Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 22. Sulit Menebak Sikap


__ADS_3

Malam harinya hati Husna sudah membaik karena dia sudah mendapatkan penjelasan dari Mahesa kalau dialah istri satu-satunya Mahesa, hatinya sangat senang saat mendapatkan kebenaran langsung dari mulut Mahesa.


Kini Husna sangat antusias menyiapkan makan malam untuk suaminya itu, sudah empat bulan lamanya mereka berpisah barulah sekarang Husna menyiapkan makan untuk suaminya itu.


Ada kebahagiaan yang di rasakan oleh ibu muda itu, senyum manis selalu nampak dari wajah imut-imut nya itu.


Bibik Yatri juga dapat merasakan kebahagiaan dari majikan nya itu, sekian lama bik Yatri menunggu momen harmonis dari majikan nya ini akhirnya bik Yatri bisa menyaksikan nya langsung.


"Alhamdulillah ya nyonya akhirnya tuan pulang juga setelah empat bulan lamanya tidak pulang ke sini!" ujar bik Yatri mengajak Husna berbicara


"Iya bik, Uus sangat senang akhirnya mas Mahesa pulang juga, apa lagi bayi yang aku kandung ini dia sangat senang!" ujar Husna memberi tahu kesenangan nya.


Bik Yatri tersenyum lebar mendengar nya, Mahesa tiba di meja makan itu lalu bik Yatri pamit dari sana karena ia tidak mau menganggu pasangan yang lagi harmonis itu.


"Mas Mahesa mau apa?" tanya Husna saat ia mau mengambilkan Mahesa lauk.


Mahesa melihat banyak makanan malam yang terhidang di atas meja makan ini, tidak biasanya Husna masak sebanyak ini apa ini bentuk rasa syukur nya karena suaminya pulang?


"Tumben masak banyak?" bukanya menjawab pertanyaan Husna tadi, Mahesa malah menanyakan masakan yang banyak ini.


"Untuk kamu!" jawab Husna tersenyum manis Mahesa yang melihat senyum Husna itu jadi terpana karena baru sadar senyum istrinya itu sangat manis.


Pertanyaan jadi kemana saja Mahesa kenapa dia baru sadar kalau senyum istrinya sangat manis?


"Mas Mahesa mau apa?" mengulangi pertanyaannya tadi, Mahesa terkejut dari lamunan nya, ia gagal fokus dengan senyum istri sirinya itu.


"Oh apa tadi?" tanya Mahesa


Husna menghela nafas sambil tersenyum kecil, ia mengambilkan suaminya itu sepotong ayam bakar berserta lauk yang lainnya.


Mahesa tidak fokus makan karena ia selalu melirik ke arah Husna yang sedang makan, Husna makan sambil menampakkan senyum nya, Mahesa tidak jadi menghabiskan makan nya karena melihat senyum istrinya itu membuat dia jadi kenyang.


Husna sadar kalau dari tadi dia di perhatikan oleh Mahesa, Husna merasa canggung karena mata Mahesa tidak berkedip saat melihat dirinya.


"Hekhem!" Husna berdehem untuk mengalihkan atensi suaminya itu.


Mahesa kaget lalu mengedipkan matanya karena sudah lama tak ia kedip kan, "mas kenapa?" tanya Husna

__ADS_1


"Tidak!" jawab Mahesa kembali bersikap jutek


Husna lebih dulu menyelesaikan makan malam nya kini tinggal Mahesa yang masih makan, ia tidak bisa menelan makanan nya itu karena di benak nya terbayang senyum manis Husna tadi.


"Mas kenapa! makanan nya nggak enak ya?" tanya Husna


Bukanya menjawab pertanyaan Husna, Mahesa malah gelagapan wajah nya sudah memerah, Husna mengerutkan keningnya karena tingkah aneh Mahesa.


"Kamu kenapa sih mas?" tanya Husna


"Sudah cukup!" bentak Mahesa


Husna langsung menutup matanya saat Mahesa membentak Husna, ada rasa sedih kembali di hati Husna ini. Mahesa menghela nafas sambil melihat Husna yang lagi memejamkan mata nya, ada rasa bersalah melanda hati Mahesa.


"Maaf!" ujar Mahesa


Husna membuka matanya ia tersenyum kecil seraya mengangguk kecil.


Selesai Mahesa makan ia lebih memilih menjauh dari Husna karena ia tidak mau mengulangi perbuatan nya tadi. Husna membereskan piring kotor itu ke wastafel, bik Yatri sudah melarang nya tapi Husna tetap memaksa biar dia yang melakukan semuanya.


Tidak mungkin bik Yatri menanyakan masalah majikan nya ini, bik Yatri hanya menyimpan rasa ingin tahunya itu.


Selesai Husna mencuci piring kotor kini ia duduk di sofa dekat tv, ia menerawang jauh tatapan matanya kosong, tanpa di sadari bulir bening mengalir di pipinya.


"Kenapa ayah kamu membentak bunda lagi?, bunda pikir ayah kamu sudah berubah tapi nyatanya tidak, baru saja bunda merasakan kebahagiaan itu datang pada diri bunda tapi itu hanya sesaat saja, ayah kamu kembali bersikap dingin lagi!" curhat Husna ke kandungan nya itu.


Di dalam kamar Mahesa sedang menggusar-gusar wajah nya karena ia terbayang dengan bentakan nya tadi terhadap Husna.


"Kenapa saya terus kepikiran itu terus?, biasanya tidak seperti ini!" gumam Mahesa


Husna pergi ke kamar ia hendak menunaikan ibadah sholat isya, kebetulan pula Husna sudah mengambil air wudhu di lantai bawah sekarang ia tak perlu repot untuk berwudhu lagi, kini Husna menyelenggarakan sajadah nya menghadap kiblat.


Mahesa hanya memperhatikan setiap gerak dari istrinya itu, ia diam tanpa harus berkata apapun, biasnya mereka seperti ini juga saling diam.


Bahkan sekarang mereka seperti orang asing lagi, selesai menunaikan sholat isya Husna langsung tidur tanpa harus berbicara dengan Mahesa, biasanya sebelum tidur pasti Husna banyak ocehannya tapi sekarang berbeda.


Mahesa melihat Husna dengan intens nya sampai Husna berbaring ia juga ikut berbaring, satu tangan nya sudah mendarat di perut besar Husna ia mengusap-usap perut itu dengan usapan lembut dan kasih sayang.

__ADS_1


Mereka tidur saling berdekatan, Husna memunggungi suaminya itu ia berusaha menetralkan bunyi detak jantung nya yang tidak karuan ini.


"Kamu marah?" tanya Mahesa tepat di telinga Husna ia berbicara.


"Nggak!" jawab Husna singkat


"Saya kira kamu marah!" ujar Mahesa


"Untuk apa aku marah, kamu tidak punya salah yang salah aku!" ujar Husna


"Maaf soal yang tadi saya tidak sengaja membentak kamu!" ujar Mahesa


"Jangan di pikirkan!" ujar Husna


Mahesa mengangguk kecil, Mahesa tambah mendekatkan tubuhnya pada tubuh Husna, ia membenamkan wajahnya di punggung istri nya itu tangannya masih setia mengusap-usap perut besar Husna itu.


"Anak ayah sehat-sehat di sana ya!" ujar Mahesa lalu ia menutup matanya.


Husna menghela nafas karena sikap Mahesa yang gampang berubah, kadang ia baik dan pengertian kadang sikap cuek, dingin dan tak pengertian nya itu datang juga.


"Sulit untuk ku menebak sikap kamu mas!" batin Husna


Mahesa sudah tidur dengan nyenyak nya tangan nya juga sudah berhenti mengusap perut besar Husna, Husna berbalik menghadap suaminya itu, ia perhatikan wajah tampan yang membuat Husna tanpa sadar sudah jatuh cinta, Husna mengusap-usap pipi suaminya itu dari jarak dekat ia melihat wajah Mahesa, kalau lagi terjaga wajah Mahesa seperti wajah singa yang mengamuk, kalau lagi tidur seperti ini wajah Mahesa seperti anak panda.


Husna mendekatkan wajahnya pada wajah Mahesa ia mengecup pipi suaminya itu singkat, Husna dapat mencuri ciuman itu pada saat Mahesa lagi tidur saja, kalau Mahesa bangun mana mungkin Husna dapat melakukan nya.


Tanpa sadar Mahesa sebenarnya masih terjaga, ia hanya berpura-pura tidur saja, tanpa dia bayangkan sedikit pun Husna malah berani mencuri ciuman nya saat tidur.


"Istri nakal!" batin Mahesa


Tapi entah kenapa perasaan senang muncul di hatinya, baru pertama kali ia merasakan di cium oleh seorang wanita.


Husna benar-benar sudah tidur kali ini Mahesa yang menatap wajah Husna, ia menatap setiap inci wajah istrinya itu, cantik!itu yang di pikiran Mahesa saat ini. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri melihat kecantikan wajah istrinya itu.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2