Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
30


__ADS_3

Robert yang baru saja akan mencambuk Felix harus menundanya karena dia mendapat panggilan telepon, jadi dia hanya bisa melihat cucunya mengenakan jas formal dengan senyumannya yang hangat.


Melihat Felix mampu membuatnya sedikit melunak dan menghilangkan ekspresi tegasnya.


“Bajingan, kekacauan apa yang kau lakukan kepadaku, menelponku kemarin dan bersikap lunak padaku? Au tahu pasti bahwa kamu tidak akan menelponku dan bertanya tentang kesehatanku tanpa ada alasan selain kau peduli padaku.”


Robert melanjutkan bicaranya sambil menyentuh ikat pinggangnya, “Jadi, teruskan saja. Apa kau membakar hotel ini dan menghabiskan seluruh anggaran hotel untuk bermain-main?”


Felix tidak berani untuk bicara omong kosong setelah melihat teknik dan ancaman yang diberikan oleh kakeknya.


“Kakek, kamu benar-benar salah menilaiku kali ini, karena aku sangat merindukanmu dan ingin kamu menghabiskan waktu selama 15 hari bersamaku disini.”


Felix memeluk erat tubuh kakeknya, dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, “Yang aku miliki hanyalah dirimu kakek. Tidak ada orang lain yang mau dekat denganku, pelayan juga tidak mau bicara kepadaku, aku benar-benar sangat kesepian disini.”


“Aku selalu ingin menghubungimu berkali-kali selama setahun terakhir, tetapi aku tahu kamu menghabiskan sebagian besar waktumu untuk bersenang-senang dengan temanmu. Aku hanya tidak ingin menganggumu, kakek.”

__ADS_1


Felix segera menyelesaikan aktingnya. dengan sapuan airmatanya yang begitu klasik dan cepat.


Kakek Robert menatap mata merah cucuknya kemudian berkata dengan acuh tak acuh, “Baik hentikan ini semua, aku tidak sebodoh itu. Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?” tanya kakek tua tersebut dengan seringai.


Robert melepaskan pelukan cucuknya, dia meletakkan ikat pinggang itu di bahu Felix dan memberikannya nada mengancam.


“Ayo, ungkapkan kebenaran mengapa kamu menginginkanku untuk ada disini. Adapun omong kosongmu yang cengeng, simpan untukmu sendiri. Aku sangat yakin, kamu memilih pulau ini hanya untuk menganggur dari urusan keluarga.”


Felix menyadari rencanannya telah gagal total, karena dia dengan jujur melupakan kecerdasan kakek legendrisnya yang berhasil sendirian meningkatkan bisnis keluarga hingga menjaadi sebuah kekaisaran.


“Baiklah, pimpin jalannya. Mari kita lihat bagaimana kamu mengelola hotel selama setahun terakhir.”


“Tentu saja, kamu akan menyukai perubahan yang aku lakukan pada tempat itu. Ayo, ikut denganku,” jawab Felix, tersenyum kaku.


35 menit kemudian...

__ADS_1


Di depn pintu masuk hotel.


Robert menunjuk dengan jari gemetar ke arah hotel yang sepertinya akan hancur setiap saat, “Kamu bajingan, bagaimana kamu bisa membuatnya dalam keadaan lebih buruk seperti ini?!”


Dia mengambil napas dalam-dalam kemudian dengan tatapan belati, mengarah pada cuucknya, “Kamu punya 30 juta dollar, sebagai anggaran. Jika di gunakan dengan baik, setidaknya kamu bisa membuatnya terlihat baru dan segar. Tapi apa-apaan ini?! Hotel sialan itu bahkan tidak memiliki pintu masuk, itu hanya sebuah lubang lebar dimana orang bisa masuk juga keluar.”


“Apakah kamu tinggak di hotel atau di gua!! Beritahu aku!”


Felix menjadi sangat malu karena kakeknya yang bicara di depan semua orang seperti ini, di depan para pelayan yang hanya tertunduk karena tidak berani melihat ke arahnya.


“Kakek, ini hanya bagian luarnya saja. Aku menghabiskan sebagian besar anggaran di bagian dalam, ikuti saja aku.”


Ketika mereka masuk, Felix terus memperkenalkan barang-barang mewah yang dibeli Felix muda dengan menghabiskan sebagian uang anggarannya.


“Lihat sofa ihi, terbuat dari katun murni dan sutra dengan taburan debu emas di atasnya.”

__ADS_1


“Dan meja ini, terbuat dari kayu murni, dengan taburan perak di atasnya.”


__ADS_2