
2 bulan kemudian...
Sudah dua bulan saja Mahesa meninggalkan Husna, sudah dua bulan juga Husna kesepian tanpa kehadiran suaminya itu, kehamilan Husna sudah memasuki bulan yang ke-7 tinggal dua bulan lagi ia akan melahirkan seorang anak untuk suaminya itu.
Memikirkan untuk melahirkan anak untuk suaminya itu membuat Husna merinding, selesai melahirkan maka selesai juga perjanjian kontra itu, pernikahan siri ini akan berakhir juga.
Husna menghela napas dalam-dalam, dadanya sangat sesak saat isi perjanjian kontrak itu terbayang dengan nyata oleh nya, di poin terakhir perjanjian itu tertulis bahwa Husna harus sepenuhnya menyerahkan anak yang ia lahirkan kepada Mahesa.
"Tidak, mas Mahesa tidak boleh membawa anak ku pergi!" dengan deraian air mata Husna meluk perut nya itu seakan tidak boleh orang yang menyentuh perutnya itu.
"Anak bunda harus sama bunda terus, tidak ada seorang pun yang memisahkan kita termasuk ayah kamu!"
Husna memikirkan cara agar Mahesa tidak membawa anak mereka itu saat lahir nanti, tidak akan Husna biarkan Mahesa membawa anaknya itu pergi.
"Bunda tidak mau kehilangan kamu, bunda akan usahakan hiks... bunda akan usahakan ayah mu tidak akan membawa kamu dari bunda hiks..."
...
Mahesa sudah balik dari luar kota ia mendapatkan cuti selama tiga hari karena ia sudah bertugas di luar kota waktu itu, Mahesa di berikan waktu senggang untuk beristirahat, kesempatan ini tidak di sia-sia kan oleh Mahesa.
Saat ini Mahesa sedang di rumahnya, kedua orang tuanya sudah balik ke rumah utama karena rumah utama sudah siap di renovasi.
Mahesa bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung guna mengunjugi istri sirinya itu selama dua bulan ia tidak bertemu, betapa rindunya Mahesa kepada anak yang di kandung oleh Husna.
Para art rumah Mahesa itu sangat heran dengan tuannya ini, setiap kali Mahesa pulang pasti akan pergi lagi, semua art itu sangat heran dengan tuan mereka itu, tapi mereka tidak sanggup bertanya karena takut dengan Mahesa.
"Tuan Mahesa kenapa balik lagi ya, bahkan dia tidak pernah tidur di rumahnya ini, sudah hampir satu tahun tuan seperti ini!" ujar Mei Mei.
"Tidak tau, saya juga berpikir seperti itu juga Mei Mei!" ujar Saripah
Mereka berdua art Mahesa yang sangat kepo dengan kehidupan Mahesa, apa lagi Mei Mei yang menyukai majikan nya itu.
"Apa tuan punya istri ya!" ujar Saripah
"Kepala mu itu, tuan Mahesa hanya jadi milik saya!" ujar Mei Mei sangat percaya diri.
Mahesa mengendari mobil nya saat ini ia akan menuju ke Bandung, saat jam sepuluh pagi ini ia pergi nanti sekitar jam 12 siang ia akan sampai, sebelum memasuki tol Mahesa mampir terlebih dahulu di toko buah-buahan, ia tidak lupa membelikan Husna buah kesukaan nya.
Setelah dapat buah-buahan yang ia beli kini Mahesa mengendari mobilnya itu, senyum nya selalu nampak saat tak sabar akan sampai di rumahnya itu.
__ADS_1
Husna sedang duduk di teras rumah ia sedang mengamati bunga-bunga yang ia tanam waktu itu, banyak kegiatan yang Husna lakukan di rumah ini, tapi sayangnya ia tidak boleh keluar dari gerbang rumahnya ini, Husna hanya di perbolehkan mengelilingi pekarangan rumah nya ini.
"Sudah dua bulan mas Mahesa tidak balik ke sini lagi, dia apa kabar ya?"
Husna mengintip di gerbang rumahnya itu, ia melihat keluar gerbang hanya untuk sekedar melihat-lihat saja, bertepatan itu juga mobil Mahesa juga sampai di gerbang itu, Husna membulatkan matanya karena melihat sebuah mobil yang tidak ia kenal.
"Siapa itu, apakah tamu?" pikir Husna ia tidak kepikiran dengan Mahesa, bisa jadi suaminya pulang.
Mahesa membunyikan klakson mobil nya agar mang Udin membukakan gerbang yang menjulang tinggi itu, mobil pun masuk ke pekarangan rumah, Husna mengamati mobil itu ia masih berdiri di pos satpam itu.
"Nyonya kenapa tidak menemui tuan!" ujar mang Udin
"Oh ya!" ujar Husna
"Kenapa mobilnya berbeda!" pikir Husna
Mang Udin tersenyum kecil saja, "itu tuan nyonya, tuan sering menukar-nukar mobilnya!" ujar mang Udin
Husna menghampiri mobil Mahesa itu, sementara itu Mahesa belum turun karena dia menjawab telepon dari Hendri terlebih dahulu.
"Kamu urus saja dulu, saya lagi cuti tiga hari!" ujar Mahesa di balik sambungan telepon itu.
"Baik tuan!"
"Bagaimana kabar anak saya?" tanya Mahesa
"Baik!" jawab Husna
"Bawa apa?" tanya Husna saat Mahesa menenteng dua kantong plastik, Mahesa memberikan kantong plastik itu pada Husna.
Tangan Mahesa mengusap perut Husna yang semakin besar itu, "anak ayah di sana baik-baik saja kan, ayah kangen sama kamu!" ujar Mahesa, Husna hanya diam saja memperhatikan Mahesa.
"Kapan kamu akan menanya kabar ku saat kamu baru pulang seperti ini, aku juga pengen di perhatikan seperti anak kita ini!" batin Husna
Kini mereka berdua masuk ke dalam rumah, seperti biasa Mahesa merebahkan kepalanya ke paha Husna, ia mengarahkan wajahnya ke perut Husna itu, Mahesa tersenyum sangat bahagia karena sebentar lagi anak yang di kandung oleh Husna akan lahir.
"Mas!" ujar Husna
"Hmm!"
__ADS_1
"Surat perjanjian kontrak itu bagaimana!" ujar Husna ingin meminta kepada Mahesa untuk menghapus isi perjanjian yang poin terakhir.
"Bagaimana apa nya, surat itu masih utuh!" jawab Mahesa
"Tapi mas!" ujar Husna
"Sudah jangan di bahas, setelah anak ini lahir kamu akan bebas dari saya, saya juga bebas dari kamu!" ujar Mahesa tanpa beban mengucapkan itu.
Husna menyingkirkan kepala Mahesa di pahanya itu, ia menitikkan air matanya, ternyata ia salah telah mencintai Mahesa yang tidak akan pernah mencintai nya.
"Hiks... aku tidak mau berpisah dari anak ini, hiks... jangan pisahkan kami!" ujar Husna
Mahesa membulatkan matanya ia sudah marah dengan permintaan Husna ini, mana mungkin Mahesa mengabulkan permintaan Husna.
"Jangan buat saya marah!" ujar Mahesa dengan rahang yang sudah mengeras menahan amarahnya.
"Hiks... tapi aku tidak mau mas!" ujar Husna
Dada Mahesa sudah naik turun karena menahan marah, Mahesa mencengkram kuat rahang Husna.
"Jangan kamu pikir saya berubah pikiran, setelah anak ini lahir kamu tidak berhak atas anak ini, saya menikahi kamu hanya ingin meminta seorang keturunan, PAHAM!" bentak Mahesa melepaskan rahang Husna itu dengan cara mendorong nya.
Dukk
Prangg
Mahesa menendang meja di hadapan nya itu dan melempar vas bunga yang berada di atas bunga itu, Husna sampai terkejut dengan perbuatan Mahesa itu, Husna menangis terisak-isak masih duduk di sofa itu.
Bik Yatri tergopoh-gopoh mengejar ke sana dengan baru apa saja yang terjadi, bik Yatri melihat vas bunga itu sudah pecah di lantai apa lagi bik Yatri melihat nyonya nya itu terisak-isak di sofa ruang tv itu.
"Astagfirullah alhazim... apa yang terjadi nyonya!" ujar bik Yatri memeluk tubuh Husna
"Hiks... hiks... hiks... bik...!" Husna tidak dapat bicara hanya suara tangis saja yang terdengar dari mulutnya itu, bik Yatri juga menangis karena terbawa suasana, bik Yatri mengusap-usap punggung Husna itu guna untuk menenangkan Husna.
"Sudah nyonya jangan nangis lagi..." ujar bik Yatri
Husna tambah mempererat pelukannya pada bik Yatri, rasa takut karena kemarahan Mahesa tadi membuat dia merinding.
Sama saja permintaan Husna ini memicu kemarahan Mahesa, Husna tidak tepat bicara saat hati Mahesa lagi panas-panasnya karena ada masalah dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
...
Bersambung...