
Mahesa menyuruh orang suruhan nya untuk mencari keberadaan paman dan bibi Husna itu, dengan mudahnya Mahesa mengetahui dimana paman dan bibi Husna itu berada.
Sangat mudah bagi Mahesa menemukan keberadaan paman dan bibi Husna itu, informasi yang ia dapatkan jika paman dan bibi Husna itu tinggal di kontrakan kecil nan kumuh, tidak jauh dari sini lokasi mereka.
Pagi itupun Mahesa akan ke sana tanpa sepengetahuan Husna kalau dia kan bertemu dengan paman dan bibi Husna itu. Mahesa akan berencana menemui paman dan bibi Husna itu terlebih dahulu.
Pagi itu Mahesa berpamitan dengan Husna dengan alasan ia memiliki beberapa urusan di luar sedikit, Husna tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap Mahesa.
"Mas tidak lama kan?" tanya Husna
"Tidak, cuma sebentar saja kok!" jawab Mahesa
"Mau kemana sih?"
"Ada urusan sedikit!"
"Oke lah!"
Husna mengangguk ia masih takut jika Mahesa akan pergi meninggalkan dia di rumah ini, ia takut Mahesa akan mengulangi perbuatannya itu lagi.
"Kenapa wajahnya di tekuk gitu?" tanya Mahesa
"Tidak!"
"Yakin tidak ada apa?"
"Hu'um!"
Karena Ansel nangis akhirnya Husna masuk ke dalam tanpa melihat kepergian Mahesa dulu.
"Ansel kenapa nak?"
"Mimi... buna mimi buna!"
Husna tersenyum lalu membawa Ansel dalam gendongan nya itu.
Mahesa saat ini menuju ke alamat yang sudah ia dapatkan itu, ia berharap bisa bertemu dengan paman Adi dan bibi Inah itu.
Mahesa memasuki pekarangan kontrakan kecil itu, di sana ada banyak sekali rumah-rumah kecil, ia menelusuri setiap rumah itu.
Dan pada akhirnya Mahesa bertemu juga dengan bibi Inah yang sedang menyapu halaman rumah nya itu, Mahesa menatap dari atas sampai bawah penampilan Inah itu. Bukankah penampilan nya seperti orang kaya pada umum nya dulu? sekarang pakaian nya compang camping.
"Itu benar bibi Inah?"
Mahesa sempat tidak percaya melihat Inah itu.
__ADS_1
Apakah mereka sudah bangkrut?
Mahesa mendekati Inah itu, ia berjalan melewati Inah dan Mahesa langsung saja duduk di kursi teras rumah kontrakan mereka itu.
Inah kaget dengan kedatangan Mahesa itu, mulutnya menganga tidak percaya.
"T-tuan Mahesa!"
Inah mengucek-ngucek matanya apakah benar yang ia lihat itu Mahesa.
"Ayah...!" teriak Inah meneriaki Adi di dalam rumah nya itu.
Adi yang sedang sakit itu jadi merasa tambah sakit mendengar suara cempreng dari Inah itu.
"Uhuk uhuk uhuk, apa sih buk teriak-teriak, telinga aku jadi sakit nih, kepala ku tambah pusing!" keluh Adi
Inah tiba-tiba saja tidak bisa mengeluarkan suaranya, ia akhirnya menunjuk-nunjuk keluar rumah kontrakan mereka itu.
Adi melirik keluar ia berjalan menuju keluar rumah itu, betapa shock nya Adi saat tamu nya itu Mahesa.
"T-tu-tuan Mahesa!"
Mahesa tersenyum sinis ia berdiri untuk menyamai tinggi mereka itu.
"B-ba-baik t-tuan!" jawab Adi terbata-bata
Ia langsung ingat dengan apa yang telah ia lakukan kepada Husna dulu, apakah keponakan nya itu saat ini baik-baik saja, atau Mahesa sudah menceraikan Husna.
"T-tuan ada apa kemari?" tanya Adi
Mahesa ke sini hanya untuk memberikan sebuah pelajaran sedikit saja dengan Adi dan Inah ini, ia juga ingin memberitahu kabar Husna yang sekarang, ia juga ingin berterima kasih sudah memberikan istri sebaik Husna itu.
"Kalau tuan mau mencari Husna, Husna tidak ada bersama kami, kami juga ingin bertemu dengan nya!" ujar Adi dan di angguk-angguki oleh Inah.
"Untuk apa kalian mencari Husna? apa kalian mau menghancurkan hidup keponakan kalian itu kembali? kalian ingin menguasai harta yang bahkan kalian tak berhak atas itu!" tutur Mahesa seakan mencemooh sikap mereka dulu
"Bukan, bukan tuan, kami mau meminta maaf, kami banyak salah!" ucap Adi membenarkan ucapan Mahesa itu.
Mahesa menaikan sebelah alisnya, ia bahkan belum mempercayai Adi dan Inah ini, selama ini Mahesa terus memantau mereka tapi semenjak ia pergi ke Jakarta dan membawa anak yang baru Husna lahirkan, di sanalah Mahesa tidak lagi memantau Adi dan Inah ini.
"Apakah ucapan kalian itu dapat di percaya?" tanya Mahesa
"Kami betul-betul ingin meminta maaf tuan, kami banyak salah, kami sudah insaf dan ingin bertobat!" tutur Adi nampak betul wajah penyesalan nya itu.
Mereka memang betul ingin meminta maaf kepada Husna, mereka sangat menyesal sudah berbuat jahat kepada Husna.
__ADS_1
"Apa tuan tau dimana keberadaan Husna?" kini Inah yang bertanya keberadaan Husna itu.
"Istri saya ada dengan saya, oh iya saya sangat berterima kasih kepada kalian telah memberikan istri sebaik Husna, satu lagi, terima kasih sudah membesarkan istri saya, walaupun kalian terus menyakiti perasaan nya dan mengambil hak nya!" ucap Mahesa
Mereka berdua jadi tambah bersalah dengan Husna, tidak sepantasnya mereka memperlakukan Husna layaknya seperti budak untuk mereka, seharusnya mereka merawat dan menjaga Husna layaknya anak kandung mereka sendiri.
"Maafkan kami tuan!" ujar Adi bersama Inah
"Kalian tidak perlu meminta maaf kepada saya, seharusnya kalian meminta maaf kepada Husna, karena Husna lah yang selama ini kalian jahati!" kata Mahesa
"Husna sudah bahagia dengan saya, kalian jangan mengusik kebahagiaan istri saya itu!" sambung Mahesa
"Kami janji tuan tidak akan lagi berlaku buruk seperti itu, kami sudah insaf dan ingin jalan ke jalan Allah SWT, yang di ridhoi Allah SWT!" ujar Adi
Mahesa mengangguk kecil barulah ia percaya dengan ucapan Inah dan Adi ini, ya walaupun ia sedikit meragukan mereka.
"Apa kami bisa bertemu dengan Husna, tuan?" tanya Inah
"Bisa, asalkan kalian tidak berniat jahat lagi dengan istri saya, kalian pikir saya akan tinggal diam jika kalian menjahati Husna lagi!" tutur Mahesa
"Kami janji tuan, kami tidak akan lagi berbuat jahat kepada Husna, kami benar-benar menyesal!" ujar Inah
"Baiklah!"
Mahesa akan membawa Adi dan Inah ke rumah mereka, agar Husna tidak repot lagi ke sini menemui paman dan bibi nya itu.
Jika mereka benar-benar mau meminta maaf kepada Husna, maka Mahesa akan memberikan izin kepada Adi dan Inah untuk tinggal lagi di rumah peninggalan orang tua Husna itu, Mahesa akan merundingkan ini terlebih dahulu dengan Husna.
Mahesa juga akan memberikan kehidupan yang layak untuk Adi dan Inah kalau memang betul-betul mereka tidak jahat lagi dengan Husna.
Begitu baiknya seorang manusia kepada kita, sedangkan kita selalu berbuat jahat kepada mereka.
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari sebuah cerita ini ialah, jangan berlaku buruk kepada siapapun itu karena keburukan itu akan menjerumuskan kita ke jalan yang tidak di inginkan, seperti Adi dan Inah ini, demi harta ia bahkan rela melakukan berbagai cara agar harta itu bisa ia dapatkan.
Jangan serakah karena serakah itu membawa kita akan keburukan.
Rasulullah saw, bersabda, “ Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat serakah manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya”. Berdasarkan hadits ini, sifat serakah manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨
__ADS_1