Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 7. Kemarahan Mahesa


__ADS_3

Mahesa menghampiri Husna yang lagi mengurung diri nya di kamar, Husna tidak mengunci pintu itu bahkan dengan mudah nya Mahesa dapat masuk.


"Hiks...hiks...hiks...!" Mahesa dapat mendengar kalau Husna lagi menangis, Mahesa tidak mau peduli mau Husna nangis mau tidak itu bukan urusan nya, yang hanya ia mau kan yaitu keturunan secepat mungkin.


"Jangan nangis di hadapan saya, jika kamu mandul apa guna nya saya menikahi kamu!" ujar Mahesa


Husna masih terisak-isak ia tidak mempedulikan Mahesa lagi bicara, dia masih sakit hati saat Mahesa menuduh diri nya tidak bisa hamil alias mandul.


"Ck, bibi sama paman kamu tidak memeriksa terlebih dahulu apa, kalau kamu ini mandul, saya jadi sia-sia menikahi gadis mandul seperti kamu!" ujar Mahesa


Husna menghapus air mata nya lalu ia berdiri di hadapan Mahesa ia tatap mata itu dengan marah.


"Aku tidak mandul!" ujar Husna berderai air mata lagi, ia mengusahakan diri nya agar tetap kuat di hadapan Mahesa dan ia mengakui jika diri nya tidak mandul dengan apa tuduhan Mahesa tadi.


Mahesa tersenyum sinis lalu ia menghindari kontak mata langsung dengan Husna.


"Kalau kamu tidak mandul coba beri saya keturunan!" ujar Mahesa


Husna langsung bungkam dia bahkan terjebak dengan kata-kata nya sendiri, niat hati ingin membela diri nya tapi malah terjebak sendiri dengan kata-kata nya.


"Allah SWT belum mempercayai kita!" ujar Husna


"Oh ya?" ujar Mahesa tidak di mengerti oleh Husna


Husna diam lagi air mata nya itu masih mengalir, ia harus apa saat ini, tidak mungkin Husna mengakui jika ia meminum obat kontrasepsi itu.


Mahesa menyeret paksa Husna ke salah satu ruangan yang tak pernah Husna ketahui, di dalam ruangan itu terdapat banyak alat-alat kedokteran, Husna melihat Mahesa yang menyuruh dia naik ke atas brankar.


"Naik, saya akan periksa kamu, apakah kamu mandul atau tidak!" ujar Mahesa


Husna langsung turun dari brankar itu, ia tidak mau di periksa oleh Mahesa, padahal Mahesa hanya menguji Husna saja, mana mungkin Mahesa mengetahui Husna mandul atau tidak, Mahesa tidak dokter kandungan ia hanya dokter umum, mana tau dia tentang kesuburan seseorang itu.


"Hiks... aku tidak mandul dengan apa yang kamu tuduhkan, aku subur dan sehat walafiat!" bantah Husna


Mahesa menaikan sebelah alis nya, kini Mahesa membawa Husna ke rumah sakit, ia mau membuktikan dengan cara konsultasi dengan dokter kandungan.


"Aku tidak mau ikut kamu hiks... aku tidak mau!" tangis Husna memukul tangan Mahesa yang menggenggam dengan kuat pergelangan tangan nya.


Bik Yatri dan mang Udin melihat itu jadi sedih karena nyonya mereka di perlakukan sangat kasar oleh tuan nya.

__ADS_1


"Hiks... bibik tolong aku bik!" ujar Husna bagaikan anak kecil meminta bantuan kepada orang.


Mahesa terus menyeret Husna masuk ke dalam mobil, tapi Husna tidak mau, dengan kekuatan yang masih ada Husna menginjak kaki Mahesa agar Mahesa melepaskan nya.


"HUSNA, KAMU NURUT SAJA APA YANG SAYA LAKUKAN!" bentak Mahesa langsung membuat Husna berhenti memberontak.


Bik Yatri dan mang Udin juga kaget dengan kemarahan dari tuan mereka itu.


"Bik bagaimana atuh?" ujar mang Udin


"Bibik juga tidak tau mang!" ujar bik Yatri


Husna sudah masuk ke dalam mobil, ia sangat takut saat Mahesa membentak dia tadi, Husna terdiam duduk di sebelah Mahesa.


Mahesa tidak berbicara lagi dia hanya fokus membawa mobil, Husna berpikir keras agar mereka tidak jadi sampai ke rumah sakit.


"Mas aku mohon mas jangan bawa aku ke rumah sakit!" ujar Husna memohon pada Mahesa.


Permohonan Husna tidak di pedulikan oleh Mahesa, mau apa pun yang Husna lakukan tetap tidak di pedulikan oleh Mahesa.


Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah sakit, Husna sudah was-was sekali, jika dokter memeriksa nya sudah pasti dokter itu tau kalau Husna selama ini mengonsumsi obat kontrasepsi itu.


Mahesa tersenyum sinis lalu melihat Husna yang dari tadi tak berhenti menangis.


"Kenapa ha?, kamu takut?" ujar Mahesa melemparkan obat kontrasepsi itu kepada Husna.


Deg


Husna langsung berhenti menangis ia sangat syok saat Mahesa telah mengetahui nya, kebohongan yang di sembunyikan oleh Husna terbongkar juga.


"Apa maksud kamu?" tanya Mahesa sudah memberhentikan mobil nya di pinggir jalan.


Husna menundukkan kepalanya ia sangat takut dengan kemarahan Mahesa.


"Perjanjian tetap perjanjian, kamu harus melahirkan anak untuk saya!" ujar Mahesa


"Tidak, aku tidak mau!" bantah Husna


Mahesa mencengkram tangan Husna lalu memutar tangan Husna ke belakang, Husna menangis saat tangan nya itu merasa sakit.

__ADS_1


"Hiks... sakit mas hiks... sakit!" Mahesa tidak mau peduli mau Husna sakit atau tidak ia tetap tidak melepaskan tangan Husna itu.


"Sekali lagi kamu meminum obat sialan itu, saya pastikan kamu tidak akan pernah melihat paman dan bibi kamu itu!" ujar Mahesa


"Jangan apa-apa kan mereka, aku mohon mas!" ujar Husna


Walaupun paman dan bibi nya itu selalu menyakiti nya, tapi tetap saja Husna tidak mau apa-apa dengan paman dan bibi nya itu, di dunia ini hanya mereka lah keluarga Husna.


Mereka kembali ke rumah nya lagi, Husna langsung di seret oleh Mahesa ke kamar nya.


"Berani-beraninya kamu menghalangi saya, saya tidak akan memberi ampun untuk kamu!" ujar Mahesa mendorong tubuh Husna ke atas ranjang.


Husna menangis sesenggukan karena Mahesa sangat kasar dengan nya, baru kali ini Husna merasakan kekasaran seorang laki-laki.


...


Husna terkapar lemas oleh ulah Mahesa tadi, tidak ada ampun sama sekali untuk Husna karena ia telah bermain-main dengan perjanjian yang telah di sepakati.


Husna bangkit dari tidur nya tubuh nya terasa sakit semua, Husna tidak menemukan Mahesa lagi, kini ia membersihkan tubuh nya di kamar mandi.


"Hiks... hiks... sekarang aku harus apa?"


Husna tidak bisa berbuat apa-apa karena Mahesa lah yang berkuasa, bahkan ia tidak bisa melakukan apa pun selain menuruti keinginan Mahesa.


"Aku tidak mau aku harus apa sekarang?" lirih Husna menatap pantulan wajah nya di cermin, wajah nya sudah sembab akibat menangis dari tadi.


Azan magrib pun berkumandang, Husna mengambil wudhu lalu ia melaksanakan sholat magrib.


Selesai sholat, Husna membaca ayat kursi terlebih dahulu. Barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat wajib, maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian." (HR An Nasa'i).


"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim.


Selesai Husna membaca ayat kursi lalu ia melanjutkan dengan berdo'a.


"Hiks... ya Allah Husna tidak mau terikat dengan perjanjian ini, bantulah Uus ya Allah, Uus hanya ingin kebahagiaan hanya itu saja ya Allah, Uus tidak sanggup hidup seperti ini terus ya Allah, berilah Uus jalan keluar ya Allah, karena engkau maha mengetahui dan maha pemberi pertolongan!"


Selesai Husna melaksanakan tugas nya sebagai seorang muslimin kini ia duduk di sisi ranjang. Ia hanya pasrah dengan kehidupan nya sekarang, mungkin ini jalan yang terbaik yang Allah Subhana wa ta'ala berikan.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2