas tawarannya. tapi sepertinya aku pulang saja, aku udah banyak ngerepotin ka--"
"klo begitu aku akan pesan Taxi untuk mu." Daniel berkata sambil merogoh hp di saku kanannya. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu keluar menjauhi Alice. hpnya diletakkan disamping telinganya.
"halo"
"...."
"ya..tolong datang ke Apartemen B dijalan Xyz....."
__ADS_1
"...."
"Ya, Makasih.." Daniel menjauhkan hp dari telinganya. Tanda dia mengakhiri panggilan, Alice menghampiri Daniel yg masih berada di sudut ruangan.
"Daniel, maaf sepertinya aku harus pulang, sudah terlalu malam.. Terima kasih untuk hari ini." Alice tersenyum kecil kepada Daniel.
"Kalau begitu, Aku antar kau sampai bawah.. jangan menolak.." Daniel berkata sambil berjalan menuju pintu membelakangi Alice, Alice hanya menurutinya saja.
Cklek... ( pintu kebuka )
Daniel berjalan keluar dari kamarnya diikuti dengan Alice, Daniel tidak mengunci pintu kamarnya hanya sekedar menutupnya saja. Alice yg melihat Daniel pergi begitu saja pun berjalan disampingnya.
"Kamu tidak mengunci pintu kamarmu? kan bahaya takut ada pencuri yg masuk.." tanya Alice, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Alice memikirkan hal² buruk yang akan terjadi..
"Tenang saja.."
"Tapi.. tetap saja aku khawatir.."
"Tidak ada barang yg berharga dikamarku.. paling yg berharga, barang yg kubawa saat ini." Daniel menunjukkan barangnya di hadapan Alice. Sebuah hp dan dompet, itu saja barang yg berharga katamu?!
"kita turun lewat tangga saja.."
Telunjuk daniel menunjuk ke arah tangga yg tidak jauh dari mereka. Alice bingung kenapa Daniel menyuruh lewat tangga padahal sebelumnya kita menggunakan lift. Posisi Lift berada disamping kiri kalian, namun Daniel tetap berjalan lurus ke arah tangga.
Alice pun bertanya dengan heran. "Kenapa gk lewat lift aja? padahal lebih cepat sampai.." Tanya Alice dengan membandingkan dua persoalan yg mana lebih baik..
"Terkadang Lift disini suka ngaco." seru Daniel.
kini kalian sudah dekat dengan tangga itu, kondisi tangga yg bener² membuat Alice terperangah dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, keramik ditangga itu retak ada juga yg terlepas, ada beberapa atap yg bocor jika hujan air perlahan masuk menetes di bagian atas keramik membuat kondisinya menjadi licin dan menggenang. warna cat pada tembok mulai luntur akibat terlalu sering terkena air. banyak lumut pastinya.
"Ka-Ka-Kamu yakin lewat tangga ini?" Alice merasa ragu, ditambah lagi suasana ditangga itu sangat horor menurut nya.
"Ya, hanya tangga ini saja." Daniel menghiraukan Alice yg masih ragu dan takut, perlahan ia mulai turun menginjaki anak tangga sedikit demi sedikit. Alice yg ditinggalkan mau gk mau juga ikut turun lewat tangga. baru 1 anak tangga Alice mendengar suara.
Tap! Tap!
Alice mematung sejenak seraya mencerna suara apa yg tadi ia dengar, Ia menoleh kebelakang. Tidak ada apa².
"Ah paling cuma Halusinasi ku."pikir Alice dalam hati. ia berniat melangkahkan kakinya kembali namun belum menyentuh anak tangga ke-2 ia dengar suara lagi tapi ini berbeda.
Trang!! Bruk!!
Srekk..... Srekk....
Alice mendengar suara seperti benda jatuh dari belakangnya... baru dengar beberapa detik terdengar kembali suara, sepertinya plastik. Alice kembali menoleh kebelakang untuk memastikan. Namun, ternyata tidak ada apa-apa. lorong yg dilihat Alice sangat panjang dan lampunya remang² jadi gk begitu terang. melihat lorong itu membuat Alice merinding karena selain lorong yg gelap, diujung lorong ia melihat samar² siluet seseorang. yang terlihat hanyalah sebagian dari tubuh sosok itu.
"itu orang kan? atau--"
"oi"
"Waaa...!!!??? Hggmmmhh!!??"
Alice kini tenang tidak memberontak, ia pikir yg membekap nya orang jahat tapi ternyata bukan itu ulahnya Daniel. Karena sudah tenang Daniel melepaskan bekapannya dan mundur dari Alice beberapa langkah.
"huh...... Aku kira siapa tadi.." Alice menghela nafas lega, kedua tangannya berada didadanya karena syok (shock), Daniel menatap Alice dengan datar.
"Hhh... sebaiknya kita harus cepat, sebelum terlalu malam."
"I-Iya.."
Sesampainya diluar apartemen, Ada sebuah mobil biru yg terparkir. Daniel berlari kecil kearah mobil biru itu, begitu juga dengan Alice.
"hhh.. ini Taxinya.. cepat masuk.." Supir yg mendengar perkataan daniel dari dalam mobil pun sontak keluar dari mobil sekedar untuk membukakan pintu untuk Alice. Alice tersenyum kecil kearah pak supir.
"Makasih.. pak.." Alice berkata seraya memasuki dirinya ke dalam mobil ia duduk diposisi depan bersebelahan dengan supir.
"I-iya Mbak.." pak supir membalas dengan nyengir. Ia menggaruk kepala bagian belakang yg tidak gatal itu. setelah menutup pintu, Supir itu menoleh ke arah Daniel.
"(Sugar)"
Supir itu berkata lirih menatap Daniel, Daniel gk tau apakah supir itu berbicara dengannya atau dia berbicara sendiri. Namun, walaupun begitu Daniel mengetahui maksud dari si supir berkata kaya gitu. Berhubung dia belum berbicara lagi, buru-buru Daniel membalikkan badan si supir dan mendorongnya, bermaksud untuk cepat jalan agar Alice tidak curiga dan tidak menunggu terlalu lama. Setelah dikasi kode, supir pun mengerti dan masuk kedalam mobilnya. beberapa detik kemudian mobil pun nyala dan mereka pun pergi.. perlahan tapi pasti meninggalkan Daniel berdiri sendirian disana.
.
.
.
"Mbak mau turun dimana?" tanya sang supir untuk memecahkan keheningan yg sangat mendominasi itu. Alice menjawab dengan menatap ke arah supir.
"ah iya, tolong antarkan aku ke kota C, jalan B."
"baik" supir mulai mengencangkan kecepatan mobil setelah mengetahui jarak dan tempat tujuan.. untuk menghindari keheningan lagi, si supir menyalakan radio dimobil, ya setidaknya ada suara disaat itu selain suara mobil.
Ah dasar tolol! bukan dari tadi nyalainnya, hhh.... walaupun begitu tetap saja ada rasa kecanggungan disini.
Si Supir merasa masih ada yg kurang, ia berusaha memutar otaknya untuk mendapatkan topik untuk dibicarakan, karena sebenarnya ia tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.
padahal sebelumnya gua lancar² aja tuh ngobrol sama orang lain disamping gua tanpa merasa canggung atau bahkan gk kehabisan topik pembicaraan. pasti ada aja yg dibicarakan.
karena terlalu sibuk bicara sendiri, si supir yang bernama (Riki) hampir saja menabrak seekor kucing yg tengah menyebrang. Alice dari kejauhan sebenarnya sudah melihat ada kucing yg sedang menyebrang, ia pikir si supir juga melihat dan akhirnya menurunkan kecepatannya. Tetapi, ini diluar perkiraan Alice, mobil ini bukannya mempelankan laju malah semakin cepat.
Karena kondisi mobil yg semakin cepat dan jarak mobil dengan kucing semakin dekat, dengan terburu-buru Alice berteriak kpd si supir untuk menghentikan mobilnya. karena dikagetkan oleh Alice dengan cekatan si supir (Riki) mengerem mendadak dan membanting setirnya ke kiri.
Ciiiiitttttt!!!!!
Kejadian itu berlangsung sangat cepat, untungnya masih sempat untuk berhenti kalau tidak takutnya kucing itu tertabrak. jarak diantara mereka tidak begitu jauh, tak berselang lama kucing itu berlari kearah semak² di pinggir jalan dengan sangat cepat.
__ADS_1
Alice sempat melihat kucing itu pergi, Alice menghela nafas lega begitu juga dengan Riki.
"Pak Riki tidak apa-apa kan? atau ada luka?" Alice bertanya khawatir dengan kondisi pak Riki, soalnya pak Riki terlihat lemas seperti belum makan seharian terlebih lagi ia setelah memberhentikan mobil terus memenjamkan matanya.
Pak Riki yang ditanya mendadak begitu oleh Alice pun kembali membuka matanya sekaligus membenarkan posisi duduknya.
"Eh... saya gakpapa kok mbak, seharusnya saya yang bertanya dan khawatir dengan kondisi mbak.."
"Saya minta maaf mbak karena tadi bawa mobilnya terlalu cepat dan tadi juga saya gk terlalu fokus memperhatikan jalan.." Lanjut Pak Riki, Ia menundukkan kepalanya kearah Alice dengan perasaan bersalah. Selain itu, ada perasaan yang janggal di hati si Riki yaitu, ini pertama kali baginya berbicara dengan sangat formal dengan penumpangnya. Ya walaupun begitu, bukan berarti dia tidak berbicara formal kepada penumpang selain Alice. Melainkan pemilihan kata-katanya semua baku.
"I-iya pak saya maafkan..." Alice tersenyum kecil kepada pak Riki, membuat membuyarkan lamunannya.
"I-iya mbak Terimakasih, kalau begitu kita kembali melanjutkan perjalanan.." Ujar Riki seraya tangannya menyalakan mobil yg tadi sempat mati.
"Tentu..."
mereka kembali bergerak... Singkat cerita Alice pun sampai ketempat tujuan nya.
"uangnya blum kan pak? " tanya Alice, tangannya memasuki setiap celah yang ada di tas kecilnya, pak Riki yang mendengar hal itu pun mencegah Alice agar tidak perlu membayar..
"Su-sudah kok mbak sama Mas nya tadi." Jawab Riki sedikit gugup.. Alice yg mendengar hal itu kembali bertanya untuk meyakinkan.
"Beneran pak?"
"Iya beneran kok mbak.. buktinya ini duit dari si Mas.." Pak Riki mengeluarkan uang dari saku yang beralasan itu uang dari Daniel.
"Begitu ya pak, kalau begitu Terimakasih banyak pak..." Alice berkata dengan lembut seraya mengeluarkan dirinya dari mobil, ia menutup mobil dengan pelan.
Tutur kata yg lembut dan baik.... hahhhh.......
Beberapa saat kemudian..
Ting! (Notif hp)
"Gua dah nganterin dia.. "
"Ok"
"Bree itu temen atau pacar lu? Klo pacar kayanya gk mungkin.. "
"Bukan."
"Lah terus siapa? Dh gitu dia dari apartement lu lagi, apa jangan²... "
"Dia bukan kaya apa yg lu pikirin.. "
"Heheh, abisnya klo iya gua mau..(´・ω・`) "
"Gini...... "
Daniel menceritakan beberapa hal kepada Riki tentang Alice dan juga bagaimana mereka bisa saling kenal, Daniel tidak menceritakan tentang 'Game Deception' kepada Riki, karena takut nya Riki akan ikut berpartisipasi dalam game itu karena mengetahui jumlah uang yg besar apalagi dia orang yg kurang mampu..
"Owhh gitu, enak bet lu bisa kenal ama dia, cantik, baik, manis pula. Jackpot!! "
"Oh ya, jangan lupa bayaran yang tadi nganterin Alice, hehe.. "
"Emng dia gk bayar? "
"Bukan gk mau bayar, tapi gua yg nolak soalnya tadi gua bawa mobilnya gk bener bikin dia celaka, jadi sebagai gantinya gua gratisin dia.. "
"Ohh yaudah gk usah bayar.. "
"Enak aja lu, lumayan itu jarak nya 20km masa iya kaga ada bayaran.. -_-"
"Ok nanti gua bilang ke Alice.. "
"Yeee jangan donk! Kok lu gitu sih! Nanti muka gua mau taro dimana?"
"Kan urusannya ama Alice.."
"Lu yang mesen jadi harus bayar.. "
"Cuma mesen bukan berarti bayar, yg lu anterin kan bukan gua, klo makin perpanjang nanti gua kasih tau Alice. "
"Hhhhh parahhh! Iy dah gk usah bayar-_-"
Chatan mereka pun berakhir, Daniel melihat jam di Hpnya yg menunjukkan pukul 23.45. Ia pun bergegas ke toilet untuk buang air kecil setelah itu bersiap² untuk tidur, namun bukannya tidur pikiran Daniel masih saja memikirkan Alice dan juga masalah yg dihadapinya..
"Game Deception.... " Gumam Daniel.
"[Berdasarkan isi surat 'Game Deception' mereka memilih para pemain secara acak jadi tidak bisa diprediksi atau ditentukan. Namun, menurut gua itu tidak benar mereka pasti memilih pemain berdasarkan status sosial, tingkat ekonomi atau finansial pemain tersebut. Semakin rendah maka kesempatan untuk menjadi pemain 'Game Deception' semakin tinggi. Bisa juga karena keadaan, kondisi dan situasi pemain yg sedang membutuhkan uang disaat 'gentingnya'. Karena Alice pernah bilang bahwa ayahnya sakit kanker dan dia sangat membutuhkan uang untuk berobat ayahnya, apalagi saat itu kondisi ayahnya sudah kanker stadium akhir. Begitupun juga dengan Pak Roy, ia seorang pengangguran, memiliki reputasi dan masa lalu yg buruk. Entah bagaimana caranya pihak 'DGT' bisa mengetahui keadaan dan masa lalu dari pemain sehingga mereka bisa menentukan siapa yg berpartisipasi di 'Game Deception' . Sial, takutnya Riki juga jadi sasaran dari pihak 'DGT' .]" Decak Daniel, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk membuyarkan pikirannya, ia pun tertidur menghadap tembok.
Keesokan paginya...
POV Alice....
Itulah mengapa aku bertemu pak Roy hari ini dan mengatakan kepadanya kalau aku akan bertempur. Aku mengamati rumahnya dari kejauhan.
"Tapi, apakah hanya dengan ini kita akan mendapatkan 10 miliar?" Batin Alice.
Aku dan Daniel bergantian mengamati rumahnya selama 24 jam, aku dari jam 3 siang sampai 10 malam dan Daniel sisanya. Kami mengamati rumahnya dari dalam mobil yg tidak jauh dari rumahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan dari warga setempat.
Tek! Tek!
"Ya kerja bagus, waktunya untuk gantian. " Daniel mengetuk jendela mobil dengan senyum kecilnya. Alice segera keluar dari mobil, setiap mereka ganti shift Daniel selalu menanyakan hal yg sama..
"Terjadi sesuatu?"
__ADS_1
Bersambung...