Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
18


__ADS_3

Dia mengakhiri rasa malunya dengan ejekan arogan yang terakhir, “Hanya ketika alam semesta memberimu sesuatu, kamu dapat dengan bangga menggunakannya untuk mencaapi potensi puncaknya.”


Felix hanya berdiri diam, mendengarkan dia mempermalukan nenek moyang manusiannya, seperti bahan lelucon aneh.


Dia kemudian membalasnya sambil menggertakkan giginya dan kukunya yang menembus daging telapak tangannya, dengan suara yang serak, “Tutup mulut kotormu itu! Kamu tidak berhak memandang rendah kami seperti ini. Pikiranmu tidak dapat memahami jumalh pertumpahan darah yang harus kami alami sebagai manusia!”


Tambahnya geram, sambil memukup kaca shower dengan sisi kepalan tangannya, “Galaksi kita dalam upaya invasi terus menerus oleh makhluk dan binatang buas, satu-satunya yang kita miliki di gudang senjata kita adalah otak dan kecerdasan.”


“Kami melawan mereka berulang kali, kami terus kalah dan mati seperti lalat tanpa satu perlawananpun. Kami hanya memelihara dan terus bertahan dan Seperti yang kamu katakan! kami bereproduksi dengan kecepatan cahaya seperti kecoak untuk menutupi kesedihan dan kesengsaraan kami.”


“Tahun-tahun berlalu dan kami beradaptasi dengan sangat lambat.. Kami belajar dari mereka apa yang kami butuhkan , kami buah akhir kami adalah sistem garis keluarga yang kamu lihat kebawah!”


Suaranya pecah karena teriakannya, dia tak dapat menahan diri lagi untuk mengamuk.

__ADS_1


“Kami menggunakannya untuk mengusir mereka, tetapi itu tidak akan cukup karena masih dalam proses penciptaan. Jadi, miliaran manusia harus mati dan mengorbankan diri mereka sendiri, Namun, kami tidak mneyerah. Kami terus menyempurnakan dan meneliti jalur garis keturunan binatang itu.”


“Kamu tidak menjarah sistem mereka, kami mengambilnya dan menciptakan satu lagi yang unik dan hanya untuk kami Manusia! Alamat semesta tidak menunjukkan jalan kepada kami.”


“Kamu bilang, kita manusia tidak memiliki atribtu unik yang membedakan kita dari yang lain? Kamu salah! Kami memiliki atribut terbaik yang ada di alam semesta ini.”


Dia menepuk dadanya seraya berkata, “Kami tidak lelah, kami tidak goyah dan kami tidak menyerah di depan semua kesulitan. Kami mungkin jatuh miliaran kali, tetapi kami selalu bangkit lebih kuat dari sebelumnya. Inilah umat manusia, inilah rasku dan aku bangga menjadi bagian dari manusia.”


Setelah dia tenang, dia meninggalkan kamar mandi tanpa pakaian tidak peduli dengan darahnya yang terus menetes dari telapak tangannyam, “Jadi, aku ingin bertanya lagi padamu.”


“Beraninnya kamu memandang rendah kami?” Dia bertanya dengan nada yang tinggi.


Tiga hari berlalu, sejak Felix bicara keras dengan Asna.

__ADS_1


Sejak hari itu, Felix benar-benar mengabaikannya. Dia tidak menanggapi permintaan maaf Asna, dia juga tidak perlu repot membahas apa yang terjadi di kamar mandi.


Dia hanya terus menerus melatih staminannya dengan menaiki tangga setiap hari, otot tubuhnya yang mulai terbentuk dengan menghabiskan waktu berjam-jam di gym.


Terakhir, memeriksa hotel juga fasilitas lain yang ada di pulau itu sambil mencatat apa yang membuatnya tertarik pada buku catatannya yang dia gunakan sebagai menyempurnakan rencananya yang akan mendatang.


Di atas bukit, Felix sedang duduk di bangku dan menggambar hotel dari atas dengan sangat fokus. Namun fokusnya itu terpecah oleh rengekan Asna lagi.


“Felix, berhentilah mengabaikanku. Aku benar-benar minta maaf atas perkataanku. Aku tidak menyadari upaya besar yang harus kamu lakukan untuk ertahan hidup.”


“Aku tidak pernah berinteraksi dengan ras seperti kamu, yang tidak disukai oleh alam semesta, karena aku menghabiskan seluruh hidupku dengan di kelilingi makhluk ras saya dan orang lain yang memiliki kekuatan yang sama dengan kami. Jadi, penglihatanku bengkok ketika aku menganalisa ras kamu,”


“Sekarang aku tahu sistem garis keturunanmu yang dibuat dengan keringat juga darah. Aku sangat menghormatinnya, aku bahkan dapat membantumu memperbaikinnya, membuka kemungkinan tanpa ada batasan.”

__ADS_1


__ADS_2