
Husna sudah pulang ke rumah nya karena sudah tiga hari saja ia selesai melahirkan, Mahesa memang benar tidak membawa bayinya itu, ia akan membawa bayi itu setelah Husna pulang dari rumah sakit nanti.
Sekarang saja Husna sudah pulang dari rumah sakit berarti sebentar lagi Mahesa akan membawa anaknya itu pergi dan meninggalkan Husna sendirian di rumah ini.
Husna menangis di kamar nya melihat putra nya yang lagi tidur itu, ia tidak sanggup harus berpisah dengan anaknya itu, sembilan bulan ia mengandung tapi Mahesa malah membawa putra nya itu, tidak tau sesakit apa yang di rasakan oleh ibu muda itu.
"Anak bunda... kalau kamu nanti pergi bersama ayah mu jangan lupakan bunda ya, kamu tau kalau bunda mu ini sangat sayang sama kamu nak!"
Husna mengusap pipi bayi yang masih berumur tiga hari itu, ia meneteskan air matanya tidak kuasa harus kehilangan anaknya ini.
"Hiks... ayah... ibu... hiks... Husna tidak tau harus mengadu pada siapa lagi? mas Mahesa benar-benar tidak mau menuruti keinginan Husna, Husna bingung harus berbuat apa lagi hiks...!
Bayi mereka itu menangis saat Husna sedang menangis seraya memeluk foto orang tua nya itu.
"Owek... owek... owek..." tangis bayi kecil itu, Husna sebagai ibu langsung membawa putra nya itu ke gendongan nya.
"Anak bunda haus ya!" Husna menyusui putra nya itu, ia tidak tau kapan ia akan seperti ini lagi pada putra nya itu, setelah Mahesa membawa putra nya itu, apa Husna bisa bertemu lagi dengan putra nya itu lagi?
Cklekk
Pintu kamar di buka oleh Mahesa karena ia mendengar anaknya yang menangis tadinya, ia pikir Husna tidak ada di kamar tau-taunya Husna lagi menyusui putra nya itu, Mahesa sedikit kaget dengan Husna yang lagi menyusui putra nya itu begitu pun dengan Husna ia langsung membelakangi Mahesa.
"Ada apa mas?" tanya Husna, seharusnya Mahesa yang bertanya kenapa anaknya menangis.
"Tidak, saya ngantuk!" bohong Mahesa
Mahesa naik ke atas kasur lalu ia tidur menghadap Husna yang lagi menyusui Ansel kecil itu, Mahesa tersenyum kecil melihat ibu dan anak itu.
"Kamu tidak lupa kan?" ujar Mahesa mengingatkan tentang surat perjanjian itu, Husna mengangguk kecil, bagaimana bisa ia bisa melupakan perjanjian yang selama ini kepikiran oleh nya.
"Kamu jangan terlalu sayang dengan Ansel karena Ansel sebentar lagi akan saya bawa, jadi kamu jangan keterlaluan menyayangi nya takutnya kamu tidak merelakan anak ini saya bawa!" ujar Mahesa membuat hati Husna tambah sakit dan hancur berkeping-keping.
Bagaimana bisa seorang ibu tidak bisa menyayangi anaknya sendiri, seorang ibu pasti menyayangi anaknya melebihi dirinya sendiri, seorang ibu rela tidak makan asalkan anaknya bisa makan terlebih dahulu, jadi bagaimana bisa Husna tidak menyayangi anaknya ini.
"Dia putra ku bagaimana tidak aku menyayangi nya, aku bukan kamu yang tidak memiliki perasaan sedikit pun!" ujar Husna
__ADS_1
"Terserah kamu, intinya saya sudah memiliki keturunan saat ini!" ujar Mahesa
"Kamu egois mas!"
"Saya bukan egois, ini telah di tulis dan telah ada di surat perjanjian bukan, saya hanya meminta anak saja bukan KAMU!" ujar Mahesa menjelaskan di akhir kalimat nya jika ia tidak menginginkan Husna yang ia inginkan hanya seorang anak.
Berderai sudah air mata Husna, sangat sakit sekali mendengar ucapan suaminya itu yang tidak menginginkan dirinya, dari awal memang seperti itu Mahesa memang tidak menginginkan Husna ia hanya ingin anak hanya itu saja.
Husna mengerututi dirinya sendiri kenapa ia bisa mencintai laki-laki yang tidak mencintai nya dan bahkan laki-laki itu terang-terangan tidak menginginkan nya.
"Kenapa aku bodoh sudah mencintai laki-laki yang bahkan tidak mencintai ku, kenapa hati ku bisa mencintai laki-laki seperti dia yang tidak memiliki hati sedikit pun, manusia macam apa dia ini kenapa tidak ada perasaan sedikit pun dari dia?" batin Husna
Tanpa Husna ketahui, Mahesa itu sudah lama menyimpan rasa untuk Husna hanya saja ia tidak bisa mengungkapkan perasaan nya yang masih terbilang aneh untuk nya itu.
Mahesa sengaja membuat Husna benci padanya karena ia tidak ingin menyakiti hati Husna lagi, sudah sering ia menyakiti hati Husna jadi ia memutuskan untuk mengubur perasaan nya ini terhadap Husna.
...
7 hari kemudian...
"Apa sudah siap apa yang sudah saya butuh kan Hendri?" ujar Mahesa di balik sambungan telepon itu.
"Sudah siap tuan, kami hanya tinggal meletakkan box bayi di kamarnya dan setelah itu tuan bisa membawa bayi tuan kemari!" beritahu Hendri
"Bagus!" ujar Mahesa lalu ia mematikan sambungan telepon itu.
Bahkan Mahesa sudah jauh-jauh hari menyiapkan segala keperluan bayinya itu, kini Mahesa akan benar-benar membawa bayi nya itu dan meninggalkan Husna sendirian di sini.
"Mas aku mohon jangan bawa Ansel dari ku, aku tidak bisa hidup tanpa ada dia mas hiks... hiks... mas jangan bawa anak ku mas hiks...!" tangis Husna saat Mahesa mengendong bayi itu naik ke atas mobil.
Telinga Mahesa seakan tuli ia tidak peduli dengan tangis Husna itu, ia terus membawa putra nya itu hingga ia sudah dekat dengan mobil yang akan membawa mereka pergi.
"Tidak mas hiks... Husna mohon sama mas... beri waktu untuk Husna lagi mas... hiks.. mas jangan bawa Ansel pergi mas... beri waktu bagi Husna untuk melepaskan Ansel!" tangis Husna memohon menahan tangan Mahesa.
Mahesa melepaskan tangan Husna itu yang memegang tangan nya, bik Yatri bersama mang Udin juga ikut ke Jakarta di sini benar-benar Husna yang tinggal sendirian tanpa siapa pun itu.
__ADS_1
"Mas... jangan bawa anak ku mas... hiks... jangan mas aku mohon jangan mas hiks... mas!" tangis Husna meraung-raung.
Mahesa sudah naik ke mobil kini Husna sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil itu agar Mahesa mau turun lagi.
"Mas... jangan mas...!" teriak Husna menangis terisak-isak.
Bik Yatri tidak tega melihat nyonya nya itu bik Yatri ikut menangis melihat nyonya nya itu, "ya Allah... kuatkan lah hati nyonya Husna ya Allah...!"
"Tuan apa sebaiknya beri kesempatan untuk nyonya untuk berpisah dengan tuan kecil!" ujar bik Yatri tidak tega melihat Husna menangis seperti itu.
"Jangan ikut campur bik!" ujar Mahesa dengan dingin nya.
Husna masih memukul-mukul pintu mobil itu, ia terus berusaha agar Mahesa tidak membawa anaknya itu, hati nya sangat hancur sekali melihat putra yang ia lahirkan di bawa pergi oleh Mahesa yang merupakan ayah kandung dari anaknya itu.
Mobil pun perlahan berjalan meninggalkan rumah itu bersama Husna, Husna mengejar mobil itu sampai mobil itu benar-benar jauh dari jangkauan nya.
"Mas... hiks... Ansel... hiks... anak bunda, ya Allah aku harus apa? Husna terduduk lemas di tengah-tengah jalan itu karena ia tidak bisa lagi mengejar mobil yang membawa anaknya itu pergi.
Lama Husna duduk di sana akhirnya ia kembali ke rumahnya itu lagi, di sepanjang perjalanan Husna tidak bisa menahan tangis nya.
Semua yang telah terjadi tidak bisa ia ambil lagi, Mahesa benar-benar kejam dengan nya, ia tidak pernah memikirkan perasaan istri nya yang usai melahirkan itu, Husna benar-benar berpisah dengan anak yang ia lahirkan itu.
Sampai ia di rumah itu ia menangis kembali karena teringat dan terbayang dengan anak yang selalu ia belai dan ia sayangi itu, tapi itu sudah sirna, semuanya sudah hilang karena Mahesa yang merenggut itu semua.
"Hiks... kamu jahat mas hiks... kamu tega memisahkan ku dari anak ku sendri!" saat ini Husna tidak tau arah dan tujuan hidup nya lagi, Mahesa sangat tega dengan nya telah mengambil anaknya.
Dunia Husna seakan hancur karena perbuatan Mahesa itu, seandainya ia memiliki kekuasaan pasti Mahesa tidak akan pernah membawa anaknya itu.
...
Bersambung...
Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
Jangan jadi pembaca gelap saja.
__ADS_1
jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (istri bercadar tak dianggap) mampir ya readers.