
Mahesa benar-benar menepati janjinya ia pulang setelah dua hari lamanya di Jakarta, Husna juga sudah pulang dari rumah sakit karena keadaan nya sudah lebih membaik.
Husna sedikit kaget dengan Mahesa yang menepati janjinya, biasanya Mahesa tidak pernah menepati janjinya.
Mahesa baru sampai ia sangat lelah sekali karena perjalanan yang menghabiskan waktu setidaknya 2 jam, ia menghampiri Husna yang lagi duduk di sofa ruang tv, entah setan apa yang merasuki dirinya ia malah langsung tidur di paha Husna.
Husna kaget dengan Mahesa yang tiba-tiba saja tidur di pahanya, apa lagi Mahesa tidak berucap apa-apa, Mahesa membenamkan wajahnya di perut besar Husna itu, seakan ia sangat rindu dengan anaknya itu.
"Biarkan saya seperti ini dulu!" ujar Mahesa menatap wajah cantik istri sirinya itu.
Husna menghela nafas ia melihat wajah lelah dari suaminya itu, walaupun lelah nampak di wajah Mahesa tapi tidak mengurangi kadar ketampanan nya.
"Apa kata dokter kemarin?" tanya Mahesa ingin tahu
"Baik-baik saja, kamu pasti tau apa yang di bilang dokter kemarin secara dokter juga menjelaskan nya pada kamu!" ujar Husna
Memang betul kemarin itu dokter juga menjelaskan pada Mahesa kalau Husna tidak boleh banyak pikiran apa lagi sampai stres.
Husna berubah sikapnya karena Mahesa terus-terusan tidak menghargai nya, saat Mahesa berbicara Husna sangat enggan menatap wajah suaminya itu, biasanya Husna akan menatap wajah Mahesa kalau lagi berbicara.
Mahesa menghela nafas karena Husna tidak melihat dirinya saat berbicara, "saya paling tidak suka kalau di cuekin!" ujar Mahesa terang-terangan
Husna tersenyum sinis, "oh ya, tapi kamu yang selalu cuek pada ku, aku tau aku ini hanya wanita untuk melahirkan anak kamu saja, tapi tolong hargai juga aku, aku sering menghargai kamu, tapi kamu apa? tidak pernah sedikitpun menghargai ku!" ujar Husna membuat Mahesa bangkit dari tidurnya.
Mahesa menatap wajah kekecewaan dari istri sirinya itu, makin ke sini semakin membuat hati Mahesa tergerak, apakah Mahesa sudah mulai jatuh cinta atau Mahesa merasa sedih saja melihat seorang wanita bersedih terus-menerus?
Hati seorang mana yang tidak capek untuk melawan rasa cuek seseorang itu, hati mana yang tidak tersakiti saat seorang yang kita hargai malah cuek dan tidak menghargai kita juga.
Mahesa menghela nafas sementara itu Husna beranjak dari sana, ia tidak ingin berdebat lagi dengan Mahesa, semakin mereka ribut semakin membuat Husna banyak pikiran bahkan sampai stres, untuk menghindari itu Husna lebih memilih untuk pergi.
Kini Husna sedang menunaikan sholat Zuhur, Mahesa masuk ke dalam kamar ia melihat Husna yang sedang menunaikan ibadah sholat Zuhur, Mahesa lebih memilih tiduran di kasur empuk nya dari pada mengambil wudhu untuk sholat.
Selesai Husna sholat ia membuka mukena lalu melipat sajadah dan mukena nya lalu menyimpan nya di dalam lemari, Husna melihat sesosok tubuh yang lagi tiduran di kasur, Mahesa tidak tidur nampak dari kakinya yang ia goyang-goyang kan.
"Mau kemana?" tanya Mahesa saat Husna mau keluar kamar.
"Tidak perlu ikut campur urusan ku!" jawab Husna membuat Mahesa langsung duduk, beraninya Husna saat ini melawan semua perkataan Mahesa.
"Tidur di sini temani saya!" ujar Mahesa
"Tidur saja sendiri aku tidak ngantuk!" ujar Husna
"Tapi tidur siang itu sangat di anjurkan, apa lagi sunah nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, nabi Muhammad saat selesai sholat Zuhur akan tidur sejenak!" ujar Mahesa membuat Husna terdiam.
__ADS_1
Mahesa tersenyum kecil karena Husna tidak melawan ucapan nya apa lagi membantah ucapan Mahesa.
"Maaf tapi aku tidak ngantuk!" ujar Husna langsung pergi dari kamar itu.
Mahesa mengepalkan tangannya karena Husna membantah ucapan nya, Mahesa sangat pantang kalau ucapan nya di bantah.
"Husna beraninya kamu!" lirih Mahesa sambil mengertakan gigi nya.
...
Malam harinya saat makan malam Husna tidak menyiapkan makanan untuk Mahesa, kali ini Mahesa sendiri yang mengambil makanan nya sendiri.
Husna dari tadi tidak mengajak Mahesa berbicara, ia lebih menikmati makanan yang sedang ia makan, sekali-kali Mahesa mencuri pandang ke arah Husna.
"Banyakin makan sayur!" ujar Mahesa
"Tau!" jawab Husna ketus
Selesai makan malam Mahesa meninggalkan Husna yang makanya sangat lambat, Husna sengaja memperlambat menyelesaikan makan nya karena ia tidak mau Mahesa mengajak ia bicara.
Selesai makan pun Husna memilih untuk membereskan piring kotor bekas makan nya, bik Yatri juga membantu Husna, karena Husna baru keluar dari rumah sakit jadinya bik Yatri melarang Husna untuk mengerjakan tugas yang menjadi tugas bik Yatri.
"Sebaiknya nyonya istirahat saja!" ujar bik Yatri
"Uus malas istirahat bik, biarkan Uus yang kerjain ini semua, cuma cuci piring aja anak SD juga bisa bik!" ujar Husna dengan senyum manis
Husna memelas lalu pergi dari sana karena perkataan bik Yatri itu ada benarnya, Husna keluar dari dapur itu dengan memanyunkan bibirnya.
"Di bilangin malah tidak mau, keras kepala banget!" ujar Mahesa memangku tangannya ke dada sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding.
Husna kaget dengan Mahesa yang berdiri tegak sangat tinggi tubuhnya itu membuat Husna mengusap-usap dadanya.
"Kaget!" lirih Husna tambah memanyunkan bibirnya
Husna pergi berlalu dari hadapan Mahesa itu, ia menaiki anak tangga dengan hati-hati, Mahesa memperhatikan Husna lalu ia berlari ke tempat Husna.
"Besok kita pindah kamar!" ujar Mahesa langsung mengendong tubuh Husna ala bridal style, karena takut jatuh Husna langsung melingkarkan tangannya di leher Mahesa, tetap sama seperti tadi ia masih memanyunkan bibirnya.
Mahesa menurunkan Husna di tempat tidur, Husna tidak berbicara ia malah turun dari tempat tidur itu, "aku mau sholat!" ujar Husna
Mahesa mengangguk kecil melihat kepergian Husna ke kamar mandi itu, Mahesa tersenyum karena terbayang wajah manyun Husna tadi.
"Ha lucu sekali!" lirih Mahesa
__ADS_1
Hati Mahesa tetap seperti batu yang sangat susah untuk di cairkan ataupun di hancurkan, ia masih melalaikan kewajiban sebagai hamba Allah Subhana wa ta'ala.
Husna menghela nafas melihat Mahesa yang sangat sulit untuk di ajak ke jalan yang lebih baik, Husna menangis melihat suaminya itu tidak melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah.
"Kapan kamu bisa berubah mas, melihat kamu sholat saja sudah senang hatiku, tapi kapan aku bisa melihat nya?" batin Husna
Mahesa hanya memperhatikan istrinya itu sedang menunaikan ibadah sholat isya, dari awal sampai akhir Mahesa terus memperhatikan gerak sholat Husna, sampai Husna selesai sholat ia tetap saja memperhatikan Husna.
Kini Husna berbalik ke belakang tatapan mata mereka saling beradu, Husna langsung membuang muka.
"Kamu mau kemana?" tanya Mahesa saat Husna membuka pintu kamar.
"Terserah aku!" jawab Husna
Husna berencana tidur di kamar tamu karena ia tidak mau tidur sekamar dengan suami dingin yang sudah mati rasa ini, Mahesa sangat kesal dengan perilaku Husna yang seperti ini, ia turun dari tempat tidur dan langsung mencengkram tangan Husna.
"Kamu mulai keras kepala sekarang?" ujar Mahesa
"Lepas!" ujar Husna menepis tangan Mahesa tapi tidak bisa dilakukan nya karena tangan Mahesa mencengkram kuat tangan Husna.
"Tidur!" titah Mahesa
"Aku tidak sudi tidur dengan laki-laki seperti mu!" ujar Husna sudah mulai berani melawan Mahesa, waktu itu Mahesa pernah bilang jika Husna harus jadi kuat dan tidak mudah lemah jika ditindas, sekarang Husna akan menunjukkan sisi kekuatan nya agar Mahesa tidak semena-mena padanya.
"Si*l kenapa dia jadi keras kepala begini?" batin Mahesa
Tanpa banyak bicara lagi Mahesa langsung mengendong tubuh Husna yang sudah mulai berat itu, Mahesa meletakkan Husna di atas tempat tidur.
"Diam!" ujar Mahesa saat Husna ingin protes
"Laki-laki egois!" gerutu Husna
"Keras kepala!" ujar Mahesa
"Sana jauh-jauh jangan dekat-dekat dengan ku!" ujar Husna mendorong dada Mahesa karena Mahesa terlalu dekat dengan nya.
"Saya mau dekat dengan anak saya bukan dengan kamu!" ujar Mahesa membuat Husna jadi malu sendiri.
Tangan besar Mahesa mengusap perut Husna itu, entah kenapa Husna jadi ikut merasakan tenang saat tangan besar Mahesa itu mengusap-usap lembut perut buncitnya.
"Malam mas!" ujar Husna tanpa sengaja mengucapkan selamat malam kepada suami dingin nya itu.
"Malam juga bunda!" balas Mahesa membuat hati Husna menghangat, Husna pikir Mahesa tidak mau menjawab tapi Mahesa mau menjawab selama malam nya itu, apa lagi dengan sebutan Mahesa terhadap Husna.
__ADS_1
...
Bersambung...