Pernikahan Konyolku[TAHAP REVISI]

Pernikahan Konyolku[TAHAP REVISI]
Episode 19


__ADS_3

"Kenapa gak buat boneka aja,lo kan udah biasa yang kayak gitu."saran Revan sedikit berbisik yang masih bisa didengar oleh Tiara, gadis yang diberi saran itu tersenyum lalu mengangguk senang."Makasih,Revan!"ucapnya pelan.


Mengikuti saran dari Revan, Tiara menggambar pola boneka di dua kain perca, menghubungkan keduanya lalu menjahitnya tak sampai habis,karena ini kerajinan kain perca tentu saja Tiara mengisi bagian dalam bonekanya dengan potongan-potongan kain yang berserakan,setelahnya dibuatnya mata dan mulut boneka dan jadilah sebuah boneka beruang berukuran sedang yang sangat cantik.


Berlalu sudah waktu yang diberikan kepada semua peserta menandakan berakhirnya perlombaan ini.


Semua membuang napas lega,lalu berkumpul mendengarkan penutupan kata dari panitia acara.


"...untuk besok kalian para siswa dan sisiwi kami harapkan membawa orangtua masing-masing terutama peserta acara ini,karena besok kita akan mengumumkan siapa pemenang dari acara ini dan berhak menerima gelar siswa siswi terbaik SMA tercinta kita."ujar Pak Bambang menutup acara ini,setelahnya para murid diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing.


...•...


...•...


Revan berjalan menuju sofa ruang tamu dimana Tiara tampak tengah berbaring disitu,memang tadi sepulang sekolah gadis ini mandi,makan lalu menghempaskan tubuhnya di sofa tersebut.


"Tidur dikamar kalau lo capek,jangan disini."kata Revan yang tak mendapat jawaban dari yang diajak bicara.Ia pun mengintip dan mendapati gadis itu malah tertidur disana.


"Ck..ck!" Revan berdecak,lalu mengangkat tubuh Tiara membawanya ke kamar dan meletakkannya di atas kasur.


Baru saja berniat pergi tapi Revan berhenti ketika melihat wajah Tiara yang sedang tertidur pulas, ditatapnya wajah itu dengan seksama.


"Kalau kayak gini,gue gak tega nyakitin lo!"batin Revan berucap,yang kemudian ditolak oleh pemiliknya sendiri.


...•...


...•...


Tiara terbangun,astaga ia melupakan sesuatu!Gadis itu lalu bangkit,beranjak pergi ke kamar Revan.


Masih diambang pintu kamar Revan yang sedikit terbuka,Tiara mengintip dan melihat Revan sedang fokus dengan ponselnya.Dibukanya pintu itu dan menunjukkan keplanya disana."Revan.."panggilnya pelan,tak mendapat sahutan.

__ADS_1


Ia pun berjalan mendekati pria itu,"Van.."panggilnya lagi,kini lebih keras sedikit walau hanya terjawab oleh gumaman Revan.


"Revan.."


"Iya, kenapa sih lo?"Akhirnya Revan melepaskan ponselnya dan menatap Tiara menunggu kelanjutan ucapan gadis itu.


"Anterin ke rumah Ara, boleh?"


"Kenapa?"


"Revan lupa ya,kan besok disuruh bawa orangtua."


"Oh iya,ya.Gue gak ingat."


...•...


...•...


Kini mereka berdua telah sampai di rumah Tiara yang langsung disambut oleh adiknya,Adel yang sudah berlari menuju Tiara lalu memeluknya.


"Haha iya Kak Aya juga kangen,Adel apa kabar?"Tiara mengelus lembut rambut panjang Adel.


"Adel kesepian tau kalau gak ada Kak Aya disini!"Cukup lama adik kakak itu berbincang,hingga akhirnya Tiara segera menemui ibunya di kamar.


Hal pertama yang ia lihat ketika memasuki kamar itu adalah ibunya yang tengah menjahit pakaian,Rosa menoleh ke arah pintu lalu memicingkan matanya menatap Tiara."Kenapa kamu kesini?!"tanyanya tak ramah.


Tiara berjalan menghampiri Rosa,"Besok sekolah Aya umumkan siswa siswi terbaik tahun ini,jadi semua orang tua diundang buat datang bu."ujar Tiara menjelaskan pada Rosa,tapi Rosa seperti tak memperdulikan dirinya dan melanjutkan jahitannya.


"Buk?"


"Buat apa juga saya datang kalau kamu juga gak mungkin jadi murid terbaik,yang ada kamu hanya akan terus mempermalukan saya, mimpi tau gak!"Rosa sedikit teriak, mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi Tiara.

__ADS_1


"Tapi,bu--"


"Udahlah,lebih baik kamu pergi dari sini saya emosi melihat kamu!"Tak sempat Tiara menyelesaikan ucapannya,Rosa menyela lalu sedikit mendorong tubuh Tiara.


Dada Tiara serasa sesak,ia memutuskan keluar dan melihat Revan dan kedua adiknya tengah bermain.


Sebelum Revan menyadari dirinya,Tiara berlalu pulang sendiri.


...•...


...•...


Tiara membuka pintu apartemen,jam sudah menunjukkan pukul 20.28 malam.Ia melihat Revan tengah duduk di sofa dan menatapnya tajam.


"Kenapa baru pulang?"Pria itu bertanya dingin,alisnya ia naikkan sebelah dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Maaf,"Hanya itu yang dapat dikatakan Tiara,ia tau kalau dirinya salah.


"Gue dari tadi nyari lo,nelfon lo tapi gak lo angkat-angkat!"


"Handphone Ara dimatiin dayanya,hehe."Tiara menjawab dan malah terkekeh,cukup membuat cemasnya Revan hilang."Kenapa Revan belum tidur?"


"Gimana gue mau tidur kalau lo masih gak pulang-pulang, darimana sih lo?!"Suasana sudah tak setegang tadi,Revan sudah terdengar seperti biasanya di telinga Tiara.


"Jalan-jalan hehe,tapi pas beli es krim tadi hujannya turun jadi Ara tunggu hujannya reda dulu deh!"


"Kenapa ponsel lo dimatiin daya,gimana kalau sesuatu yang gak baik terjadi?!"


"Pertama jawab dulu,sejak kapan Revan jadi wartawan?"tanya Tiara,ya ia merasa dari tadi ditanyai terus oleh Revan.


Revan mengerutkan dahinya bingung.

__ADS_1


"Ya iya wartawan,banyak tanya tau gak?"ujar Tiara yang membuat Revan terkekeh,bukan karena ucapannya barusan tapi karena wajah menggemaskan yang ia pasang.


"Bingung sama kamu,habis banyak tanya malah ketawa!"


__ADS_2