Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 68. Lembaran Baru


__ADS_3

1 minggu kemudian...


Setelah acara pernikahan sekaligus resepsi mereka itu telah mereka lalui dengan lancar tanpa ada gangguan sedikit pun.


Kini keluarga kecil Mahesa itu sedang pergi liburan di Bandung, mereka akan pergi ke rumah yang pernah mereka tinggali waktu itu.


Sudah lama juga mereka tidak ke sana, maka dari itu mereka berlibur di sana saja, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah itu.


Bik Yatri juga ikut bersama mereka, mang Udin juga ikut juga bersama mereka, mereka ingin mengulangi kehidupan mereka di sana kembali dengan jalan hidup yang sangat berbeda.


Waktu itu jalan hidup Husna sangat menderita dan Mahesa tidak pernah menganggap Husna, sekarang jalan hidup mereka sudah berubah, Mahesa sudah mencintai Husna dan ingin hidup bahagia.


"Buna... Buna... bum..bum.." pekik Ansel melihat mobil truk molen cor melintas di samping mobil mereka itu.


"Bum..bum..bum..sal bum.." pekik Ansel sangat senang melihat mobil truk yang sangat besar itu.


"Iya... itu mobil truk molen cor, mobilnya besar ya!" Husna menunjuk mobil besar itu.


Mahesa juga ikut melihat mobil besar yang di tunjuk oleh Ansel itu.


"Yah... bum..bum.." oceh Ansel menunjukkan mobil besar itu kepada ayah nya.


"Besok kita beli mobil itu!" ujar Mahesa


"Untuk apa mas? mobil sebesar itu mau kamu beli?" tanya Husna


Mahesa mencubit hidung Husna, "mobil mainan nya kan ada sayang, untuk apa juga aku beli mobil truk itu? celetuk Mahesa


Husna tersenyum malu ia pikir Mahesa mau membeli mobil truk itu.


Popop....


Popop...


Popop...


Mobil truk molen cor itu membunyikan klakson mobil nya yang berbunyi sangat keras itu.


"Aaaa... yeyeye... bumbum...bum..." celoteh Ansel sangat gembira mendengar klakson yang memekakkan telinga itu.


Husna sama Mahesa ikut tertawa melihat kegembiraan putra mereka itu.


Husna mengajak Mahesa berlibur di Bandung itu karena ia juga ingin berkunjung ke rumah peninggalan orang tua nya itu, tidak hanya itu saja Husna ingin mencari paman dan bibi nya itu, ia ingin tahu bagaimana kondisi mereka sekarang.

__ADS_1


Husna juga berencana ingin berziarah ke makam orang tua nya, sudah lama juga ia tidak berziarah ke makam orang tua nya itu.


Sekitar 2 jam lebih mereka menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah yang pernah mereka tinggalkan waktu itu.


Husna bersama yang lain sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah itu, sementara itu Mahesa masih berdiri di luar menatap rumah itu.


Mahesa melirik rumah itu dengan penuh penyesalan, rumah inilah saksi bisu dimana dia selalu menyakiti Husna, tidak pernah memberikan Husna kebahagiaan di sinilah hidup Husna menderita karena ulah dia dulu.


Andai dia bisa memutar waktu ia tidak ingin menyakiti perasaan Husna, rumah ini mungkin akan jadi saksi dimana mereka merasakan kebahagiaan itu.


Banyak kenangan buruk yang Mahesa lakukan di rumah ini, banyak sekali kenangan yang menyakitkan waktu itu, rumah inilah yang menjadi saksi bisu mereka.


Husna mengerutkan keningnya saat ia tidak baru sadar jika Mahesa belum masuk ke rumah ini.


"Mas Mahesa mana?"


"Ansel sama bibik dulu ya nak, bunda mau cari ayah dulu!" lalu Husna memberikan Ansel kepada bik Yatri


"Tuan muda di sini dulu sama bibik ya!"


Husna melangkahkan kakinya menuju keluar rumah, ia berhenti di teras rumah menatap Mahesa yang lagi menatap rumah ini.


Husna perlahan melangkahkan kakinya menuju ke tempat Mahesa.


Mahesa menoleh ke Husna ia tersenyum lalu mengambil tangan Husna, "istri cantik, mari kita masuk!" ajak Mahesa


Husna mengangguk kecil sambil tersenyum, mereka masuk ke dalam rumah itu, tidak ada perubahan sedikit pun dari rumah ini.


"Yah... buna..." teriak Ansel minta turun dari gendongan bik Yatri


Bik Yatri melepaskan Ansel lalu Ansel berlari kecil mengejar ayah dan bunda nya itu, Ansel masih sulit untuk berjalan ia masih menyeimbangi tubuh gembul nya itu.


Langkah kaki mungil Ansel itu bikin kedua orang tua nya jadi gemas, Mahesa bersama Husna sudah duduk lesehan di depan pintu utama itu, mereka berdua menunggu Ansel yang berlari kecil menghampiri nya.


"Yah... buna... yah... buna..." pekik Ansel akhirnya berhasil sampai ke tempat ayah dan bunda nya.


Ansel langsung memeluk bunda nya, "Buna..muah...buna..." Ansel mencium pipi bunda nya itu.


"Ayah tidak kamu peluk? tidak kamu cium juga?" tutur Mahesa iri melihat anaknya itu.


"Yah... bau... sel tak ka!" celoteh Ansel dia bilang kalau ayahnya bau dia tidak suka.


Husna tertawa kecil mendengar celotehan Ansel itu.

__ADS_1


"Oh gitu, oke, ayah tidak jadi beli mobil truk molen cor tadi buat Ansel, ayah ngambek sama Ansel!" tutur Mahesa ia berdiri dan berpura-pura cemberut.


Ansel juga cemberut lalu ia memeluk kaki ayahnya itu.


"Yah, sel ta af!" bocah itu meminta maaf pada ayah nya


Mahesa tersenyum lalu ia jongkok dan membawa Ansel dalam gendongan nya, ia membawa putra nya itu ke sofa ruang tamu.


Di sana mereka duduk santai karena terlalu lelah menuju ke sini tadi, Ansel sudah tertidur di dalam dekapan ayah nya itu.


"Sudah tidur bun!" beritahu Mahesa


"Bawa ke kamar kita aja mas!"


Mereka membawa Ansel ke kamar mereka waktu itu, tidak ada yang berubah dari kamar ini, seperti apa Husna meninggalkan kamar ini seperti itulah kamar itu saat ini, tapi kamar ini sudah di bersihkan oleh bik Yatri tadi sebelum mereka menempati kamar ini.


Kamar nya begitu nyaman, Mahesa jadi teringat akan hal tentang kamar ini, dan di kamar ini juga Husna sering di buat menangis oleh Mahesa.


"Maafkan aku ya Husna, aku sering membuat kamu nangis waktu itu!" tutur Mahesa langsung meminta maaf


Padahal Husna sudah mati-matian untuk tidak mengingat kenangan buruk sewaktu itu.


"Kenapa kamu mengingat itu lagi? aku sudah melupakan itu jadi jangan ingat itu lagi, kita ke sini bukan untuk mengingat itu lagi, kita ke sini untuk bersenang-senang buka?" ujar Husna memberikan senyum manis nya.


"Baiklah, aku hanya teringat akan dosa ku selama ini kepada kamu, bukankah selama ini aku suami yang dzolim pada kamu?" tutur Mahesa


"Sssttt... lupakan itu!" sela Husna meletakkan jari telunjuk nya di bibir Mahesa


Mahesa tersenyum lalu mengangguk.


Kini mereka bertiga baring di tempat tidur itu, mereka mau mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.


Mahesa menatap kedua orang yang sangat ia sayangi dan ia cintai itu, ia jadi merasa bersalah sudah menyia-nyiakan Husna dulu, dia berjanji akan mengubah semuanya.


"Aku mencintai kalian!"


Mahesa merasa sangat bersyukur telah di berikan keluarga kecil seperti ini, ini merupakan hari awal ia untuk membuka lembaran baru dengan keluarga kecil nya itu, terlebih lagi Husna mengandung anak kedua mereka.


...


Bersambung...


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.

__ADS_1


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2