
Sudah dua hari Husna di rawat di rumah sakit, tidak ada keluarga dari Husna yang membesuk diri nya di rumah sakit, kalau ada mungkin itu hanya mimpi Husna saja.
Mahesa sudah di panggil oleh pihak rumah sakit karena tenaga nya sangat di butuhkan oleh pasien.
Husna melihat suaminya itu gelisah tapi Husna tidak mau bertanya, yang ada Mahesa tidak menjawab atau bisa saja Mahesa marah kalau Husna bertanya tentang kehidupan nya.
Selama ini Husna hanya tau jika suaminya itu berprofesi sebagai dokter, tapi ia tidak tau dimana rumah sakit tempat Mahesa bekerja.
Husna terus melihat kegelisahan suaminya itu, ia ingin bertanya tapi suaranya tertahan di tenggorokan nya.
Lama Husna memandangi suaminya itu, keningnya berkerut saat Mahesa juga melihat nya.
"Kalau kamu sibuk, pergi aja mas!" ujar Husna
Mahesa nampak berpikir sejenak lalu ia pergi keluar dari kamar rawat Husna itu, Mahesa memanggil bik Yatri untuk menemani Husna di dalam, dia tidak punya banyak waktu lagi karena pihak rumah sakit sangat membutuhkan tenaga nya.
"Saya harus pergi bik, tolong jaga Husna!" ujar Mahesa
"Baik tuan!" ujar bik Yatri
Mahesa sedikit berlari keluar dari rumah sakit itu, ia pergi tanpa berpamitan dengan Husna, itu hal yang wajar bagi Husna karena selama ini memang Mahesa tidak pernah berpamitan kalau pergi.
Pihak rumah sakit terus menghubungi Mahesa karena pasien harus di operasi hari ini juga, Mahesa membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju Jakarta.
Dalam waktu antara dua sampai tiga jam Mahesa harus sampai di rumah sakit tempat nya bekerja, Mahesa di kejar oleh waktu, Mahesa mengendarai mobilnya sangat cepat.
Dua jam kemudian Mahesa sudah keluar dari tol Cikampek, ia sedikit lega karena sudah sampai di Jakarta, Mahesa mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Tidak lama dari itu ia telah sampai di rumah sakit tempat ia bekerja, Mahesa langsung memakai baju steril lalu ia masuk ke dalam ruangan operasi.
"Syukurlah dokter datang cepat!" ujar dokter ahli jantung
"Jantung pasien normal, jadi kita bisa melakukan tindakan operasi sekarang dok!" ujar dokter jantung itu
Mahesa mengangguk lalu mereka mulai mengoperasi pasien tersebut, lama mereka melakukan proses operasi itu, saat operasi berjalan jantung pasien berhenti berdetak, jadi dokter ahli jantung terlebih dahulu memeriksa jantung pasien agar kembali normal lagi.
"Siapkan defibrilator!" ujar dokter jantung kepada suster yang membantu nya.
Dokter ahli jantung itu melakukan kejut listrik itu pada pasien nya agar jantung kembali aktif, setelah kejut listrik itu berlangsung jantung pasien kembali berjalan normal.
"Alhamdulillah!" ujar mereka
Mahesa kembali melanjutkan operasi itu, operasi kali ini sangat lama, banyak sekali gangguan pada pasien ini oleh karena itu operasi nya berjalan sangat lama.
Tiga jam melakukan operasi kepada pasien itu tidak membuat Mahesa merasa lelah ataupun ingin meninggalkan ruangan itu, ia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaan nya, menjadi seorang dokter itu tidaklah mudah.
__ADS_1
Setelah melakukan tindakan operasi itu kini Mahesa keluar dari ruangan operasi itu, keluarga dari pasien ini sudah menunggu hasil apa yang akan di katakan oleh dokter.
"Dokter bagaimana kondisi suami saya?"
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, walaupun ada kendala dalam melakukan operasi tapi operasi tetap berjalan dengan lancar, ini berkat dari do'a kalian!" ujar Mahesa
Setelah menjelaskan kondisi pasien kepada keluarga pasien, kini Mahesa beristirahat di ruangan nya.
"Bagaimana keadaan istri lo?" tanya Hendri
"Udah mendingan!" ujar Mahesa
"Syukur deh, bay the way kapan lo akan kasih tau pada orang tua lo kalau lo udah menikah?" tanya Hendri
Mahesa menaikan kedua bahu nya, pernikahan siri antara dia dan Husna tidak akan pernah ia umumkan ke keluarga nya sekali pun, ia hanya ingin seorang keturunan hanya itu saja tidak lebih dan tidak kurang.
...
Malam pun tiba Mahesa tidak kembali ke Bandung untuk melihat istri nya, ia masih di rumah sakit karena pekerjaan nya belum selesai.
Mahesa kini sedang memeriksa pasien nya di kamar rawat itu, Mahesa di kenal dengan seorang dokter yang dingin dan tidak suka banyak bicara, Mahesa hanya bicara bila hal itu sangat penting bagi nya.
"Besok pasien sudah boleh pulang!" ujar Mahesa
Mahesa mengangguk lalu ia pergi dari ruang rawat itu.
...
Husna sudah pulang sejak siang tadi kini dia sedang beristirahat di kamar nya, ia sangat kecewa saat Mahesa pergi tanpa sepengetahuan nya, tadi Husna pikir Mahesa pergi ke luar kamar inap nya ia ada urusan di luar, tapi malah ternyata suaminya itu tidak balik-balik lagi.
Bik Yatri masuk ke kamar Husna sambil membawa mapan berisi sepiring nasi dan juga obat.
"Nyonya harus makan ya!" ujar bik Yatri
Husna menoleh ke arah makanan itu lalu ia mengangguk kecil sambil membawa sepiring nasi itu ke pangkuan nya.
"Bibik tau mas Mahesa ke mana?" tanya Husna
"Bibik kurang tau nyonya!" ujar bik Yatri
Husna mengangguk sambil menyuap makanan nya, hati nya sangat sakit saat Mahesa tidak pernah peduli pada nya, sudah hampir dua bulan mereka menikah tapi Mahesa tidak pernah peduli pada Husna.
Dari awal pernikahan ini memang pernikahan yang tidak di inginkan oleh kedua belah pihak, Mahesa hanya ingin meminta seorang anak saja tidak lebih dan tidak kurang, sementara Husna menikah dengan Mahesa untuk melunasi hutang bibi dan paman nya.
Jadi kapan ia akan merasakan kebahagiaan itu?
__ADS_1
Husna selesai makan lalu ia meminum obat yang di berikan oleh bik Yatri, bik Yatri pergi ke bawah untuk meletakkan piring kotor tadi dan melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai.
"Kapan aku bisa bebas dari mereka?"
Husna membuka laci nakas ia mengambil foto kenangan mereka bersama ayah dan ibu nya dulu, Husna mengusap foto itu bahkan Husna memeluk foto itu, ia menyalurkan kesedihan nya pada foto itu.
"Hiks... Uus capek ayah ibu hiks... Uus capek dengan hidup ini, kapan Uus bisa pergi dari kehidupan ini?"
Husna terus memeluk foto itu ia tidak tau harus curhat kepada siapa lagi, dia hanya ada foto keluarga nya hanya kepada foto itu Husna bisa curhat dan menyalurkan rasa sedih nya.
"Kenapa kalian meninggalkan aku terlalu cepat?, aku masih butuh ayah ibu, tapi kenapa takdir berkata lain?"
Husna terus curhat pada foto yang sudah usang itu, ia tidak tau harus berbuat apa-apa lagi, perjanjian antara dia dan Mahesa tidak bisa di ganggu, apa lagi Husna minta cerai sedangkan dia belum melahirkan seorang anak untuk Mahesa.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Husna pergi berwudhu untuk melaksanakan sholat isya.
Kini ia melaksanakan sholat isya, selesai sholat ia memanjatkan do'a kepada Allah SWT.
"Ya Allah, Uus tidak tau harus gimana lagi, Uus capek seperti ini terus ya Allah, kenapa kebahagiaan itu tidak pernah Uus rasakan?, dosa apa yang pernah Uus perbuat ya Allah, sehingga engkau menghukum hamba seperti ini?, Uus tidak sanggup rasanya menerima hukuman ini ya Allah, berikanlah Uus kekuatan agar Uus bisa menjalankan kesedihan ini dengan kuat dan tabah!"
Selesai berdo'a kini Husna kembali ke tempat tidur nya, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, sering kali Husna tidur sendirian seperti ini, bahkan sampai satu bulan ia tidak pernah tidur dengan suaminya itu.
"Semoga mas Mahesa mau menerima Uus!" do'a Husna sebelum tidur.
...
Pagi hari nya Husna sudah kembali sehat ia membantu bik Yatri memasak di dapur, walaupun masakan nya ini hanya dia saja yang memakan nya tapi Husna sangat ceria dan tidak mau sedih lagi, ia sudah berjanji pada diri nya kalau dia harus bisa bahagia tanpa ada orang yang menyayangi nya.
Bahagia tidak harus dengan orang lain dengan diri sendiri pun kita bisa bahagia, seperti itulah Husna ia harus bahagia tanpa ada orang yang harus mencintai ataupun menyayangi diri nya.
"Nyonya sudah lebih baik sekarang?" tanya bik Yatri
"Sudah bik, Uus harus bahagia tanpa harus ada orang lain di sisi Uus!" ujar Husna
Bik Yatri tersenyum kecil, sangat sedih melihat nyonya nya ini yang kurang akan kasih sayang dari orang-orang di sekitar nya, sehingga dia harus bahagia sendiri, hati bik Yatri sangat sedih saat nyonya nya di perlakukan tidak adil seperti ini oleh tuan nya, tapi dia pun tidak bisa melakukan apa-apa.
"Semoga kebahagiaan itu menghampiri nyonya Husna!" ujar bik Yatri
"Aamiin...!"
"Kita positif thinking saja!" ujar mang Udin yang baru masuk lewat pintu samping.
...
Bersambung...
__ADS_1