Pernikahan Konyolku[TAHAP REVISI]

Pernikahan Konyolku[TAHAP REVISI]
Episode 4


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah ini,tampak para murid kelas Tiara yang sedang melakukan pemanasan diawasi oleh Pak Beni--Guru olahraga sekolah ini,sebelum melaksanakan materi olahraga mereka hari ini.


Sekitaran lima belas menit pemanasan pun selesai,para murid segera berkumpul dan berbaris mendengarkan arahan dari Pak Beni.


"OK!Hari ini materi kita masih sama seperti Minggu kemarin yaitu Bola basket,jadi saya langsung saja mengambil nilai kalian berhubung Minggu lalu kalian sudah saya beri waktu untuk berlatih,"Ujarnya seraya membolak-balikan bola basket yang ada ditangannya ke tangan kanan dan kiri secara bergantian.


Sebelum berbalik,guru itu tampak terhenti dengan mimik wajahnya yang seperti berfikir telah melupakan sesuatu. "Oh..Dan ya!Untuk siswi baru kalau tidak salah Tiara Fadillah,ya?Kamu saya beri waktu untuk berlatih selagi teman-temanmu mengambil nilai,"Setelahnya ia berbalik dan mengambil beberapa lembar kertas untuk mengisi daftar nilai.


Memilih mengambil arah yang berbeda dari teman-temannya dan turun ke bawah lapangan agar saat ia berlatih tak mengganggu aktivitas yang lain.


Gadis itupun men-dribble bola basket yang ia pegang,dengan teliti ia berusaha memasukkannya ke dalam keranjang basket didepannya,namun seberapa keras ia berusaha pun ia tidak akan bisa. Karena inilah dirinya yang tidak punya kemampuan di bidang olahraga.


"Cherly Yuliana." Terdengar suara Pak Beni yang sedang memanggil nama yang akan mengambil nilai sesuai urutan absen,memang nama Tiara masih lama disebut,tetapi gadis itu sudah gemetaran sendiri.


"Mau gue ajarin?"Ucapan itu membuyarkan lamunan Tiara,ia menoleh dan mendapati Doni--Siswa kelas IPS yang pernah mengantarnya pulang,pria itu tersenyum dan langsung memegangi kedua tangan Tiara dan melemparkan bola basket itu ke keranjang,dan Yap!Berhasil.


Tiara,gadis itu tersenyum bahagia lalu kembali menoleh ke Doni. "Kamu kok diluar? Emangnya gak dimarahin,kan masih jam pelajaran?"Tanyanya heran,ini masih jam pelajaran tetapi pria ini malah keluyuran sampai ke lapangan.


Tak menjawab, Doni kembali mengarahkan bola itu yang kemudian kembali berhasil memasuki keranjang. "Gampang,kan?"

__ADS_1


"KAMU KELAS IPS KENAPA ADA DISINI?BOLOS PELAJARAN,HAH?"Belum sempat berkutik,telinga Doni sudah di jewer terlebih dahulu oleh Pak Beni yang entah sejak kapan sudah berada disitu,Tiara menoleh dan mendapati teman-temannya juga tengah menoleh kearahnya yang berarti mereka semua melihat 'dirinya' dan Doni tadi,bukan?


...•...


...•...


Jam pelajaran olahraga berakhir,untuk kelas yang berolahraga saat ini diperbolehkan istirahat dan yang tentunya itu adalah hal yang ditunggu-tunggu Mayang,sang jagoan makan,lihat?Bahkan sekarang dia heboh hanya ingin ke kantin.


"Ayolah Ra,pokoknya harus ke kantin dengan kita berdua!!"Gadis itu terus saja merengek kepada Tiara,entah sudah berapa lama ia begini. Bukannya tak mau,jika ada uang Tiara juga akan ikut bersamanya tetapi mengingat hari ini ia tak diberi uang saku oleh ibunya,Tiara menolak ikut bersamanya.


Setelah lelah membujuk dan juga Tiara meyakinkannya bahwa ia sudah kenyang karena sarapan,akhirnya Mayang pun pergi ke kantin bersama Novi.


Revan yang melihat itu langsung berlari dan memeluk gadis itu,detik berikutnya keduanya jatuh bersamaan kelantai yang mana Revan berada di atas Tiara dengan tangannya yang masih memeluk erat gadis itu,juga jangan lupakan sedikit serpihan kaca lampu yang menancap di punggung Revan.


Evani Enandarnia--gadis yang pernah Revan tolak didepan umum,melihat itu ia tak mau melewatkan kesempatan emas baginya untuk mengancam Revan dan segera memotret momen itu,yang apabila orang melihatnya maka akan terjadi kesalahpahaman.


Tapi,ancaman itu tidak mempengaruhi Revan sama sekali.


"Coba aja kalau Lo berani,gue gak peduli!"Tegas Revan datar yang kemudian melangkah keluar menuju UKS.

__ADS_1


Melihatnya Vani semakin kesal, siapa yang tidak mengenalnya,gadis yang dikenal dengan keangkuhan dan keras kepala ini bisa melakukan apapun yang ia mau. "Oh ya?Kita lihat Revan!"


Disini,di dalam ruangan Kepsek terlihat Pak Ahmad-Kepsek dan Vani yang tengah memperlihatkan foto hasil jepretannya kepada pak Ahmad,membuat kepsek itu juga ikut salah paham saat melihat foto tersebut.


Sesaat kemudian Vani keluar dari ruangan itu dengan senyum sumringah,setelah mengirim foto itu ke Pak Ahmad yang kemudian dikirim ke Robi Yukosrandra-temannya yang merupakan ayah dari Revan Yukosrandra.


Sedangkan di tempat lain,Tiara sedang mengobati punggung Revan yang terluka karena serpihan kaca lampu tadi sungguh ini sangat mengerikan bagi Tiara,lihatlah disaat dirinya mengeluarkan serpihan kaca itu.


"Sakit gak sih?"Tanya Tiara polos.


"Gak,"


"Oh kirain sakit.."


Mendengar itu rasanya darah Revan naik seketika,bagaimana bisa gadis ini bertanya sakit atau tidak padanya,sudah jelas pasti sakit lah. Lo bodoh apa pura-pura bodoh sih?


Tak hanya kesalahpahaman tadi,mungkin Pak Kepsek yang baru saja lewat dan tak sengaja melihat mereka berdua menjadi salah paham lagi,bagaimana tidak jika saat ini Revan tak memakai baju dan bertelanjang dada. Setelahnya ia memotret itu dan kembali mengirimnya kepada ayah Revan.


Tidak bisakah manusia berhenti untuk hanya melihat satu sisi saja?

__ADS_1


__ADS_2