Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 53. Sangat Bersyukur


__ADS_3

Hari-hari terus berlanjut Husna sangat betah tinggal di sini karena ia bisa bertemu dan merawat anaknya sendiri, weekend seperti ini Mahesa tidak bekerja ia banyak menghabiskan waktu bersama putra nya itu, saat sekarang ini saja ia sedang bermain dengan bayi yang baru berumur 1 bulan itu.


"Kenapa Ansel tidak mau ketawa ya?" ocehan Mahesa yang membuat Husna jadi ketawa sendiri.


Bayi yang berumur 1 bulan mana bisa tertawa jangan kan tertawa melihat orang saja dia belum bisa, Mahesa sudah susah payah membuat lucu di depan putra nya itu tapi putra nya itu hanya memainkan tangan kecil nya itu saja.


"Mana bisa mas, nanti berumur 3 bulan baru deh dia bisa ketawa!" tutur Husna pada akhirnya karena gemas melihat Mahesa yang dari tadi berusaha membuat lucu-lucuan di depan putra nya itu tapi tak berhasil mengundang tawa Ansel--putranya.


"Oh begitu ya, saya mana tau!" celetuk Mahesa


Jika di perhatikan mereka seperti keluarga yang utuh dan bahagia, tapi jika di lihat dari segi kenyataan mereka tidak merasa bahagia karena salah satu dari mereka masih belum bisa menerima.


"Owek... owek... owek..." tangis putra mereka, di karenakan putra mereka itu belum menyusu karena Mahesa dari tadi tidak membolehkan putranya itu untuk berdekatan dengan bunda nya.


"Sini, sini pasti anak bunda haus!" seru Husna mengambil paksa Ansel dari gendongan Mahesa.


Husna menatap Mahesa, Mahesa yang tau maksud dari tatapan Husna itu ia langsung beranjak dari kamar ini, Mahesa pergi ke kamar nya terlebih dahulu, Husna tersenyum karena melihat Mahesa yang peka terhadap nya. Barulah Husna menyusui putra nya itu, Ansel kecil meminum susu bunda nya itu sangat rakus.


"Ayah kamu egois ya sama kamu, sama kok ayah kamu juga egois sama bunda, buktinya dia membawa kamu pergi dari bunda, beruntung bunda mau mencari kamu, bunda sangat menyayangi kamu nak, jangan tiru kelakuan ayah kamu itu ya!" kata Husna kepada bayi berumur 1 bulan itu.


Mahesa balik ke kamar putra itu lagi ia mau mengambil handphone nya yang ketinggalan, Husna sedikit kaget dengan kedatangan Mahesa itu ia langsung membalikkan tubuhnya. Mahesa tersenyum jahil ia sengaja mendekati Husna dan kini ia sudah berdiri di depan Husna itu.


"Mas..." gerutu Husna, Mahesa hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Apaan sih, saya hanya ingin melihat Ansel saja!" ungkap Mahesa dengan bijak, sekalian ia mau curi-curi pandang wajah cantik istri nya itu.


"Bunda kamu kenapa ya? ayah cuma lihat kamu aja dia marah, dasar bunda labil!" cemooh Mahesa lalu ia pergi dari sana, tangan Husna yang sebelah lagi mengambil bantal dan melemparkannya ke Mahesa.


Duk


Mahesa kena lemparan bantal dari Husna itu, di kamar putra mereka ini sudah tersedia tempat tidur kecil untuk Husna tidur di sini, mereka takut ada yang curiga jika Husna tidur berdua dengan Mahesa, jadinya Husna meminta Mahesa untuk membelikan tempat tidur kecil.


"Berani kamu ya!" Mahesa mengambil bantal itu lalu ia melempar balik kepada Husna, bantal itu tepat mengenai Husna, mereka pun saling lempar-lempar bantal dan pada akhirnya Husna menghentikan kegiatan Mahesa itu.


"Sudah aku mau menidurkan Ansel dulu!" tutur Husna


Mahesa menghela napas bisa-bisanya dia mau bermain dengan Husna, biasanya dia akan selalu menjauhi Husna bila perlu, Mahesa mengikuti Husna ke box bayi itu, ia melihat putra kecilnya itu sudah tidur, Husna tersenyum melihat putra nya yang sedang tidur itu.


"Selamat malam anak bunda yang tampan!" ucap Husna seraya mengecup pipi putra nya itu.


Dari tadi Mahesa memperhatikan senyum Husna itu, sangat sering ia melihat senyum Husna itu, Mahesa menggeleng-nggelengkan kepalanya agar senyum Husna itu bisa hilang dari pikiran nya, selama ini Mahesa terus terbayang senyum istri sirinya itu.


"Kenapa belum tidur?" tanya Husna


"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Mahesa balik bertanya, bukanya menjawab tapi ia malah memberikan pertanyaan kepada Husna


Husna menghela napas, "kamar aku kan di sini, kamar kamu kan beda!" tutur Husna

__ADS_1


Mahesa tidak menjawab ia langsung saja naik ke atas tempat tidur Husna itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur kecil yang muat untuk Husna itu, "lho kok kamu tidur di sini sih, mas?" protes Husna


"Terserah saya, rumah, rumah saya kenapa kamu malah melarang saya hah?" sewot Mahesa


Husna menghela napas, sebenarnya Mahesa sudah kangen ingin tidur berdua dengan Husna, sudah satu minggu Husna tidak tidur dengan nya, karena Husna tidur di kamar putra nya ini.


Husna menghampiri Mahesa lalu ia mengambil bantal dari atas kasur itu, ia berencana tidur di sofa saja, tapi Mahesa malah menarik tangan nya dan akhirnya Husna jatuh di samping Mahesa.


"Kamu mau kemana? tidur di sini saja, jangan membantah ataupun melanggar peraturan saya!" sanggah Mahesa, Mahesa menggeser posisi tidurnya dan memberikan sedikit ruangan untuk Husna untuk tidur di samping nya itu.


"Iih... kenapa kamu nggak tidur di kamar kamu saja, di sini sempit jadinya kalau tidur berdua!" sungut Husna


Mahesa tidak merespon sedikit pun sungutan Husna itu ia malah memeluk Husna dan membenamkan wajahnya di punggung Husna, inilah tempat kenyamanan bagi Mahesa saat tidur berdua dengan Husna.


"Nanti ada yang tau gimana?" sela Husna saat Mahesa sudah hampir tidur.


"Di mansion ini hanya kita bertiga saja, art yang lain tidur di mansion belakang!" celetuk Mahesa.


"Tapi kan--! ucapan Husna terjeda karena Mahesa membungkam mulut Husna dengan satu kecupan yang ia berikan.


"Kalau kamu ngomong lagi, akan saya lakukan lebih dari ini!" tukas Mahesa


Husna tidak dapat berbicara lagi ia langsung saja memejamkan matanya karena takut dengan Mahesa, bila perlu Husna mau kabur dari Mahesa ini tapi apalah daya dia sedangkan Mahesa sangat erat memeluk dirinya.


"Kenapa peluk-peluk sih!" gerutu Husna dalam hati


"Percuma punya istri tapi tidak tidur dengan nya!" batin Mahesa


...


Pagi harinya Mahesa bangun lebih dulu dari Husna, ia menatap wajah tidur Husna yang damai dan cantik itu, Mahesa mengecup pipi Husna sekilas lalu ia turun dari tempat tidur itu.


Mahesa pergi ke kamar nya ia harus siap-siap sepagi ini karena pagi ini ia akan melakukan tindakan operasi kepada pasien nya.


Husna menggeliatkan tubuhnya, tidurnya pada malam ini sangat nyenyak apa lagi di peluk oleh kulkas dua pintu, Husna melihat kesamping nya ternyata Mahesa sudah tidak ada. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, Husna buru-buru ke kamar mandi untuk berwudhu, sholat subuh nya kali ini sedikit terlambat.


Selesai menunaikan ibadah sholat subuh kini Husna melihat putra nya itu, ternyata Ansel masih tidur, Husna menghela napas akhirnya ia bisa berkumpul dengan putra nya ini lagi, dulu ia pikir ia tidak akan lagi bertemu dengan putra nya ini.


Husna merapikan tempat tidur nya itu, saat ia merapikan tempat tidur nya itu ia tidak sengaja melihat handphone Mahesa yang ketinggalan di kamar nya ini.


"Lah, ini bukanya handphone milik mas Mahesa?" Husna pergi ke kamar Mahesa melewati pintu penghubung, ia masuk ke kamar Mahesa ini tapi ia tidak menemukan Mahesa.


"Mas Mahesa!" panggil Husna


Mahesa yang lagi memakai pakaian nya di ruang pakaian nya itu, ia mendengar suara Husna yang memanggil dirinya.


"Husna!"

__ADS_1


"Apa?" tutur Mahesa ia keluar dari ruang pakaian itu.


"Ini, handphone kamu ketinggalan di kamar Ansel tadi!" beritahu Husna lalu ia meletakkan handphone Mahesa di atas nakas.


Mahesa mengangguk, mumpung Husna ada di sini ia akan merepotkan Husna, pikir cerdik Mahesa.


"Eh, tunggu dulu!" tahan Mahesa


Husna berhenti lalu ia memutar tubuhnya menghadap Mahesa, "ada apa?" tanya Husna


"Cariin baju saya!" titah Mahesa


Saat ini Mahesa hanya memakai baju kaus oblong berwarna putih saja, ia mau Husna yang mencarikan baju kemeja untuk ia bekerja.


"Tapi anse--!" ucapan Husna di potong oleh Mahesa.


"Ansel belum bangun kan? lalu kamu bisa membantu saya!" kilah Mahesa


Husna menghela napas antara malas dan apa lah itu, ia masuk ke ruang pakaian Mahesa itu, mata Husna langsung berbinar-binar melihat koleksi baju-baju dan aksesoris milik Mahesa.


"Melebihi barang wanita, aku saja tidak memiliki barang bagus seperti ini!" batin Husna


"Buru, saya harus cepat-cepat ke rumah sakit nya, hari ini saya akan melakukan operasi kepada pasien saya!" desak Mahesa sangat sewot sekali! pikir Husna.


"Aku tidak tau baju apa yang kamu suka, aku tidak bisa mas!" kelit Husna


"Oh, mau saya kasih hukuman?" tutur Mahesa menaik-turunkan alisnya.


Husna menelan saliva nya lalu ia sembarangan saja mengambil baju kemeja lengan panjang itu, lalu Husna memberikan kepada Mahesa, bertepatan itu juga bayi mereka menangis.


"Owek...owek...owek.."


"Ansel!" ucap Husna lalu ia langsung berlari saja keluar dari ruang pakaian Mahesa itu.


Mahesa hanya ternganga melihat kepergian Husna, "Ansel, kamu menganggu saja!" gerutu Mahesa.


Sampai di kamar putra nya itu, Husna langsung mengambil Ansel dan membawanya ke gendongan nya, Husna berucap syukur karena anaknya ini sudah menyelamatkan nya dari Mahesa.


"Hu... selamat!" seru Husna


Andai kata jika Mahesa menahan Husna tadi mungkin Husna akan terjebak dengan pesona Mahesa tadi, walaupun Mahesa memakai baju kaus oblong tapi ketampanan nya sangat jauh di atas rata-rata, bisa di bilang ketampanan nya itu sangat-sangat.


...


Bersambung...


Besok author sambung lagi ya, jangan lupa tinggalkan like komentar dan vote nya ya, thanks buat para readers yang sudah setia membaca cerita receh iniπŸ˜€πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2