Permainan Supremacy

Permainan Supremacy
23


__ADS_3

Asna berpikir di dalam hati, “Dengan kepribadianmu yang tidak tahu malu juga kata-katamu sangat berarti untukku.”


Feli yang bisa membaca pikiran Asna pun mengutuknya, “Kamu penyihir, jangan beran mencermarkan nama baikku. Kami keluarga Maxxwel memperlakukan kata-kata kami seperti emas.”


“Mungkin anggota keluarga lain akan seperti itu, tapi jika kamu yang melakukannya aku akan meragukanmu.”


“Apapun yang memungkinkan untuk kembali, itu akan menjadi tidak terlihat.” Dia berhenti untuk bertengkar dengan Asna, setelah menyadari bahwa matahari telah terbenam.


“Bicara tentang keluarga, aku harus benra-benar menghubungi kakek, kakek tua pasti masih hidup sekarang.”


Felix berjalan sambil memikirkan cara untuk membantu kakeknya dalam menghindari serangan jantung yang bisa tiba-tiba saja terjadi selam transmisi akan datang seperti kehidupan yang lalu, membantu tanpa memberitahu keluarganya.


Dia hanya perlu bertahan hidup, karena Felix memiliki ratusan cara untuk menyembuhkan penyakit jantungnya selamanya.


15 Menit kemudian...


Felix yang sedang mandi, membersihkan semua keringat yang dia hasilkan dari menaiki tangga. Namun, masalah penyakit jantung kakeknya masih melekat di dalam pikkrannya.

__ADS_1


Felix dengan cepat mengetahui bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan kakeknya adalah dengan membawanya ke pulau dan menyiapkan tim medis.


Tapi, dia segera menggelengkan kepalanya berulang sebagai tanda penolakan, karena dia tahu bahwa tim medis tidak akan banyak membantunya. Karena transmisi akan menakuti para tim medis sampai mati, mereka tidak akan bisa melakukan tugasnya dengan baik.


Sial, mereka bahkan bisa membuat para tim medis dan lainnya lebih buruk lagi. Dan Felix tidak mau mengambil resiko besar yang akan membuat orang lain kena imbasnya.


Hal ini membuatnya hanya memiliki satu pilihan terakhir saja dan itu untuk memudahkan datangnya transmisi dengan memberikan petunjuk penting kepada kakeknya.


Jadi pada hari yang akan datang itu, ketidakstabilan emosinya akan di kurangi hingga pada giliranya, menurunkan tekanan darah yang akan menyebabkan serangan jantung yang parah.


“Kali ini, aku tidak akan membiarkan kakekku mati. Bagaimana bisa kakek tidak melihat cucuk kakek sebagai pahlawan yang hebat?” Felix tersenyum lembut sambil mengingat perawatan yang dia terima ketika masih muda.


Setiap kali para tetua ingin menghukumnya karena dia membuat ulah dan mempermalukan nama baik keluarganya. Maka, kakeknya yang selalu memohon keringan kepada mereka dengan cara menukarkan barang-barang demi Felix tidak mendapatkan hukuman dari mereka.


Kalau bukan karena sepupunya, Olivia yang memberitahukan dia tentang barang-barang yang di tukarkan oleh kakeknya demi melindungnya. Dia tidak akan pernah mengetahui bahwa semua aset kekayaan milik kakeknya telah di rampas hanya untuk melindunginya.


Dia kemudian mengambil telponnya dan menemukan beberapa tombol untuk menghubungi kakeknya, “Kakek, kali ini giliranku untuk menjagamu dan melindungimu dengan baik!!”

__ADS_1


****


5 menit kemudian, Felix sudah menghubunginya lebih dari 10 kali namun tidak ada jawaban apapun, Felix mengeratkan genggamannya pada ponselnya.


“Bajingan tua ini tidak pernah berubah. Dia mungkin sedang berada di bar bersama dengan para tetua yang lainnya.”


Dia berhenti menelpon kakeknya dan menelpon Olivia, sepupunya untuk menyapanya.


Sayang sekali, dia menutup telpon dari Felix sebanyak lima kali. Sekarang Felix benar-benar marah. Tapi, dia tidak meletakkan telponnya, dia terus menghubungi nomor sepupunya.


Marah, dia menghancurkan telponnya di lantai dan tidak bisa menahan amarahnya lagi karena telponnya yang selalu saja tertolak.


“Aku melihat kamu si bajingan masih mengikuti buku pandian Aliansi Anti Felix.”


“Jika aku tidak menegrjaimu sampai mati selama hari penilaian keluarga, aku akan memakan kotoranku sendiri!”


Dia bersumpan, sambil menuju pada tempat tidur dengan tangan yang terkepal, mengejek Asna.

__ADS_1


__ADS_2