Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
8


__ADS_3

15 menit kemudian...


Dia berdiri diam di depan cermin, karena cermin itu memantulkan wajahnya yang di atas rata-rata.


Rambut pirang elektrik keritting pendek, mata bluebery dengna bulu mata gelap dan alis tipis, sementara hidungnay berdiri menantang dengan bibir merah tipis di bawahnya dan rata-rata tingginya 177 cm dan berat 60 kg atau sebanding dengan 132 pon.


Saat dia memeriksa memeriksa wajahnya yang masih muda itu, dia menggosok daguya dengan heran, “Wajah yang sangat mulia. Namun, kenapa sampai saat ini aku masih lajang?”


“Itu pasti karena wanita merasa rendah diri atau tidak pantas berada di sampingku, hal itu yang memaksa mereka untuk tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Itu pasti ada alasannya,” Dia memuji dirinya sendiri tanpa malu.


Asna yang ada di dalam jiwa Felix memutar matanya dengan sangat malas dan mengabaikan orang tolol yang sangat narsis itu.


***

__ADS_1


Setelah selesai mengagumi wajah masa mudannya di depan cermin, Felix mulai mengenakan pakaiannya sambil memikirkan era sekarang yang sedang dia jalani saat ini.


Dari ingatannya saat ini, dia percaya bahwa dia dikirim kembali ke era modern. Era dimana penduduk bumi masih hidup damai juga harmonis di planet biru kecil mereka.


Tapi, itu akan segera berubah setelah The Supremacy Games Invitation yang akan menjungkir balikan dunia, akan muncuk sebentar lagi.


Hal ini bahkan lebih baik dari rencanannya. Dengan mengandalkan ingatan dari kehidupannya di masalalu, dia tanpa ragu dapat memenagkan permainan dan menaiki tangga peringat lebih tinggi dari sebelumnya.


Ini akan membuatnya mendapatkan harta yang bahkan tak pernah dia impikan sebelumnya.


Jika saja dia berdedikasi juga pekerja keras dalam integrasi garis keturunannya, dia tidak akan dikirim oleh Klan untuk melakukan misi yang sulit sepert itu, tetapi tetap berada di markas yang di lindungi dan dirawat dengan baik seperti barang berharga.


Sedihnya, dia hanya bisa mencengkeram pantatnya dengan ekspresi sedih karena menyesal setelah mempelajari pelajaran yang membuatnya di bakar oleh si bajingan Asna.

__ADS_1


Ekspresi kesedihannya segera di gantikan oleh ekspresi penuh tekad yang akan menggerakan siapapun yang melihatnya sekarang, “Agar aku tidak lagi merasakan rasa sakit yang menyiksa seperti itu lagi, aku akan bekerja lebih keras dari semua orang, aku akan memastikan untuk mencapai puncak. Tidak akan ada yang akan menyiksaku apalagi merendahkanku!!”


“TIDAK ADA!!”


“Kreeekk”


Dia meninju cermin sampai pecah, mengirimkan potongan kecil kaca ke berbagai tempat, tak lama kemudian dia terjatuh ke tanah sambil memegangi kepalan tangannya yang berlumuran darah.


“Sial!! Aku tak peduli dengan diriku sendiri!” Dia menatap kepalanya dalam kesedihan.


Dia sudah lupa bahwa dia sekarang baru saja berusia 17 tahun dengan tubuh yang lemah bahkan dia tidak bisa melukai monster dengan tingkat 1 biasa!


Jack juga pengawal lainnya berada di dekat pintu, mendengarkan raungan Felix dan suara cermin yang pecah itu. Saat pengawal lain mencoba untuk bergegas melakukan pemeriksaan keadaan Felix, Jack langsung menghentikannya dengan lengannya.

__ADS_1


“Jangan cemas, ini tidak akan serius. Tuan muda mungkin sedang menonton film pembunuhan dan dia menjadi dramatis,”


Sementara yang ada di dalam pikirannya yang sebenarnya adalah, “Tuan muda Felix mungkin sedang menggunakan berbagai jenis obat-obatan lagi.”


__ADS_2