
Husna tidak dapat memejamkan matanya tatkala ia di samping Mahesa, entah kenapa dia merasa grogi dan canggung seperti ini saat ia tidur berdua dengan Mahesa, padahal mereka berdua sering tidur berdua waktu di Bandung. Mahesa belum juga tidur entah kenapa hatinya sangat senang jika berdekatan dengan Husna, sewaktu ia pergi meninggalkan Husna sendirian ia merasa sangat bersalah dan pikirannya selalu tertuju pada Husna, tapi sekarang saat ada Husna ia jadi merasa bahagia.
"Tidur!" ujar Mahesa saat melihat Husna belum tidur juga.
"Saya tidak suka melihat pekerjaan kamu nanti tidak baik kalau kamu tidak tidur sekarang, yang ada besok kamu malah mengantuk!" ujar Mahesa
Perasaan dari tadi Mahesa terus saja berbicara tanpa ada hentinya, entah kenapa saat ini dia jadi banyak bicara!, biasanya dia sering diam dan bersikap acuh saja dengan Husna tapi sekarang dia malah mempedulikan Husna, ada apa ini?
Husna tidak menjawab ia langsung memicingkan matanya agar ia dapat tidur, Mahesa dari tadi sebenarnya merasa grogi juga berdekatan dengan Husna.
"Kenapa saya jadi banyak ngoceh gini ya?" batin Mahesa
Tak lama dari itu Husna tertidur juga ia memunggungi Mahesa, Mahesa masih terjaga ia perlahan membalikkan tubuh Husna agar mengarah pada nya, cantik! itu yang ada dalam pikiran dia saat ini.
Tangan kekar itu mengusap pipi Husna ia bahkan tersenyum sangat manis melihat wajah cantik yang selalu terbayang-bayang oleh nya, sangat disayangkan sekali lagi-lagi Husna tidak dapat melihat senyum manis Mahesa itu.
"Cantik!" gumam Mahesa lalu ia juga ikut tidur, Mahesa meletakkan tangannya itu di pinggang Husna ia merasa nyaman jika tidur berdua dengan Husna, sudah lama ia tidak tidur lagi dengan Husna tapi saat ini ia bisa merasakan kenyamanan itu kembali.
Mungkin ini strategi Mahesa agar Husna mau tidur dengan nya, jika di pikir-pikir lagi di kamar putra nya itu ada kasur kecil yang bisa Husna gunakan pakai untuk tidur, tapi entah kemana pergi kasur itu dan tidak ada lagi saat Husna mencari nya.
"Owek...owek...owek...!" putra mereka menangis saat malam hari, Husna langsung terjaga karena tangisan putra nya itu sangat kencang sekali.
"Ansel!" gumam Husna, ia ingin turun dari tempat tidur itu tapi Mahesa malah memeluknya sangat erat.
"Duh... kenapa dia bisa memelukku? batin Husna.
"Owek...owek...owek...! tangis putra mereka semakin kencang saja, Husna memukul pipi Mahesa agar Mahesa melepaskan pelukan nya dari Husna.
Mahesa langsung kaget ia membuka matanya melihat wajah Husna kesal padanya, Mahesa langsung melepaskan pelukannya itu.
"Ansel nangis!" ujar Husna lalu ia turun dari tempat tidur itu, Husna berlari ke kamar putra nya itu, ia langsung membawa putra nya itu ke gendongan nya.
Husna memeriksa popok bayi nya itu ternyata sudah penuh lalu Husna mengganti popok yang baru untuk putra nya itu, Mahesa masih mengumpulkan nyawanya karena ia kaget saat Husna memukul pipinya secara tiba-tiba, Mahesa memegang pipi nya yang di pukul oleh Husna tadi.
Sakit!
Rasa sakit terasa di pipinya itu, berarti Husna terlalu kencang memukul pipi Mahesa tadinya.
"Berani sekali dia!"
Mahesa pergi ke kamar putra nya itu beruntung saja Husna sudah selesai menyusui putra nya itu, kini Husna meletakkan bayi nya itu di box bayi, Husna kaget saat Mahesa memegang bahunya.
"Astagfirullah alhazim..." Husna mengucap istighfar seraya mengusap dadanya.
__ADS_1
"Tuan!" ujar Husna
"Saya bukan tuan mu saya suami mu!" ujar Mahesa, Husna jadi teringat dengan kata-kata Mahesa yang waktu itu juga pernah Mahesa ucapkan oleh Mahesa, waktu itu mereka baru sah menjadi pasangan suami istri.
"Tapi saya hanya bekerja di sini tuan, saya juga harus memanggil yang sama dengan art yang lain!" ujar Husna menundukkan kepalanya ia tidak sanggup menatap wajah Mahesa.
"Intinya saya tidak suka mendengarkan panggilan itu untuk saya, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan 'mas' seperti biasa!" ujar Mahesa tidak bisa di ganggu lagi keputusan nya itu, di sini Mahesa lah yang jadi tuannya, maka dari itu Husna harus menuruti ucapan tuan nya itu.
"Baiklah, tapi sewaktu kita berdua saja, jika banyak orang aku akan memanggil kamu dengan sebutan tuan sama seperti mereka memanggil kamu!" ujar Husna
Mahesa tersenyum kecil karena Husna mau menuruti keinginan nya itu, walaupun terkesan memaksa tapi ya mau gimana lagi.
Mereka berdua kembali ke kamar, Husna memunggungi Mahesa kembali, "begitu kah kamu tidak menghargai suami mu!" protes Mahesa.
Husna menghela napas lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap Mahesa, "iya mas, protes aja dari tadi!" ujar Husna lalu Husna memicingkan matanya.
Mahesa hanya tersenyum kecil saja karena Husna sudah mau memanggil dirinya dengan sebutan seperti biasa.
...
Pagi harinya Husna sudah memandikan anak nya itu, kini ia sedang menyusui putra nya itu.
Amor sudah datang saja sepagi ini di mansion Mahesa, semenjak ada anak Mahesa ia jadi lebih sering ke sini untuk bermain dengan cucunya itu, ia sangat sayang dengan cucunya itu.
"Pagi bik, Ansel--cucu saya gimana?" tanya amor
"Baik nyonya!" tutur bik Yatri
Amor melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ini, pagi-pagi sekali bik Yatri sudah berbicara dengan Husna jika mama nya Mahesa akan datang, bik Yatri juga sudah mengajarkan Husna cara berbicara jika amor bertanya nanti pada nya.
"Semoga nyonya besar menerima nyonya muda di sini!" harap bik Yatri
Amor membuka pintu kamar cucunya itu, ia sedikit kaget melihat wanita berpakaian gamis syar'i sedang menggendong cucunya seraya menyusui cucu nya itu.
"Apa kamu pengasuh cucu saya?" tanya amor saat ini sudah berada di kamar itu, Husna sedikit terkejut juga dengan kehadiran nyonya besar nya itu, beruntung saja bik Yatri memberitahu Husna jika nyonya besar akan datang.
Husna pikir nyonya besar nya ini akan datang nanti, tidak di pungkiri jika nyonya besar nya ini datang saat pagi hari begini.
"I-iya nyonya!" jawab Husna
"Lalu, apa kamu bisa mengeluarkan asi?" tanya amor
"B-bisa nyonya, saya baru selesai melahirkan tapi Allah berkata lain, Allah lebih sayang dengan anak yang saya lahirkan!" tutur Husna terpaksa berbohong agar sandiwara ini tetap berjalan dengan semestinya.
__ADS_1
"Permisi nyonya!" bik Yatri ikut ke kamar ini agar Husna tidak terlalu canggung dalam memainkan sebuah sandiwara ini.
"Bik, wanita ini pengasuh Ansel? tanya amor
"Benar nyonya, namanya Husna dia termasuk saudara saya juga di kampung nyonya, dia akan bekerja di sini sebagai pengasuh tuan muda!" ujar bik Yatri menatap Husna yang sudah tegang dari tadi.
Amor mengangguk-angguk seraya melihat Husna dari atas sampai bawah, "lalu kenapa dia bisa bekerja di sini? apa suaminya tidak bertanggung jawab dan menyuruh istrinya bekerja di sini sedangkan dia baru di tinggal oleh anaknya!" tutur amor pada bik Yatri
"Oh itu, saya yang menyuruh Husna ke sini nyonya, saya kira Husna harus mengalihkan pikiran nya agar dia tidak selalu memikirkan anak nya yang baru saja meninggal dunia, dan untuk suaminya juga mengizinkan Husna ke sini nyonya!" terang bik Yatri
Amor lebih mendekat pada Husna ia langsung mengusap punggung Husna itu, "kamu yang sabar ya, semua yang terjadi sudah kehendak Allah SWT, kita sebagai manusia harus menyikapi dengan sabar dan ikhlas, semoga setelah ini kamu akan bahagia! seru amor
Husna sedikit senang mendengar penuturan nyonya nya ini, ia juga lega karena amor tidak mencurigai dirinya.
"Cucu nenek senang ya punya pengasuh baru!"
Amor mengambil Ansel dari gendongan Husna itu, bik Yatri tersenyum pada Husna dan menunjukkan jempolnya pada Husna bahwasanya sandiwara mereka berhasil.
Tapi Husna juga takut, sewaktu-waktu amor akan tau siapa dirinya sebenarnya, ia sangat takut jika amor akan mengusir dirinya nanti.
"Mahesa sudah berangkat bik?" tanya amor
"Belum nyonya, tuan masih di kamarnya!" beritahu bik Yatri
Amor mengembalikan Ansel kepada Husna lalu ia pergi ke kamar Mahesa.
"Hesa!" panggil amor saat ia sudah sampai di kamar putra nya itu.
"Mama, mama pagi-pagi sudah ke sini saja!" Mahesa sedikit kaget dengan kedatangan mamanya itu yang pagi-pagi sudah di sini saja.
Amor merapikan pakaian putranya itu, "semenjak kapan wanita itu ada di sini? tanya amor pada Mahesa.
"Kemarin!" tutur Mahesa
Husna merasa lega saat nyonya nya itu pergi dari sini, bik Yatri juga menghela napas lega.
...
Bersambung...
Di baca!👇
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan komentar kalian dan jangan lupa like dan vote nya juga.
__ADS_1
Dah itu aja kokðŸ¤