Pernikahan Rahasia 2

Pernikahan Rahasia 2
Ch. 57


__ADS_3

Seorang pria tampan memakai kemeja rapi berdiri tepat di hadapan Angel. Sebuah jas berwarna putih menyampir di lengan kirinya yang menandakan jika pria itu merupakan seorang dokter.


Angel menghela napas lega setelah mengetahui pria itu adalah dokter.


"Selamat pagi dokter." sapa Angel lebih dulu.


Pria ini hanya dokter yang menangani Melvin dan pastinya tidak akan tahu tentang hubungan rumitnya dengan Melvin. Begitu pikir Angel.


"Selamat pagi." balas dokter laki-laki yang berwajah dingin itu.


"Ingin melihat ?" tanya dokter itu sembari menunjuk Melvin dengan wajahnya.


Angel hanya menganggukkan kepala. Ia sadar jika ini belum waktunya untuk berkunjung.


Dokter itu kemudian membuka pintu lebih lebar agar Angel bisa masuk. Angel yang sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Melvin langsung berjalan masuk ke dalam.

__ADS_1


Angel terdiam sambil menatap sedih tubuh Melvin yang terbaring di ranjang pasien. Keadaannya masih seperti tadi malam, masih menggunakan infus dan oksigen.


"Pasien masih belum sadar. Kemungkinan mengalami koma akibat benturan di kepala." suara dokter mengalihkan pikiran Angel.


Dokter yang tadinya ingin keluar kemudian mengurungkan niatnya melihat kedatangan Angel.


"Kapan dia akan sadar dari koma, dok ?" tanya Angel masih berusaha menahan air matanya.


"Tidak bisa di pastikan. Bisa beberapa hari, atau beberapa bulan. Atau bisa juga selamanya. Dan jika pun sadar mungkin akan hilang ingatan." jawab dokter yang membuat Angel semakin sedih.


Angel tidak bisa lagi menahan air matanya dan dia biarkan saja menangis terisak di hadapan dokter. Angel tidak peduli.


Tapi mengapa dia menangis ? bukankah ini yang dia inginkan. Mengakhiri hubungan pernikahannya dengan Melvin dan menganggap mereka seolah tidak saling mengenal.


"Kita doakan saja agar Tuhan tidak mencabut nyawanya." kata Dokter kemudian langsung pergi dari ruang rawat Melvin.

__ADS_1


Angel yang masih menangis sedih tidak menyadari ucapan dokter yang terdengar agak lain. Mana ada dokter yang berkata sembrono seperti itu. Biasanya kalimat yang di ucapankan dokter akan menenangkan keluarga pasien. Bukan malah memprovokasi dan membuat bertambah sedih.


Setelah dokter pergi, Angel berjalan semakin mendekat ke ranjang pasien. Ia mencoba menghentikan tangisnya dan mengusap air mata.


"Melvin, aku mohon bangunlah." Angel memegang tangan Melvin yang tidak terpasang infus.


"Mengapa jadi sepeti ini ?" tanya Angel masih dalam isak tangisnya. Meskipun Angel tahu jika Melvin tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Bangunlah. Aku lebih rela melihat mu menikah dengan wanita lain dari pada melihat mu tidak bergerak seperti ini." Angel beralih memeluk tubuh Melvin dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu yang terbaring tidak bergerak.


"Aku ingin kau mencium ku lagi, memeluk ku dan membuat dada ku berdebar. Ayo, bangunlah." Hiks hiks hiks...


Angel terus meratap di hadapan tubuh Melvin yang terbaring lemah, tidak berdaya. Angel segera melepas pelukannya ketika mendengar suara pintu di buka dari luar. Angel hanya berdiri menatap ke depan. Tidak berani menoleh ke belakang melihat siapa yang masuk. Takut jika itu adalah orang tua Melvin atau Eudora. Apa yang harus ia katakan jika mereka menanyakan mengapa pagi-pagi dia sudah ada di sini dan menagis.


"Permisi nona, kami mengantarkan sarapan untuk pasien."

__ADS_1


Akhirnya Angel bisa bernapas lega setelah tahu jika yang datang adalah perawat yang mengantarkan sarapan. Angel hanya menganguk sambil tangannya mengusap sisa-sisa air mata di pipi. Karena terlalu larut dalam kesedihannya Angel bahkan tidak menyadari jika perawat mengantar sarapan untuk Melvin yang sedang koma.


__ADS_2