Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
1


__ADS_3

“Sial!! Pantatku terbakar!! Tolong!!”


“Tolong, buatlah api ini berhenti untuk membakar pantatku!’


Dengan wajah yang tak enak dilihat, mata yang dipenuhi dengan airmata yang menggenang juga ingusnya yang keluar dari dua lubang hidungnya. Felix mencengkeram kuat pantatnya erat sambil bergulin-guling di lantai, meninggalkan jejak darah yang keluar dari lubang intinnya. Dia tersiksa, tentu saja! Siapa yang tidak tersiksa dengan pantatnya yang terbakar. Siapapun pasti akan menangis dan tak kuat menahan rasa perih juga panas yang bercampur itu.


“Perih sekali, sial. Kenapa hidupku sangat sial, menyesatkan!”


Felix tak hentinya menangis, dia terus mengerang kesakitan namun harus dia tahan bagaimanapun juga itu sudah terjadi. Tangisannya pun terhenti, kini jeritannya yang mulai menggema tanpa henti. Di dalam aula kolosal yang berlantai kayu, menggunakan ubin yang dilapisi permata berwarna dan dinding yang di warnai dengan warna kuning keputihan.


Cahaya terang yang ada di dalam ruangan tidak hanya menerangi dinding saja tapi juga menerangi semua yang ada do dalam aula hingga semua sudut terlihat jelas juga detail, tak ada kegelapan yang datang setitikpun.


Dimulai dengan patung prajurit yang berdiri tegak di sudut aula, masing-masing memegang senjata yang berbeda jenis dengan satu tangan mereka, terlihat sangat gagah berani ketika memegangi senjata, melihatnya saja sudah membuat bergetar.


Sementara itu, lengan mereka yang lain dilengkapi oleh rantai berwarna keunguan yang menggulung mengikat lengan bawah mereka, tampak seakan mereka seperti sedang mencoba untuk mengenggamnya, merenggut nyawa mereka sendiri.


Keempat rantai itu berwarna keunguan, rantai yang terhubung pada salah satu plafon kecil yang berada di tengah-tengah aula. Mereka membelenggunya dengan begitu erat, hingga di tempelkan di udara tanpa bantuan apapun!

__ADS_1


Di permukaan peron, api yang menyala seukuran kepalan tangan transparan seperti air mengalir yang mengambang di atasnya, sementara di bawanya terdapat dua mayat yang tergeletak tak bergerak sedikitpun.


Yah itulah kebenarannya. Hany ada satu mayat, sedangkan yang lainnya hanyalah kerangka hitam.


Brak!!!


Gulinan Felix tak terkendali, akibat pantatnya yang terbakar. Tubuhnya terhenti mengguling setelah dia menabrak mayat yang tergeletak di sampingnya. Jika saja matanya tidak memburam karena menangis, dia sudah menjerit melihat tubuhnya menabrak mayat Kathy. Tapi karena matanya itu terus mengaliri air hingga membuat matanya membengkak dan memburam dia tetap melanjutkan gulingannya itu, menyalurkan rasa sakit juga perih yang dia rasakan setiap kali berguling kesana dan kemari, setidaknya dia dapat menyalurkan rasa sakit dan panasnya itu.


Rekan klannya bergabung dengan rombongan eksplorasi reruntuhan seperti dirinya. Mereka saling mencari harta karun alam dan sumber daya untuk meningkatkan jalur garis keturunannya hingga sangat panjang juga jauh. Tapi sayangnya, disini dia terbaring kedinginan dengan salah satu bola matanya yang bengkak seakan ingin terlepas dari kerangka matannya.


Sebelum kejadian pantatnya terbakar, dia telah lebih dulu merasakan matanya diserang ribuan jarum yang terbuat dari api transparan yang dikirim oleh entitas di atas peron, tentu saja itu sangat menyakitkan dan membuatnya benar-benar sangat tersiksa.


Sisi baiknya, setidaknya dia tidak mengalami nasib yang begitu parahnya. Felix bahkan sekarang menjerit kesakitan dan terus meronta seperti gadis kecil yang lolipoponya baru saja di curi seseorang. Meski jeritannya itu kesakitan dan agak terlalu menjijikan, Felix benar-benar berteriak meminta ampun tapi tetap saja namannya pantatnya baru saja terbakar, luka bakar itu pasti ada dan rasanya pastilah sangat menyakitkan, tidak dapat di pungkiri lagi.


Tak bisa lagi menahan semua penderitaan yang dia rasakan, akhirnya dia menjerit untuk yang terakhir kalinnya dengan nafasnya yang hanya tersisa separuh dia pun akhirnya jatuh pingsan, tak sadarkan diri dengan matanya yang berputar, seakan nyawanya sedang di cabut. Sungguh kasihan nasib Felix, menderita dengan pantatnya yang terbakar hebat membuatnya tak dapat lagi bernapas.


Melihat apa yang terjadi sebelumnya kepada Felix, mengulang kembali alur tujuh hari sebelum pantat Felix kebakaran (eh terbakar)

__ADS_1


***


Tujuh hari sebelumnya, kru eksplorasi klan Felix baru saja menangkap sinyal mendapatkan sejumlah energi yang cukup besar yang berasa dari planet yang hancur di dekatnya.


Mereka yang sedang dalam perjalanan menuju ke klan setelah berhasil menyelesaikan misi yang mereka susun dengan baik. Tapi, setelah mereka kembali melihat dan menelisik semua sinyal yang berhasil di tangkap, jawabannya sama sekali tidak ada tempat di neraka yang akan menjadi perjalanan mereka yang selanjutnya.


Oleh karena itu, mereka mengubah arah dan langsung kembali menuju planet tersebut. Mereka semua melakukan pendaratan di planet yang menjadi tempat tujuan mereka.


Setelah mendarat, mereka kembali tersadar bahwa sinyal yang mereka dapat, datang dari bawah kota megah setengah strukturnya itu hancur dan terkubur jauh sekali di bawah inti bumi.


Sama seperti tim eksplorasi manapun, panca indra mereka tergelitik bahwa itu adalah hari keberuntungan untuk mereka. Lagipula, mereka baru saja menemukan kota sepi yang menjadi milik salah satu ras unggut yang ada di alam semesta. Kemegahan kota meskipun telah hancur, membuat mereka mencapai pada sebuah titik kesimpulan.


Alih-alih melaporkan apa yang mereka temukan di klan mereka, seperti yang telah di ajarkan. Keserakahan mengambil yang terbaik dari mereka, membuat mereka memiliki untuk menjelajahi reruntuhan diri mereka sendiri.


Namun, kota itu sangatlah besar dan butuh waktu selama bertahun-tahun untuk dapat menjelajahi setengah perjalanan. Oleh karena itu, kapten klan mereka mengusulkan untuk dibagi menjadi tim yang masiing-masing terdiri dari tiga anggota tim.


Felix, dia bergabung dengan dua anggota lainnya yakni Kathy juga Jayden yang dengan sangat sedih Tim mereka berakhir dengan Tim yang terbakar. Mereka membentuk satu Tim yang kemudian pergi untuk menjelajah sisi barat kota.

__ADS_1


Jelas, pada hari pertama. Rombongan terbakar Felix itu sama sekali tidak menemukan sesuatu yang dapat menarik dan yang menjadi tujuan Tim mereka. Meski demikian, mereka Tim yang hebat tidak akan menyerah pada apapun sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka tetap bersemangat, sama sekali tidak terpikir untuk menyerah begitu saja, karena mereka mencari jalan yang mengarah ke bawah tanah dan sangat berharap menjadi yang pertama mencapai tempat dimana sinyal itu berasal.


__ADS_2