
Melvin mencuci muka di kamar mandi yang ada di ruangan Adira. Sungguh ia semakin tidak bisa mengendalikan diri ketika bersama dengan Angel. Karena itulah tadi Melvin buru-buru keluar sebelum sesuatu yang ia inginkan terjadi.
Adira begitu terkejut ketika masuk ke ruangannya dan melihat Melvin yang terlihat frustasi.
"Di mana mereka ?" tanya Melvin kepada adiknya. Menanyakan Angel dan Eudora.
"Sudah pulang." jawab Adira yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.
Melvin menghela napas lega dan dia pun ingin segera pulang ke perusahaannya.
"Eh, kakak mau ke mana ? tidak mencoba setelan jas pernikahannya dulu ?" tanya Adira melihat Melvin beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"Tidak. Nanti saja." jawab Melvin kemudian langsung pergi.
*
Hari pun bergulir dengan cepat. Tak terasa hari pernikahan tinggal tiga hari lagi. Sejak pertemuan mereka di butik, Angel tidak pernah lagi bertemu dengan Melvin.
Semakin dekat hari pernikahan Melvin dan Eudora, dadanya Angel pun terasa semakin sesak. Sungguh rasanya ia tidak sanggup menerima Melvin menjadi adik iparnya. Ingin menghentikan pernikahan ini pun jelas Angel tidak akan sanggup.
Malam ini Angel sudah membuat keputusan dan ia pun memberanikan diri menemui dad Abraham di ruangan kerja.
__ADS_1
"Dad, aku ingin kembali ke London." Angel langsung mengutarakan keinginannya.
Jika saja semua identitas miliknya ada di tangannya sendiri pasti Angel sudah kabur tanpa menunggu acara pernikahan Eudora. Jadi dia tidak perlu melihat pria yang sudah menjadi suaminya menikah dengan sang adik.
Abraham menghentikan sejenak pekerjaannya dan beralih menatap Angel. Tanpa berpikir panjang Abraham langsung menanggapi ucapan Angel.
"Baik. Tapi setelah acara pernikahan selesai." kata Abraham yang membuat Angel tidak percaya.
Angel pikir akan sulit untuk meminta izin kepada dad Abraham. Tapi ternyata begitu mudah.
"Terima kasih, dad." Angel menarik sudut bibirnya tersenyum.
Angel lalu keluar dari ruangan kerja sang ayah tanpa pikiran yang mencurigakan. Mungkin dad Abraham sudah tidak marah lagi padanya dan sudah mencabut hukumannya.
Saat Angel baru keluar dari ruang kerja dad Abraham, ia langsung bertemu dengan mommy nya yang terlihat panik.
"Aurora di mana Daddy ?" tanya Mom Sonia buru-buru.
"Ada di dalam mom. Ada apa ?" jawab Angel namun tidak di jawab oleh mom Sonia karena mom Sonia tergesa-gesa masuk ke dalam ruang kerja.
Angel kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar. Ia kembali melihat Eudora yang terburu-buru menaiki tangga dan terlihat panik juga.
__ADS_1
"Eudora, tunggu." teriak Angel dan Eudora pun langsung menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa ? mengapa kalian terlihat panik ?" tanya Angel penasaran.
"Kak Melvin kecelakaan. Barusan Tante Nia menelpon mommy."
"APA ?" Angel sangat terkejut mendengar ucapan Eudora.
Seketika kakinya menjadi lemas. Hampir saja ia terjatuh jika tida berpegangan pada meja hias di sampingnya.
"Kak cepatlah bersiap. Kita akan ke rumah sakit." kata Eudora lagi.
Angel sekuat tenaga mencoba melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti pakaian. Mereka akan pergi bersama-bersama mommy dan Daddy ke rumah sakit dengan satu mobil.
Sejak dari dalam mobil Angel hanya diam. Perasaanya saat ini bercampur aduk. Takut dan juga mencemaskan keadaan Melvin.
Begitu tiba di ruangan UGD rumah sakit Medika Sejahtera, Mom Sonia langsung memeluk seorang wanita. Mungkin itu adalah mamanya Melvin. Karena tampak seumuran dengan mom Sonia. Wanita itu juga terlihat menangis.
"Sky bagai keadaan Melvin." tanya seorang pria paruh baya kepada dokter muda yang baru saja memeriksa Melvin.
Mungkin pria itu adalah papanya Melvin karena wajah mereka terlihat mirip. Tak hanya kedua orang tua Melvin yang menunggu keterangan dari dokter tentang keadaan Melvin. Angel juga begitu tidak sabar ingin mendengarnya.
__ADS_1