
Dia terus melihat ke arah tempat yang sama dan langsung membuat cermin yang memperlihatkan semua yang terjadi itu di runtuhkan.
‘Menarik, penyihir itu akhirnya menemukan jiwa yang cukup cocok untuk mempertahankan jiwanya yang tidak tahu malu tanpa serangan balik.”
Dia kemudian mulai tertawa terbahak-bahak setelah melihat Felix meledakkan dirinya karena di permalukan seperti itu.
“Hahahaha, kamu pantas mendapatkannya, dara. Jika orang tua berkabut itu melihat apa yang kamu lakukan, mereka mungkin akan mencelamu karena telah merusak cita Ras Unigin.”
“Tapi karena kamu sangat mencari kebebasan, sampai mencoba segala car bahkan rela untuk menghapus keberadaanmu, aku akan melanggar aturan ras kita dan membantumu.”
Dia kemudian menatap pada ledakan itu, waktu tiba-tiba terhenti di tempat itu. Semuannya ditangguhkan di posisi yang sama.
Mata melihat jauh kedalam ledakan dan melihat gumpalan jiwa dalam proses di padamkan. Kemudian, ia mengirimkan dua jari yang melintasi ruang-waktu dan meraihnya dengan cepat menuju tempatnya.
2 menit kemudian...
__ADS_1
Mata terus memindai gumpalan jiwa dengan intrik yang sama. Dia menyadari bahwa kedua jiwa mereka telah bergabung menjadi satu. Tapi jiwa Felix memiliki kendali penuh atas jiwa itu. Jadi, jika dia ingin memberikan Asna kesempatan kedua dalam hidupnya Felix akan memperoleh manfaat yang lebih darinya.
“Hehe itu untuk dia selesaikan, bukan aku.” Geli, dia terkekeh pada gumpalan itu untuk terakhir kalinya dan kemudian melemparkanya.
Makhluk Mata menyegel matannya perlahan karena kelelahan menggunakan hukum ruang-waktu secara belebihan untuk mengirimnya ke garis waktu lain. Garis waktu yang sama.
“Perjalanan yang aman.” Dia bergumam untuk yang terakhir kalinya.
***
Di dalam suite yang reman-remang, seorang pemuda tiba-tiba saja terbangun dengan keringat di dahinya sambil menarik napasnya dalam-dalam, setiap saat.
Dia mencengkeram kepalannya, kuat-kuat dengan jari-jemarinya, mencoba untuk menggali lebih jauh di dalam otaknya demi menghentikan rasa sakit yang terus menyerang setiap kali dia mencoba untuk tidur siang.
“Aduhh!!”
__ADS_1
Namun, dia segera menghentikan usahanya yang sia-sia untuk di lakukan dan menjerit dengan suara yang sangat nyaring juga panjang, setelah menjerit dia pun jatuh pigsan tepat di tempat tidurnya dengan matanya yang berputar.
Jeritannya berhasil membuat waspada para penjaga yang berdiri di depan pintu suite. Salah satu dari penjaga itu segera bergegas masuk, menuju ke kamar tidurnya sambil memegang pistolnya.
“Tuan muda felix! Apakah anda baik-baik saja?” Dia berteriak, sangat cemas. Namun, dia tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Felix, jadi dia menendang pintu kamar hinga terbuka dan ingin melihat bagaimana keadaan Felix demi membuat rasa cemasnya itu mereda.
Dia mengintip ke dalam ruangan dengan satu matanya, Benar saja, dia melihat Felix yang terbaring di tempat tidurnya tak bergerak sedikitpun, tubuhnya berada di atas genangan keringat yang menutupi seprai.
Jika sepupu Felix melihat situasi seperti saat ini, mereka pastinya akan mempermalukan Felix sampai mati.
Pengawal itu segera berlati ke depan, menyentuh leher Felix untuk memastikan apakah dirinya masih hidup ataukah tidak. Saat dia memastikan bahwa Felix ternyata masih hidup dan mungkin hanya pingsan, dia menghembuskan nafasnya lega, sangat tenang setelah tahu tuannya itu hanya pingsan.
Dia tahu bahwa keluarga pasti akan melakukan eksekusi jika ada bahaya yang menimpa Felix, di bawa pengawasannya.
Dia memanggil layanan kamar dan memberikan perintah dengan sangat tegas, “Kamu punya waktu 5 menit untuk membuat tonik yang dapat membantu seseorang agar segera sadar, cepatlah!!”
__ADS_1