Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 42. Sebentar lagi


__ADS_3

Perhatian para readers, alur dan waktu author percepatan saja ya, author tidak mau juga terpaku dengan jalan cerita nya lama, jadi mohon jangan di komentar yang jelek tentang cerita author ini!!!.


Happy reading ๐Ÿ˜˜


1 bulan kemudian...


Husna sudah melewati bulan puasa ramadhan bersama dengan Mahesa, baru pertama kalinya Husna merasakan merayakan hari kemenangan seluruh umat Islam sedunia dengan suaminya itu.


Saat ini hari masih suasana lebaran Idul Fitri untuk Husna, ia tersenyum lebar karena Mahesa menuruti keinginan nya untuk pergi sholat Idul Fitri di masjid yang ia inginkan waktu itu.


Ia masih ingat momen-momen di mana mereka berdua saling tersenyum bahagia dan saling memaafkan waktu itu.


"Bunda masih ingat bagaimana cara ayahmu itu meminta maaf kepada bunda, hati bunda merasa senang sekali, andai momen itu bisa bunda ulang kembali mungkin bunda akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini!"


Saat ini Mahesa sudah balik ke Jakarta, ia sudah berkerja seperti biasa lagi, sulit bagi Mahesa untuk membagi waktunya bersama dengan Husna, sudah tiga hari saja ia di Jakarta tanpa pulang ke Bandung.


Bagi Husna itu tidak masalah karena dalam waktu sebulan terakhir Mahesa banyak meluangkan waktunya bersama dengannya, ia tidak sulit juga untuk memikirkan Mahesa yang sulit bagi Husna saat ini merupakan hari dimana ia akan memberikan anak yang ia kandung ini sepenuhnya untuk Mahesa.


Walaupun mereka berdua sudah di bilang baik hubungan nya, tapi Mahesa hanya ingin meminta anak saja tidak lebih dan tidak kurang.


"Apa bunda sanggup untuk melepaskan kamu pergi bersama dengan ayah mu nanti, bunda tau ayah kamu itu orang yang sangat hebat bahkan pekerjaan nya sangat mulia juga membantu orang sakit, tapi hati bunda merasa berat jika melepaskan kamu!"


Husna bermonolog sendiri ia berbicara dengan anak yang ia kandung itu, tinggal satu bulan lagi maka Husna akan melahirkan anak ini, dan ia akan benar-benar kehilangan.


"Bunda benar-benar takut untuk melepaskan kamu bersama dengan ayah kamu nak, apa boleh buat, bunda tidak bisa berkutik jika bersama dengan ayah mu itu!"


Lagi-lagi bik Yatri mendengar nyonya nya itu yang lagi curhat, bik Yatri juga merasa sedih dan hancur juga melihat nyonya nya itu hancur, andai Allah berkata lain mungkin mereka akan tetap bersama.


Karena tidak tega melihat Husna sedih terus menerus, bik Yatri menghampiri nyonya nya itu.


"Bibik yakin suatu saat nanti nyonya dan tuan akan berkumpul seperti apa yang nyonya Husna inginkan, tidak ada kesulitan dalam hidup ini nyonya, kita harus tetap optimis dan percaya kepada Allah SWT!" ujar bik Yatri dengan senyum sangat lebar, membuktikan kepadanya nyonya nya itu kalau dia berhak bahagia setelah apa yang ia lalui selama hampir setahun ini.


"Semoga saja bik, semoga saja Allah SWT mendengarkan do'a-do'a Uus selama ini!" ujar Husna menggenggam tangan bik Yatri itu seraya tersenyum.


"Bibik lebih senang melihat nyonya bahagia ketimbang sedih seperti ini, apa lagi nyonya sedang hamil besar, tidak baik sedih terus menerus jika saat hamil, nyonya, calon bayi pasti akan merasa sedih jika ibunya bersedih!" ujar bik Yatri


Husna tersenyum simpul, "bagaimana Uus tidak sedih bik, sementara mas Mahesa selalu membuat Uus sedih dan kepikiran dengan ucapan nya itu!" ujar Husna


Bik Yatri terdiam ia tidak tau harus bicara apa-apa, karena ia tidak mau mengikut campuri urusan majikan nya ini.

__ADS_1


"Perbanyak sabar dan berdo'a kepada Allah SWT, nyonya!" ujar bik Yatri


Husna mengangguk samar, sudah banyak do'a dan sudah banyak pula ia bersabar, tapi apa? ia juga tak pernah merasakan kebahagiaan secara utuh itu.


...


Di sisi lain, saat ini Mahesa sedang melakukan operasi ke pasien nya, sudah tiga jam lamanya ia bergelut di ruang operasi itu.


Namun naas pasien yang telah ia operasi itu tidak sadarkan diri, beliau koma pasca operasi itu telah usai.


"Bagaimana kondisi pasien?" ujar Mahesa ke dokter ahli jantung


"Keadaan pasien melemah saat operasi selesai dok, kita harus memberikan alat medis yang memadai untuk pasien!"


Operasi berjalan lancar hanya saja pasien mengalami koma, dokter yang berada di dalam ruang operasi itu membawa pasien ke ruang ICU secepatnya agar pasien bisa mendapatkan pertolongan.


Dokter bersama beberapa perawat itu tergesa-gesa mendorong brankar itu ke ruang ICU rumah sakit ini.


"Dokter hiks... bagaimana dengan kondisi suami saya?" tanya wanita yang seumuran dengan Husna itu ke Mahesa.


Mahesa sempat terdiam ia langsung teringat dengan Husna, Mahesa teringat dengan Husna karena wanita di hadapan nya ini sedang menangis, sama seperti Husna yang menangis karena ulah nya.


Mahesa menghela napas, "pasien mengalami koma pasca operasi telah selesai, kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU, di sana pasien akan mendapatkan pertolongan!" ujar dokter Mahesa Radyta itu.


"Suami saya tidak akan kenapa-napa kan dok?" tanya wanita itu dengan tangis yang sudah mereda.


"Saya juga tidak bisa menjelaskan nya saat ini, baik atau buruknya keadaan pasien saya belum bisa memberikan keterangan nya!" ujar Mahesa


Wanita itu tampak bersedih lagi bahkan air matanya tidak bisa ia bendung lagi, "selamat kan suaminya saya dok!"


Mahesa mengangguk lalu ia berlari menuju ruang ICU itu, di sana dokter dan perawat sudah memasangkan alat medis ke tubuh pasien.


"Keadaan nya semakin melemah!"


"Dokter, pasien kehilangan napas!"


Alat Elektrokardiograf atau EKG itu menunjukkan garis lurus saja, dokter ahli jantung menyuruh perawat untuk menyiapkan Defibrilator untuk memulihkan detak jantung pasien.


Dokter ahli jantung itu berkerja sangat proporsional, dan sangat bersyukur sekali karena detak jantung pasien kembali normal, bahkan angka EKG itu menunjukkan pada angka 0,20 detik yang berati normal.

__ADS_1


Mahesa bersama dokter yang lain keluar dari ruangan itu, sementara keluarga pasien sudah menunggu di ruang tunggu ICU itu.


"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?"


"Kita tidak bisa menjelaskan saat ini bu, ibu berdo'a saja agar pasien cepat sembuh!" ujar dokter Hanif selaku dokter jantung.


"Tapi... apa suaminya saya akan baik-baik saja dok?"


"Ibu tenang saja, kita akan berusaha semaksimal mungkin berkerja untuk menyelamatkan pasien!" ujar Hanif


"Baiklah, terima kasih dokter!"


Hanif bersama rekan-rekannya pergi dari ruang ICU itu, sementara Mahesa kepikiran dengan Husna.


"Kenapa dokter Mahesa?" tanya Hanif melihat Mahesa yang lagi melamun saja.


"Tidak!" jawab Mahesa berbohong.


"Dokter Hanif melihat dokter Hendri? tanya Mahesa


"Bukankah dokter Hendri sedang cuti sekarang?" ujar Hanif


"Ah, iya saya sampai lupa!" ujar Mahesa


Kini Mahesa sedang di dalam ruangan nya, untuk hari ini Mahesa tidak banyak memiliki pasien, apa lagi suasana masih lebaran Idul Fitri, jadinya pasien juga tidak terlalu banyak.


Mahesa membuka galeri handphone nya ia melihat wajah Husna yang lagi tersenyum saat waktu lebaran waktu itu.


"Sebentar lagi, ya sebentar lagi saya akan membawa anak saya pergi!" gumam Mahesa tidak sabar membawa anak nya ke Jakarta dan memperkenalkan nya dengan mama dan papa nya.


...


Bersambung...


Suara para readers mana nih?


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja๐Ÿค”๐Ÿ™„๐Ÿคจ

__ADS_1


__ADS_2