Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
29


__ADS_3

2 Jam kemudian..


Felix berdiri di depa cermin dengan keadaan tenang, membetulkan setelan bisnis yang akan dia kenakan untuk menyambut kakeknya.


Lagipula, terlepas dari hotel itu dia akan menjadi penyebab kerugian publik. Felix masih harus menunjukan bahwa dia menganggap serius kebangkitan proyek ini ketika dia bertemu dengan kakeknya.


Setelah mengagumi ketampananya beberapa saat, dia meninggalkan suite dan memberikan perintah kepada Jack, “Antarkan aku ke bandara, kakekku akan segera mendarat disana,” pintanya.


“Robert Maxwell yang legendaris akan tiba di pulau, kunjungan ini harus di sertai dengan jamuan makan,” ucap Jack


Setelah keluar dari dalam lift, Jack pun bertanya, “Bolehkah aku meminta izinmu untuk membuat para pelayan menyiapkanya untuk malam ini?”


“Lakukan sesukamu, Ingatlah, untuk tidak menambahkan alkohol, kamu tahu betul bagaimana kondiis kakekku.”


“Kamu tidak perlu cemas tuan muda! Karena aku akan mengawasi pesta secara pribadi,”


“Baiklah, masuk dan kenadari, tidak lama lagi dia akan mendarat.”

__ADS_1


Setelah berkendara selama setengah jam, mereka pun sampai di bandara tua yang tertutup karat dan lumut. Membuatnya terlihat speerti bangunan terbengkalai yang akan runtuh dengan sendirinya.


Jika bukan karena satpam, yang lebih terlihat seperti seorang tunawisma yang duduk di sebelah pintu masuk, seluruh pemandangana akan terlihat sunyi dan suram.


Beberapa menit kemudian..


Felix dan Jack berjongkok di samping penjaga dengan sekaleng bir di tangan mereka. Mereka mengobrol dan bermain kartu menghabiskan waktu menjelang kedatangan kakeknya.


Pukul 14:15


Suara memekakkan telinga dari pendaratan jet pribadi bergema di seluruh bandara.


Di depan pintu seorang lelaki berjas hitam, berkemeja putih dan berdasi biru berdiri tegap dengan tangan di belakang punggungnya.


Kepala botanya itu bersinar setiap kali sinar matahari lewat di dekatnya. Matanya serius, menunjukan bahwa dia datang ke sini untuk urusan.


Sayang sekali image itu hancur setelah mereka melihat ikat pinggang panjang telah yang melingkar di tangannya seperti sarung tinju.

__ADS_1


Felix yang baru saja akan bergegas menghampiri sang kakek dengan senangnya dan memeluk orangtuannya sendiri, dia trehenti segera setelah memperhatikan sabuk persis yang digunakan untuk mendisiplinkannya di masa kecilnya.


Jadi, dia melangkah mundur dengan keringat dingin menutupi dahinnya, tidak berani untuk maju lagi.


Kenangan hari-harinnya tinggal di rumah kakeknya, setelah kematian orangtuanya, memenuhi kepalanya dengan gambaran yang tidak pernah bisa dia hapus.


Dia sudah bisa mendengar dalam benaknya suara kakeknya, “Beraninnya kamu mencuri pakaian dalam sepupumu Olivia ketika dia sedang mandi!! Kamu bajjingan, memaksanya untuk berjalan-jalan tanpa memakai apapun untuk menutupi tubuhnya. Orangtuanya datang dan protes padaku bahwa dia menangis sepanjang hari!!”


Kemudian suara Felix hanya dipenuhi isak tangis karena pantatnya yang dicambuk ikat pinggang oleh sang kakek dan membuat Felix merintih meminta permohonan maafnya.


“Maaf, tolong hentikan. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi, maaaf kakek!!”


Saat itu, Felix masih berusia 12 tahun.


Felix teringat akan kenangan itu dan kembali menyimpan kenangan itu di dalam pikirannya. Dia benar-benar merasa bahwa dirinya yang masih muda itu memang seorang bajingan yang wajar untuk dipukuli.


“Tapi kamu masih bajingan,” gumam Asna dengan sangat pelan.

__ADS_1


Felix mengabaikan ucapan Asna dan berjalan menuju ke arah kakeknya, dengan senyuman kaku, “Kakek aku sangat merindukanmu. Selamat datang di Pulau Mutiara Langit. Pulang paling indah.”


Sayang sekali apa yang di katakan Felix terdengar seperti sebuah tipuan setelah melihat bandara tua dan penuh lumut juga berkarat itu.


__ADS_2