Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
7


__ADS_3

Dia terus memberikan keyakinan pada dirinya sendiri,” Pasti, harus, hanya ini yang bisa terjadi.”


Asna mendesahkan nafasnya, putus aja,” Apakah aku akan terjebak selamannya dengan si idiot ini?”


Felix secara refleks mengutuk punggung Asna dengan kesal, “Kamu idiot, kamu penyihir jahat, kau yang sudah menusuk pantatku!!”


Pengawal yang berdiri disana, mendengar semua yang di bicarakan Felix juga Asna membuatnya mengalami sedikit gangguan mental, mendengarnya mengatakan ini dan merasakan jiwanya yang baru saja kembali ke tubuhnya melarikan diri lagi.


Satu-satunya pilihan yang mengalir di benaknya adalah, “Aku sudah selesai. Racun itu menembus ke otaknya dan mengubahnya menjadi orang tolol.”


Dia sudah bisa membayagkan berita terbesar yang tersebar besok di media. Salah satu ahlu waris keluarga Maxwell berubah menjadi oranng yang terbelakang dan di beberapa sudut persembunyian di internet, menghilangnya seorang pekerja keras.


Air mata membanjri pipinya saat dia melihat gambar itu dengan jelas.


Felix segera menyadari bahwa dia berurusan dengan real deal setelah membaca pikirannya. Sekarang tidak ada jalan keluar darinnya, karena dia mungkin tersegel dalam kesadarannya.

__ADS_1


Asna senang degan kesimpulannya, “Felix, kita punya waktu untuk mengobrol satu sama lain. Tapi, sekarang kamu harus perbaiki situasi di luar. Pria malang itu menangis karena suatu alasan.”


Felix tahu dia benar, jadi dia fokus pada pengawal yang menangis tersedu-sedu seakan hidupnya sudha berakhir.


Dia bangun ke tempat tidurnya kemudian berbisik di telinga pengawal, “Jack, jangan ceritakan apa yang terjadi di sini kepada siappun. Karena aku mencoba beberapa obat baru di pasaran yang mempengaruhi kondisi mentalku,”


Dia kemudian berjalan menuju ke arah laci, dia membuka laci tenpatnya meletakkan uang lalu mengambil uang sebanyak 500 dollar, kemudian dia kembali pada Jack dan memasukkan uang itu ke dalam saku jasnya.


“Pergilah ke luar dan beritahu mereka bahwa aku sedang menonton film horror. Itu sebabnya aku berteriak,” Dia menepuk pundaknya kemudian melanjutnya pembicaraanya lagi, “Sebelum kamu pergi, bawa seprai dan singkirkan itu,”


“Jangan khawatirm tuan muda. Pintunnya akan diganti dalam 10 menit.”


Asna melihat Jack yang telah pergi, “Sekarang, roda ketiga tidak ada disini. Mari, kita lanjutkan pembicaraan kita.”


“Apa yang harus di bicarakan, dasar penyihir! Tidak peduli apa yang akan kamu bicarakan, aku tidak akan pernah tunduk atau bekerja sama denganmu!”

__ADS_1


“Felix sayangku, bukankah kamu sudah melihat apa yang terjadi pada kita?”


Dia menjelaskannya dengan sangat cemas, “Jika kita tergabung, menjadi satu. Dan untuk beberapa alasan yang tidak adil ini, kamu memiliki kendali utama atas tubuh ini. Sementara itu, aku hanya dapat melihat apa yang terjadi dari mata kamu dan aku tidak akan ikut camput. Tapi, aku tidak ingin diriku menjadi seperti ini selamanya. Aku rasa, kamu juga ingin aku pergi secepat mungkin, kan?”


Felix berdiri diam beberapa saat, kemudian bicara dengan lantang, “Pertama-tama kamu benar-benar pantas mendapatkan apa yang saat ini kamu dapatkan. Kedua, kamu salah. Lagipula, kenapa aku ingin membantumu dan membebaskanmu dari tubuhku?”


“Kita akan selamanya bersama, jadi santai saja dan nikmati saja melihatku menjalankan hidupku ini,” lanjut Felix, seraya tertawa jahat.


Asna tidak marah setelah mendengarkan klaimnya, karea dia sudah mengharapkan jawaban ini berdasarkan apa yang dia baca dari ingatannya.


Dia menjawab sambil menguap, “Baiklah, seperti yang kamu inginkan. Apakah kamu ingin memainkan permainan yang panjang? Aku akan memastikan untuk menemanimu langkah demi langkah. Jadi, jangan cemas dan nikmati kehidupanmu, Felix.”


“Jika kamu bisa, itu saja.” lanjut Asna.


Setelah Felix mendengarkan bagian terakhir, seketika wajahnya menjadi gelisah dengan ekspresi yang terlihat begitu cemas. Tapi tak lama kemudian, dia mengendurkan otot wajahnya dan berpikir “Bawalah, dasar penyihir. Mari kita lihat siapa yang akan bertahan.”

__ADS_1


__ADS_2