Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 74. Permintaan Maaf Fajri


__ADS_3

Pagi ini Fajri akan berangkat ke kampung halaman nya dimana ia meninggalkan ayah dan ibu nya terakhir kali.


Fajri berangkat ke kampung halaman nya cuma sendirian.


Semua kekesalan yang ia pendam perlahan-lahan dia buang agar ia bisa memanfaatkan kesalahan orang tua nya dan ia juga bisa meminta maaf kepada orang tua nya.


Sesampainya ia di kampung nya itu ia pergi ke kontrakan kecil yang pernah di tinggalkan oleh orang tua nya waktu itu.


Fajri mengetuk pintu kontrakan itu.


Tok tok tok


"Assalamualaikum ayah ibu ini aku, Fajri pulang yah, bu!"


Fajri tidak mendapati tanda-tanda orang tua nya itu akan membukakan pintu itu, ia terus mengulangi mengetuk-ngetuk pintu itu.


Ia belum tau kalau orang tua nya sudah pindah ke rumah lama mereka dulu alias rumah Husna saat ini.


"Apa ayah sama ibu sudah pindah?"


Fajri merasa putus asa karena ia tidak menemukan orang tua nya, ia merutuki dirinya seharusnya dia tidak pernah meninggalkan kedua orang tuanya di saat orang tua nya itu membutuhkan dirinya.


"Maafin Fajri ayah ibu!"


Fajri merasa menyesal sudah berbuat yang tidak baik kepada ayah ibu nya, ia melakukan ini karena ia sudah merasa tidak sanggup lagi melihat keserakahan orang tua nya itu.


"Seharusnya Fajri tidak melakukan ini pada kalian, Fajri menyesal ayah ibu, Fajri ingin meminta maaf!"


Fajri melangkahkan kakinya meninggalkan kontrakan itu, ia tidak tau harus pergi mencari ibu dan ayah nya itu dimana lagi.


Fajri mencoba menghubungi nomor ponsel Husna ia ingin bertanya apakah ia sudah bertemu dengan ayah ibu nya.


"Assalamualaikum Husna!"


"Wa'alaikumussalam bang, ada apa bang?"


"Abang sudah balik ke kampung, tapi Abang tidak menemukan orang tua abang, apa kamu sudah bertemu dengan mereka?" ujar Fajri langsung to the poin saja.


Di seberang sana Husna lagi tersenyum karena Abang sepupu nya itu sangat ingin bertemu dengan orang tua nya, mungkin saat ini Abang nya itu mau meminta maaf.


"Paman sama bibi pindah ke rumah yang lama bang, mereka berdua yang akan tinggal di sana, Husna sudah mengizinkan mereka untuk tinggal di sana!"


"Baiklah, terima kasih informasinya, Abang akan bertemu dengan mereka!"

__ADS_1


Sambungan telepon di matikan oleh Fajri, ia bergegas ke rumah lama yang pernah mereka tinggalkan waktu itu.


"Ayah, ibu aku pulang ingin meminta maaf!"


Fajri melajukan mobilnya menuju rumah peninggalan orang tua Husna itu, ia senang akhirnya bisa bertemu dengan ayah dan ibu nya itu.


Saat ini mobil Fajri sudah masuk ke halaman rumah itu, ia tersenyum karena sebentar lagi ia akan bertemu ayah dan ibu nya.


Tok tok tok


Fajri mengetuk pintu itu ia sudah tidak sabar ingin memeluk tubuh orang tua nya itu.


Inah yang sedang memasak di dapur itu mendengar suara ketukan pintu, ia mematikan kompor nya lalu ia bergegas membukakan pintu untuk tamu nya itu.


"Sebentar!"


Inah membuka pintu utama itu ia kaget saat ia melihat sesosok pria yang sangat ia kenal itu.


"Anak ku!" lirih Inah


Fajri meneteskan air matanya ia bisa melihat sesosok ibu yang selama ini ia tinggalkan, ibu yang selama ini membesarkan nya.


"Ibu...!" tangis lirih Fajri memeluk ibu nya itu.


Bahkan seorang ibu tidak pernah lupa dengan anaknya, sebaliknya seorang anak kadang melupakan ibu nya, betapa sadis nya dunia yang fana ini.


Inah juga ikut meneteskan air matanya, ia pikir selama ini putra sulung nya itu tidak akan lagi ke sini untuk melihat keadaan nya, ia pikir putra sulungnya itu sudah melupakan dirinya, ternyata putra nya itu masih mengingat dan sayang pada nya.


"Ibu sehat?" tanya Fajri mengusap air mata ibu nya itu


"Alhamdulillah nak, ibu sehat!"


"Ayah mana bu?"


"Ayah lagi istirahat di kamar, ayah kamu sakit!" ujar Inah


Fajri merasa bersalah sudah meninggalkan orang tuanya itu, terlebih lagi ayahnya itu yang sangat membutuhkan nya.


"Assalamualaikum ayah!"


Adi sedang terbaring lemas di atas tempat tidur itu, ia mengalami sakit seperti ini semenjak ia bangkrut.


"Fajri datang untuk meminta maaf pada ayah, Fajri banyak salah yah, seharusnya Fajri tidak meninggalkan ayah saat ayah membutuhkan ku!"

__ADS_1


Adi terbangun saat ada suara yang begitu mengusik ketenangan tidur nya, perlahan mata sayu nya itu terbuka, dan ia menemukan sesosok putranya yang selama ini ia rindukan.


"Fajri! putra ku?" lirih Adi berusaha untuk bangun


Fajri melarang ayahnya itu untuk bangkit dari tidurnya, "ayah masih sakit, sebaiknya ayah tiduran saja!" tutur Fajri sangat kasihan melihat kondisi ayah nya


"Ayah sakit apa yah?"


Adi tersenyum, "cuma sakit biasa!" jawab Adi


Fajri mengusap sudut matanya yang berair, minta maaf sekalipun tapi rasa penyesalan itu tetap menghantui nya, rasa bersalah masih menghantuinya, tidak cukup rasanya dengan meminta maaf saja.


"Ibu sudah bawa ayah ke rumah sakit? untuk cek apa sakit yang ayah derita!" tanya Fajri, Inah menggeleng-nggelengkan kepalanya


Selama ini ia tidak pernah membawa suaminya itu berobat ke dokter di karenakan mereka tidak mempunyai uang, kemarin suami Husna yang memeriksa Adi beruntung saja profesi Mahesa sebagai dokter, sebenarnya Adi harus di rawat tapi Adi sendiri yang tidak mau di rawat, dengan alasan ia tidak ingin membebani dan merepotkan keponakan nya itu.


"Ibu sama ayah tidak memiliki uang sepeser pun, untuk makan saja susah apalagi untuk ke dokter, kemarin suami Husna yang memeriksa ayah kamu, beruntung nya ibu memiliki menantu dokter dan bisa memeriksa keadaan ayah kamu!" tutur Inah


"Terus apa kata Mahesa bu?" tanya Fajri


"Kata Mahesa, ayah kamu harus di rawat, tapi ayah kamu tidak mau!" beritahu Inah


"Itu obat yang di resepkan oleh Mahesa, baru saja tadi ibu membeli obat itu ke apotik!" sambung Inah


Tidak setengah-setengah Husna dan Mahesa membantu paman dan bibi nya itu, mereka berdua sudah memenuhi kebutuhan paman dan bibi nya itu untuk enam bulan terakhir.


Fajri sangat beruntung memiliki sepupu yang sangat baik seperti Husna, ia masih saja baik kepada ayah dan ibu nya walaupun dulunya Inah dan Adi sering menjahati Husna.


"Ayah, aku akan bawa ayah ke rumah sakit, ayah tidak perlu memikirkan biaya apapun itu, biar aku sebagai anak ayah yang akan menanggung semua nya, sampai ayah sembuh!" tutur Fajri


Adi tersenyum kepada putranya itu, ia pikir Fajri akan membencinya selama-lamanya ternyata putra nya itu masih sangat peduli dengan nya.


Ia sangat beruntung memiliki anak sebaik Fajri, dan ia juga sangat bersyukur kepada Allah ta'ala yang telah memberikan anak sebaik Fajri.


"Hamba sangat bersyukur ya Allah karena Engkau masih memberikan hamba umur yang panjang untuk bertobat!"


Umur yg semakin tua semakin sholeh, yg setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yg mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia tentang masa mudanya.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.

__ADS_1


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨


Jangan lupa mampir di cerita baru author yang berjudul : Ibu Mertua, Aku Tidak Mandul


__ADS_2