
Baru sehari saja Husna di tinggal oleh Mahesa menurutnya sudah berhari-hari saja, Husna duduk di teras rumahnya guna untuk menanti kepulangan Mahesa.
"Ayah lama banget pulangnya ke sini ya, bunda kangen meluk ayah kamu!" ujar Husna mengusap perut besarnya itu, saat ini Husna sedang ngidam kepengen meluk suaminya, tapi Mahesa entah kapan akan berkunjung ke sini lagi.
Mata Husna tak lepas melirik gerbang yang menjulang tinggi itu, kadang Husna mengintip keluar untuk melihat suaminya, tapi usaha Husna itu sia-sia saja karena Mahesa belum juga berkunjung ke rumah nya ini.
Selama hamil Husna tidak di perbolehkan oleh Mahesa untuk keluar dari rumah ini, sempat saja Husna menginjakan kakinya keluar dari gerbang, Mahesa pasti akan murka pada nya, waktu itu pernah Husna melanggar peraturan Mahesa betapa marahnya Mahesa waktu itu.
Mahesa sangat murka kalau peraturan nya yang ia buat dilanggar, mau Husna istri nya sekalian tetap saja Mahesa murka.
"Iih dia kapan pulang sih?" gerutu Husna
Karena tidak ada pertanda Mahesa akan pulang ia kembali masuk ke dalam rumah itu, kehidupan Husna setelah menikah dengan Mahesa sangat berubah, yang dulunya Husna terus-menerus kena omelan dan kena pukul dengan paman dan bibinya sekarang semua itu telah berubah, hanya saja Husna sering menderita jika tidak menuruti kemauan Mahesa, jika Husna menuruti kemauan Mahesa sudah di pastikan Husna akan bahagia, ya walaupun kita tidak tau kapan kebahagiaan Husna akan berakhir.
Salah satu yang membuat Husna tetap bertahan yaitu ia ingin menyelamatkan pernikahan nya ini sampai kapan pun itu, saat ini saja Mahesa sudah mulai melihatkan sikap baik dan perhatian nya, ya walaupun kadang Mahesa suka egois dan tidak mau peduli.
Ngomong-ngomong kehidupan paman dan bibinya saat ini masih bahagia-bahagia saja, belum ada tanda-tanda teguran dari Allah SWT yang mereka hadapi saat ini. Bahkan kehidupan paman dan bibi nya itu aman dan tentram saja.
Husna duduk di sofa ruang tamu matanya masih melihat ke arah pintu utama, tidak ada pertanda Mahesa akan pulang ke rumah nya ini.
"Ayah mu sangat egois, bunda tidak suka di tinggal seperti ini, kita terlalu sering ia tinggalkan berdua, andai kata bunda bisa pergi ke Jakarta menjemput ayah kamu!" ujar Husna mengusap perut nya itu seraya tersenyum.
Usia kandungan Husna sudah hampir memasuki enam bulan, Mahesa sering meninggalkan Husna, saat bayi mereka berkembang di dalam rahim Husna, Mahesa tidak ada di samping nya, seharusnya saat-saat seperti inilah Mahesa selalu ada di samping Husna.
...
Di rumah sakit tempat Mahesa berkerja, ia sedang memeriksa beberapa pasien nya, Mahesa di sibukkan dengan pekerjaan nya, walaupun kita berpikir pekerjaan dokter itu sangat mudah, tapi dokter itu cara kerjanya banyak menggunakan teori dan praktek nya, saat pendidikan saja mereka akan banyak di bekali skill lap.
Saat ini Mahesa sedang memeriksa pasien nya yang baru saja selesai di operasi, selesai dari itu Mahesa akan berpindah ke ruang rawat yang lain untuk memeriksa pasien lain.
Kali ini Mahesa memeriksa seorang wanita paruh baya, Mahesa tersenyum ramah kepada pasien nya itu.
"Bagaimana bu, apakah masih sakit bekas operasi nya?" tanya Mahesa
"Alhamdulillah tidak terlalu sakit dok, hanya saja masih terasa ngilu!" ujar wanita paruh baya itu
Mahesa mengangguk kecil seraya memeriksa wanita paruh baya itu, "dokter sangat tampan, pasti istri dokter sangat cantik!" ujar wanita paruh baya itu, Mahesa tidak menjawabnya karena pernikahan siri antara dia dan Husna ini hanya orang-orang tertentu yang tau, Mahesa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita paruh baya itu.
"Pasti istri dokter sangat bahagia dengan dokter karena dokter sangat tampan apa lagi pekerjaan nya sangat mulia membantu orang yang sakit!" ujar wanita paruh baya itu
Lagi-lagi Mahesa hanya tersenyum kecil saja menanggapi ucapan wanita paruh baya ini, tidak mungkin Mahesa membeberkan rahasia pernikahan nya ini.
Selesai memeriksa pasien yang sedikit kepo dengan kehidupan Mahesa itu, kini Mahesa kembali ke ruangan nya karena di luar ruangan Mahesa sudah banyak juga pasien yang antri untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah pasiennya itu pulang. Kini pasien itu memeriksa sekali dalam seminggu atau dua kali dalam seminggu.
__ADS_1
Di ruang poli bedah itu sudah ada dua perawat yang akan membantu Mahesa nantinya.
"Adik manis sudah sembuh?" ujar Mahesa memeriksa anak kecil berusia lima tahun itu, anak kecil ini sempat menjadi pasien Mahesa waktu itu anak kecil ini harus di operasi karena di bagian lipatan lutut sebelah kirinya tumbuh benjolan gitu, itulah sebabnya anak kecil ini harus di operasi.
"Dok, apakah setelah ini anak saya tidak akan tubuh benjolan itu lagi?" tanya ibu dari anak itu.
"Kalau sering kita kontrol, insyaallah dengan izin Allah benjolan itu tidak akan tubuh lagi!" ujar Mahesa, kini Mahesa sedang membuatkan resep obat untuk pasien nya itu.
Saat ini pasien Mahesa yang akan kontrol ada sekiranya lima belas orang, dari tadi Mahesa sudah memeriksa sepuluh orang pasien, kini tinggal lima orang lagi yang akan Mahesa periksa.
Selesai sudah Mahesa memeriksa pasien nya itu, kini Mahesa sedang beristirahat di ruang nya itu, Mahesa membuka jas putih khas dokter itu. Mahesa menghela napas ia mengambil telepon genggam yang sering menghubungi nomor bik Yatri dan mang Udin, Mahesa menghidupkan telepon genggam yang sudah satu hari ini ia nonaktifkan.
"Tuan!" ujar Hendri
"Ya!" ujar Mahesa meletakkan kembali telepon genggam nya itu.
"Maaf saya menganggu, saya hanya mau ke sini saja!" ujar Hendri duduk di kursi yang ada di depan Mahesa.
"Ada apa?" tanya Mahesa
"Oh iya apakah mama sama papa saya sering ke rumah saya?" tanya Mahesa karena ia teringat waktu itu orang tua nya mendatangi nya ke rumah nya sendiri.
"Untuk kali ini tidak pernah ya!" ujar Hendri dengan berbicara informal karena mereka hanya berdua, Hendri sudah menganggap Mahesa ini sebagai kakak laki-laki nya.
"Baguslah!" ujar Mahesa
"Selama rahasia ini tertutup dengan rapat pasti mereka tidak akan tau, kecuali lo yang beri tahu mereka!" ujar Mahesa
"Ya kali gue mau membeberkan rahasia lo ke nyokap bokap lo, gue akan jaga rahasia ini sampai kapan pun itu, ya... kalau nyokap atau bokap lo sudah tau dari lo, mungkin gue akan cerita juga, ini semua tergantung lo sih!" ujar Hendri.
"Harusnya lo bisa jaga rahasia ini!" ujar Mahesa
"Pergi sana, gue mau nanya kabar anak gue dulu!" ujar Mahesa, Hendri mencibirkan bibir bawahnya seakan meledek Mahesa, kini Hendri keluar dari ruangan Mahesa itu.
Mahesa mengambil telepon genggam itu lagi ia akan menelepon bik Yatri guna untuk menanyakan kabar Husna dan calon anaknya.
"Gimana bik aman kan?"
"Alhamdulillah aman saja tuan, hanya saja nyonya jadi sering murung karena tuan sering meninggalkan nya!" beritahu bik Yatri di sebalik sambungan telepon itu.
"Hmm... terus apakah Husna sering mengerjakan pekerjaan yang berat?, jika Husna melakukan pekerjaan yang berat tolong larang dia bik, saya tidak mau terjadi sesuatu dengan anak saya!"
"Baik tuan bibik akan pastikan nyonya tidak akan melakukan pekerjaan berat!" ujar bik Yatri di sebalik sambungan telepon itu.
__ADS_1
...
Saat Hendri keluar dari ruang Mahesa itu ia tersenyum karena Mahesa sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Husna dalam hidup nya.
Kini Hendri sedang berjalan di koridor rumah sakit tempat ia bekerja itu, Hendri menghentikan langkahnya karena ia melihat kedua orang tua Mahesa datang ke rumah sakit ini, tumben sekali kedua orang tua Mahesa datang ke sini.
"Tuan besar, nyonya besar!" gumam Hendri
"Bisa gawat jika mereka tau kalau Mahesa sedang teleponan dengan Husna!" lirih Hendri.
Hendri berlari ke ruangan Mahesa kembali, ia mengambil telepon Mahesa itu, "gawat tuan besar sama nyonya besar ke sini!" ujar Hendri memberitahu Mahesa.
Mahesa yang sempat ingin berbicara dengan Husna lewat panggilan telepon itu jadi tidak jadi, karena Hendri sudah lebih dulu merebut telepon genggam milik Mahesa.
"Mahesa!" sapa mama nya itu sudah masuk ke dalam ruangan Mahesa.
"Eh nyonya amor, tuan Radyta!" sapa Hendri dengan senyum manis nya.
"Papa sama mama ngapain ke sini?" tanya Mahesa tidak suka dengan kehadiran orang tua nya, Mahesa tidak suka dengan kehadiran orang tua nya ini karena orang tua nya ini akan selalu membahas tentang perjodohan lalu pernikahan.
"Cuma melihat saja tidak boleh?, siapa yang ngelarang kita ke sini, kalau kamu lupa jika rumah sakit ini milik keluarga kita!" ujar papa Radyta
Mahesa mengangguk kecil, mama amor melihat gelagap putranya itu yang sangat aneh saja baginya.
"Hendri apakah Mahesa selama ini pulang ke rumah nya?" tanya amor ke Hendri, jika amor menanyakan ke putra nya itu sudah pasti jawabannya selalu iya.
"Hmm... anu nyonya, Mahesa sering tidur di apartemen milik saya!" ujar Hendri terpaksa berbohong.
"Mama sama papa apan sih ngapain nanya-nanya tentang hesa?" ujar Mahesa
"Kamu kan sering berbohong!" ujar mama amor
"Sudahlah kalian pulang aja, hesa banyak pekerjaan, jadi hesa tidak bisa meladani ucapan kalian!" ujar Mahesa
"Kami ke sini hanya ingin memberitahu jika selama satu bulan atau dua bulanan kami akan nginap di rumah kamu!" ujar Radyta
Mahesa menghela napas berat, jika orang tua nya menginap di rumahnya, Mahesa tidak akan bisa pulang ke Bandung untuk mengunjungi Husna.
"Kenapa kalian nginap selama itu?, rumah kalian kenapa?" tanya Mahesa
"Di renovasi!" jawab amor
Sekali lagi Mahesa menghela napas berat, sudah dipastikan Mahesa tidak bisa berkutik jika mama dan papanya itu berada dekat dengan nya terus.
__ADS_1
...
Bersambung...