
Tibalah dimana mereka akan melaksanakan akad nikah yang akan di ucapkan lagi oleh Mahesa kepada Husna, saat ini Husna di rias oleh MUA yang sudah di siapkan oleh amor jauh-jauh hari.
Tamu undangan sangat banyak Radyta mengundang banyak rekan bisnis nya dan amor juga begitu ia juga banyak mengundang teman-teman nya, terlebih lagi sanak saudara Mahesa yang juga turut hadir dalam acara pernikahan ini.
Berbeda sekali dengan Husna, sanak saudaranya tidak ada, bukan tidak mau hadir tapi kerabat nya atau sanak saudara yang ia punya hanya paman dan bibi nya saja, itupun mereka tidak akan bisa datang karena Husna sendiri tidak tau dimana keberadaan paman dan bibi nya itu.
Yang hadir cuma Fajri Abang sepupu-nya yang bisa hadir di hari spesial nya ini, ia masih sangat bersyukur karena masih ada kerabat dekatnya yang menghadiri pernikahan nya ini.
Perias itu kagum melihat kecantikan Husna yang sudah selesai merias pelanggan nya itu.
"Masya Allah... pengantin wanita nya sangat cantik sekali!" kagum perias itu.
Husna tersenyum melihat dirinya di pantulan cermin itu, betapa cantiknya dirinya ini saat make up yang di poleskan di wajah nya ini.
Husna jadi khawatir jika semua pasangan mata melihat dirinya yang sangat cantik ini akan terpesona dengannya, terutama kaum Adam.
"Mbak bolehkah saya meminta sesuatu!" ujar Husna
"Boleh, nona mau meminta apa?" ucap perias itu.
Husna membisikkan sesuatu ke telinga perias itu, lalu perias itu tersenyum dan mengangguk-angkuk.
"Masya Allah... baiklah nona, kami akan menyiapkan apa yang anda minta!"
Husna tersenyum lagi melihat wajahnya itu.
Bik Yatri mengendong Ansel ke tempat Husna, dari tadi tuan kecil nya itu merengek ia tidak ingin berpisah dengan bunda nya.
"Buna... hiks... buna..." tangis Ansel memanggil bunda nya.
Husna jadi sedih melihat putra nya yang lagi menangis itu.
"Sini sama bunda nak!" Husna mengambil Ansel dari gendongan bik Yatri itu.
"Apa nyonya tidak kerepotan secara nyonya sudah memakai baju pengantin!" tutur bik Yatri merasa enggan melepaskan Ansel dari gendongan nya.
"Tidak masalah bik, Husna bisa kok!" tutur Husna mengambil Ansel itu.
"Sel au ma buna... hiks... sel au buna...!" tangis bayi berusia 10 bulan itu, ia ingin bersama bunda nya saja.
"Iya... Ansel sama bunda kok, bunda tidak akan pergi Ansel jangan nangis lagi ya... anak tampan bunda kan pintar, jadi jangan nangis lagi...!"
Ansel memeluk leher bunda nya itu seakan ia tidak mau lepas dari bunda nya, Husna jadi kasihan juga untuk melepaskan putranya itu.
Amor dan Radyta menemui menantu nya itu sebelum Husna di bawa ke bawah.
"Wah... pengantin wanita nya sudah selesai dandan ya!" ujar amor
Husna tersenyum melihat mama mertua dan papa mertuanya itu, Ansel tadi masih ia gendong bayi itu masih memeluk bunda nya, wajah nya ia benamkan di perpotongan leher bunda nya.
"Aduh... cucu kakek kenapa nih?" Radyta melihat cucu-nya itu yang lagi memeluk bunda nya itu.
"Biasa pa, dia tidak mau lepas dari Husna!" jawab amor
"Kasihan... sini sama kakek aja, kasihan bunda kamu!" Radyta mau mengendong cucu-nya itu tapi Ansel tidak mau.
"Duh tidak bisa lepas ya dari bunda nya!"
"Itulah papa, Husna jadi kasihan juga sama Ansel!" ujar Husna
Mereka semua membujuk Ansel agar melepaskan bunda nya itu.
Sudah lama mereka membujuk Ansel itu akhirnya ia lepas juga dari bunda nya, Ansel kembali di gendong oleh bik Yatri dan membawa Ansel pergi dari sana.
"Menantu mama sudah cantik, kamu sudah siap nak?" tanya amor
"Sudah ma, tapi Husna grogi!" beritahu Husna
"Tidak usah grogi, tarik napas dalam-dalam dulu supaya kamu tidak grogi lagi!" tutur amor
__ADS_1
Husna menarik napas seraya tersenyum.
"Ma, pa, Husna mau bicara boleh!"
"Boleh kamu mau bicara apa?" tanya amor
Husna membisikkan sesuatu ke telinga mertuanya itu, setelah membisikkan sesuatu itu Amor dan Radyta mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Bagus juga, ide bagus juga itu, mama setuju!" ujar amor mendukung apa yang ingin Husna minta.
"Papa juga setuju!" ujar Radyta
Perias itu membawa apa yang Husna minta tadi, Husna mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Terima kasih mbak!" ujar Husna
"Sama-sama pengantin cantik!"
...
Di bawah semua tamu undangan sudah datang, Mahesa sudah duduk di kursi yang di siapkan, sebentar lagi ia akan mengucapkan ijab kabul yang ke dua kalinya.
Mahesa sedikit canggung dengan suasana ramai ini, sewaktu ia menikahi Husna dulu pernikahan mereka tidak banyak orang yang berdatangan, saat mereka menikah dulu yang menghadiri cuma wali nikah Husna dan teman Mahesa saja.
Radyta duduk di sebelah Mahesa dan wali nikah Husna yaitu Fajri, Fajri juga duduk di sebelah Mahesa.
"Sudah siap?" tanya Radyta kepada Mahesa
Mahesa menarik napas lalu ia mengangguk kecil, pak penghulu juga sudah hadir di sana.
"Husna nya mana pa?" tanya Mahesa karena Husna tidak ada di sebelahnya.
"Tidak sabaran sekali kamu hesa, setelah kamu selesai mengucapkan ijab kabul maka Husna akan ke sini!" beritahu Radyta
"Baiklah!" ujar Mahesa
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Mahesa mengucapkan ijab kabul itu dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? sah?" tanya pak penghulu
"Sah!!!
"Sah...!!!
Jantung Mahesa terasa berdetak kencang karena ia menikahi kembali istri siri nya itu, pernikahan mereka kali ini di catat oleh negara, mereka sudah sah secara agama dan negara.
Mahesa terasa lega dengan apa yang telah ia lakukan, terasa plong saat ia berhasil menyunting istrinya itu kembali. Ia berjanji pada dirinya tidak akan pernah menyakiti Husna lagi dan dia akan menjadikan Husna istri yang paling bahagia.
Di dalam kamar pengantin itu, Husna tersenyum bahagia dan menangis bahagia juga, ia pikir pernikahan siri antara dirinya dengan Mahesa dulu tidak akan bertahan, nyatanya pernikahan siri itu tidak lagi pernikahan siri namanya, melainkan pernikahan yang telah di akui oleh banyak orang dan negara.
Husna sangat bersyukur yang telah apa terjadi dalam hidup nya ini, penantian yang selama ini ia tunggu akhirnya tercapai juga.
Amor menjemput pengantin wanita itu untuk di sandingkan dengan pengantin pria.
"Sudah siap!" tutur amor
Husna mengangguk kecil.
Amor membawa Husna ke bawah mereka menuruni anak tangga itu satu persatu, para tamu undangan itu melihat ke arah pengantin wanita.
Mahesa diam seribu bahasa saat ia tak melihat Husna, yang turun dari lantai atas itu melainkan pengantin yang mengunakan cadar.
"Husna ku mana? kenapa pengantin nya memakai cadar?" Mahesa merasa shock tidak menemukan Husna nya.
Pengantin wanita itu duduk di samping Mahesa, Husna tersenyum di balik cadarnya menatap wajah suaminya yang terlihat shock.
"Mama! Husna ku mana? istri ku mana ma?" tanya Mahesa dengan nada bicara shock dan ingin berteriak memanggil istrinya.
__ADS_1
Amor menyipitkan matanya seraya tersenyum geli dengan tingkah putranya yang terlihat shock dan terkejut itu.
"Mama! istri ku mana? jangan begini ma, Husna ku!"
"Husna ku!" tutur Mahesa sangat takut kehilangan istrinya.
Husna ingin tertawa melihat kecemasan suaminya itu, bahkan wajah Mahesa sudah kelihatan menahan tangis nya. Husna sengaja memakai cadar karena ia tidak ingin melihatkan wajah nya ini ke semua kaum Adam. Ia hanya ingin melihatkan wajah nya ini kepada suaminya saja.
"Husna ku!"
"Dimana kamu sayang?"
Mahesa membuka peci nya ia ingin berlari ingin mencari istrinya itu, saat Mahesa ingin berdiri namun di cekal tangannya oleh Husna.
"Mas... mau kemana?" bisik Husna
"Lepaskan, saya mau mencari Husna saya, kamu siapa?" tutur Mahesa
Bahkan Mahesa tidak bisa mengenali istrinya saat ia merasa cemas seperti ini, Husna sedikit tertawa di balik cadarnya itu.
Radyta tertawa melihat putranya yang kelihatan ketakutan akan kehilangan Husna, raut wajah Mahesa tidak bisa berbohong, matanya saja sudah mulai menampakkan kaca-kaca.
Fajri juga terlihat shock karena ia tidak melihat Husna, yang ia lihat hanya pengantin memakai cadar.
Mungkinkah itu Husna? pikir Fajri
"Kau tidak mengenali siapa yang ada di samping mu itu?" tanya Radyta
"Tidak, siapa dia pa? istri ku mana pa? Husna ku?" lirih Mahesa ingin menangis
"Astagfirullah alhazim...!" Radyta mengusap-usap dadanya karena putra nya itu tidak mengenali istrinya sendiri.
"Mas... ini aku ini Husna mu!" bisik Husna
Mahesa menggeleng-nggelengkan kepalanya, Husna mengusap tangan Mahesa.
"Masa sama istri sendiri tidak mengenali nya!" tutur Husna
Mahesa menatap mata Husna itu, lama ia menatap nya lalu ia tersenyum karena sudah mengenali istrinya lewat mata itu.
"Ini benar Husna ku?" tanya Mahesa
"Iya ini aku! Husna kamu!" tutur Husna
Barulah Mahesa merasa lega karena istrinya itu berada di samping nya.
Kini mempelai wanita dan pria itu di tuntun naik ke tempat pelaminan, mereka akan mendapatkan selamat atas pernikahan mereka itu.
"Husna ku! kenapa kamu memakai cadar?" tanya Mahesa ingin tau kenapa istrinya itu memakai cadar.
"Karena aku tidak mau melihatkan wajah ku kepada kaum Adam yang hadiri di acara kita ini, kecantikan wajahku hanya kamu saja yang boleh melihat nya, jadi ku putuskan untuk menggunakan cadar di hari spesial kita ini!" tutur Husna
Mahesa merasa terharu dengan ungkapan istrinya itu, Mahesa sangat beruntung memiliki istri seperti Husna ini.
"Husna ku, kamu sangat cantik sekali sayang, aku sangat senang jika kamu tau kalau aku tidak suka laki-laki lain melirik istri cantik ku ini!" tutur Mahesa tersenyum mengusap pipi Husna di balik cadar itu.
"Pengantin ku pengantin cadar!" sambung Mahesa
Husna tersenyum di balik cadar nya itu.
...
Bersambung...
Mohon maaf lahir dan batin para readers yang setia membaca cerita author ini.
Author minta maaf jika ada kata-kata author yang salah.
Sekali lagi Mohon Maaf Lahir Dan Batinπππ
__ADS_1