
Saat ini Husna sedang menangis karena ia tidak jadi berbicara dengan Mahesa, apa lagi sambungan telepon itu di putus sepihak oleh Mahesa.
"Hiks... bibik kenapa mas Mahesa memutuskan panggilan telepon nya hiks... Uus belum sempat bicara sama dia tapi dia sudah mematikan nya terlebih dahulu, hiks... mas Mahesa tidak kangen apa sama anak nya ini hiks... bibik tolong telepon dia lagi hiks...!" tangis Husna sambil memeluk bik Yatri
Sudah berkali-kali bik Yatri menelepon balik tuanya itu tetap sama tidak aktif, apa mungkin Mahesa menonaktifkan telepon nya lagi, sudah di pastikan jika Mahesa tidak bisa berbuat apa-apa jika orang tua nya berada dekat dengan nya.
"Nyonya Husna tenang ya, mungkin tuan sedang sibuk makanya tidak bisa kita telepon kembali!" ujar bik Yatri menenangkan ibu hamil itu.
"Hiks... sesibuk apa sih dia bik hiks... Uus tau dia itu benci pada Uus bik, tapi Uus merasa tidak di hargai, dia jahat dengan Uus!" ujar Husna terisak-isak.
Hati mana yang tidak kecewa jika seorang suami hanya memberikan harapan palsu pada istrinya, Husna sangat kecewa dengan Mahesa karena Mahesa memutuskan panggilan telepon tadi secara sepihak, apa lagi Husna belum berbicara sepatah kata pun kepada Mahesa tadi.
Husna berlari ke kamarnya, bik Yatri mengejar Husna karena takut Husna kenapa-napa, "nyonya jangan lari-lari seperti itu!" ujar bik Yatri sangat ngeri melihat Husna berlari dalam keadaan hamil besar gitu.
"Hiks... tinggalkan Uus bik!" ujar Husna di sebalik pintu kamar nya, Husna mengunci pintu kamarnya itu, ia mau menenangkan diri nya terlebih dahulu.
Husna menangis di dalam kamarnya, ia sangat kecewa dengan Mahesa tadi, apa salahnya Mahesa mematikan sambungan telepon dengan cara baik-baik, ini malah tidak berbicara sama sekali, sama saja Mahesa memberi harapan palsu untuk Husna.
Bukan Mahesa mau mematikan panggilan telepon secara sepihak, tapi tadi itu urusan nya sangat urgen, antara takut ketahuan rahasia nya akan terbongkar jadinya Mahesa harus bertindak cepat.
Bik Yatri sangat sedih dengan keadaan Husna sekarang, apa lagi Husna sedang menangis di dalam kamar nya, bik Yatri mengirim pesan ke tuannya itu.
"Maaf tuan, jika anda punya waktu banyak tolong hubungi nyonya segera, saat ini nyonya sedang menangis karena tuan mematikan panggilan telepon secara sepihak!" isi pesan bik Yatri, lalu bik Yatri mengirimkan pesan itu pada nomor ponsel Mahesa.
...
Di sisi lainnya Mahesa sudah mulai tenang karena kedua orang tua nya sudah pergi dari rumah sakit tempat ia bekerja.
Mahesa menghidupkan kembali telepon genggam milik nya itu, ia melihat sekitar tiga puluh menit yang lalu pesan masuk ke handphone nya ini.
"Bik Yatri!" gumam Mahesa lalu melihat isi pesan yang di kirim itu.
Tanpa berkata apapun lagi Mahesa menghubungi nomor bik Yatri itu, ia sangat khawatir dengan apa yang di bilang oleh bik Yatri tadi.
"Gimana bik, apa dia baik-baik saja?"
"Maaf tuan, dari tadi nyonya mengurung dirinya di kamar, saya tidak tau apa yang sedang nyonya lakukan, bahkan suara nyonya tidak saya dengar!" ujar bik Yatri di sebalik sambungan telepon itu, bik Yatri juga menempelkan daun telinga nya di pintu kamar Husna itu.
"Tolong ketuk pintunya bik, saya takut dia kenapa-napa!"
__ADS_1
"Baik tuan!" ujar bik Yatri
"Maaf tuan nyonya tidak menyahut sama sekali!" beritahu bik Yatri di sebalik sambungan telepon itu.
"Astaga!" ujar Mahesa dengan khawatir
Bukankah Mahesa sudah ada perasaan untuk Husna bukan, dia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Husna, jika Mahesa berucap dia tidak ada rasa pada Husna berarti Mahesa sangat munafik bukan?.
Panggilan telepon di putus oleh Mahesa, saat saling bersamaan Mahesa harus melakukan tindakan operasi kepada pasien nya, mau tidak mau Mahesa harus menolong pasien nya itu terlebih dahulu, ia sangat percaya jika bik Yatri bisa menangani ini semua.
Kini bik Yatri membuka pintu kamar nyonya nya itu menggunakan kunci cadangan, betapa terkejutnya bik Yatri saat melihat nyonya nya itu tertidur di lantai kamar.
"Nyonya!" ujar bik Yatri membangunkan Husna, Husna terbangun ia melihat di sekeliling nya.
"Ah, Uus ketiduran ya bik!" ujar Husna
"Iya nyonya, sebaiknya nyonya tidur di atas kasur, ketimbang di lantai tidak baik untuk kesehatan nyonya dan anak yang nyonya kandung!" ujar bik Yatri
Husna pindah ke atas kasur nya ia menyenderkan kepalanya di kepala ranjang, bik Yatri menemani nyonya nya itu.
"Mas Mahesa belum menghubungi bibik lagi?" tanya Husna
Bik Yatri tersenyum, "baru saja tuan menghubungi bibik, nyonya tau jika tuan sangat menghawatirkan nyonya, terdengar jelas dari suara tuan jika ia sangat khawatir!" beritahu bik Yatri.
"Terus apa lagi yang dia ucapkan bik?" tanya Husna
"Tidak banyak nyonya, hanya saja tuan sangat sibuk!" ujar bik Yatri
Husna mengangguk kecil lagi, "jadi nyonya jangan bersedih lagi karena tuan mematikan panggilan telepon sepihak tadi karena tuan sedang sibuk!" ujar bik Yatri menenangkan hati dan pikiran Husna yang berpikir jika Mahesa membenci nya.
"Tuan tidak membenci nyonya, mungkin saja tuan sedang sibuk, kita harus positif thinking saja!" ujar bik Yatri
"Iya bik, mungkin Uus terlalu naif untuk semua ini, Uus hanya mementingkan diri Uus sendiri, ketimbang melihat yang sebenarnya jika mas Mahesa sedang sibuk, Uus terlaku egois!" ujar Husna.
Selama ini Husna juga sering egois dengan Mahesa, karena ia selalu mementingkan diri nya sendiri tanpa melihat Mahesa yang sangat sibuk dengan kerja nya, selama ini Husna tidak pernah berpikir jernih jika Mahesa juga harus berkerja, apa lagi pekerjaan suaminya itu sangat membantu orang.
"Uus akan mengubah sikap manja Uus ini!" ujar Husna
"Bukan nyonya yang manja, tapi bayi yang nyonya kandung itu sangat manja!" ujar bik Yatri
__ADS_1
Husna menghela napas ia tau dengan kondisi suaminya saat ini lagi sibuk-sibuknya bekerja, Husna tidak boleh egois juga.
...
Hari sudah malam, Husna menyingkap gorden ia melihat ke arah keluar, ia ingin sekali Mahesa datang berkunjung saat ini, tapi malam kali ini Mahesa tidak akan pulang lagi, Husna menghela napas nya ia sangat berharap jika tidur nanti Mahesa akan pulang.
"Ayah kamu pulangnya kapan ya?" ujar Husna mengusap perut nya itu.
Tidak seperti biasanya Husna seperti ini, mau Mahesa tidak pulang waktu itu Husna baik-baik saja tanpa harus mencari Mahesa, tapi entah kenapa Husna tidak mau jauh-jauh dari suaminya itu, ataukah ini termasuk ngidam?
Bukankah bagus untuk Husna jika Mahesa tidak pernah balik lagi ke sini, jika Mahesa tidak balik lagi otomatis anak yang di kandung Husna bisa terus bersama anaknya itu tanpa harus di pisahkan bukan?.
Tapi Husna tidak seperti itu walaupun Mahesa tidak pernah peduli padanya, Mahesa tetaplah suami dan ayah dari anak yang ia kandung.
Husna memutuskan untuk tidur, mau sampai kapan pun ia menyibak gorden itu Mahesa tidak akan pulang.
Di sisi lainnya Mahesa baru sampai di rumah miliknya sendiri, mama dan papa nya sudah menunggu dia dari tadi.
"Baru palang jam segini!" ujar papa Radyta
Mahesa menghela napas ia juga ikut duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Pekerjaan dokter itu kan ada sif-sif nya, setiap 6 jam sekali pasti kalian akan di gantikan dengan dokter lain nya!" ujar Radyta.
"Malas pulang, ketemu kalian pasti ngomel!" ujar Mahesa mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
Setiap kali Mahesa pulang pasti kedua orang tua nya itu mengintrogasi diri nya dulu, Mahesa sangat tidak suka jika siapa pun itu mengikut campuri urusan nya, termasuk orang tua nya sendiri.
"Kalau seperti ini terus kapan punya istrinya!" ujar amor
"Nikah lagi, istri lagi, mama sama papa pasti bahas tentang itu terus, tidak ada topik yang lain apa, hesa capek dengar itu-itu mulu, jangan paksa hesa!" ujar Mahesa
"Kamu itu anak satu-satunya di keluarga ini, kamu harus memiliki keturunan agar ada penerusnya!" ujar Radyta.
"Biar itu urusan hesa, kalian tidak perlu ikut campur!" ujar Mahesa
"Apa maksud kamu seperti itu?, kamu mau hamili anak orang tanpa harus menikahi nya?, bejat sekali kelakuan kamu itu!" ujar amor
"Kalian tinggal diam terus menunggu hasilnya saja!" ujar Mahesa meninggalkan orang tua nya itu yang sedang kebingungan dengan maksud dari putra mereka itu.
__ADS_1
...
Bersambung...