Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 43. Menghadapi Dua Pilihan


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Mahesa sudah hampir dua bulan tidak mengunjungi istri sirinya itu, Mahesa selalu di sibukkan dengan urusan pekerjaan nya, sebenarnya Mahesa ingin sekali mengunjungi Husna tapi kesempatan itu tidak ada, waktu nya selalu full dan tidak ada waktu senggang sedikit pun. Kadang Mahesa juga merasa jengah dengan pekerjaan nya ini tapi tenaga nya paling di butuhkan di rumah sakit ini.


"Hendri, apa gue nggak ada waktu senggang ya?" ujar Mahesa ke Hendri mumpung Hendri lagi di ruang Mahesa jadinya ia curhat pada temannya itu.


"Lo curhat?" canda Hendri


"Serius ini, gue jengah banget nih!"


"Jengah apa jengah hah?, apa lo lagi mikirin istri lo yang di Bandung? secara sudah hampir dua bulan lo nggak ke sana!"


Mahesa mengangkat kedua bahunya seraya mencibirkan bibir bawahnya, sebenarnya di dalam hati kecilnya itu ia juga ingin mengunjungi Husna tapi kesempatan itu tidak ada.


"Eh, bukanya Husna sekarang kandungan nya sudah masuk sembilan bulan ya?" tanya Hendri


Mahesa sendiri baru tau jika Husna kandungan sudah masuk usia melahirkan, "iya ya, kok gue lupa!" ujar Mahesa


Saking sibuknya Mahesa dengan pekerjaan nya ia jadi melupakan jika sangat sebentar lagi ia akan menjadi ayah sungguhan.


"Jadi kapan gue akan cuti?" ujar Mahesa


"Mana gue tau, kita dapat cuti kan atasan kita yang memberikan, kalau gue cuti malah gabut, tapi kalau lo cuti lo bisa kumpul bareng istri lo, kalau gue apaan?" kini Hendri yang curhat pada Mahesa.


"Hendri curhat?" ujar Mahesa memiringkan kepalanya melihat Hendri dengan senyum ejekan nya.


...


Di sisi lainnya, Husna merasa harap-harap cemas dengan keadaan nya sekarang ini, tinggal beberapa hari lagi waktu Husna bersama dengan Mahesa.


Saat ini Husna sedang duduk di tepi ranjang, air matanya sudah membasahi pipi nya itu, ia seakan tidak kuat menerima kenyataan ini, dunianya terasa runtuh dengan kenyataan ini, sangat pahit sekali hidup yang ia hadapi, Husna sudah mencari cara agar Mahesa tidak mengambil anaknya dari nya, tapi cara itu tidak kunjung juga ia dapatkan, mau memberontak pada Mahesa ia tidak bisa, mau memohon seribu kali pun tetap tidak mempan, pilihan apa yang harus Husna ambil, apa dengan cara melepaskan anak nya ini akan membuat dia bahagia?


"Apa bunda rela melepaskan kamu nak, bunda merasa hancur nak, bagaimana caranya bunda bisa tetap bersama mu nak?, bunda sudah lelah mengalah terus dengan ayah kamu, bunda mau mempertahankan kamu nak!"

__ADS_1


Husna menangis mengurung diri di kamarnya itu, sebenarnya bik Yatri dari tadi sangat khawatir dengan nyonya nya itu yang tak kunjung keluar kamar juga, ingin mengetuk pintu kamar itu tapi bik Yatri tidak berani, jika di biarkan malah tambah runyam urusan nya, bik Yatri dilanda rasa yang campur aduk saat ini.


Bik Yatri juga menghubungi nomor tuanya tapi tidak pernah aktif.


Tok tok tok


Akhirnya bik Yatri mengetuk pintu kamar nyonya nya itu saking khawatir nya, Husna mengusap air matanya yang membasahi pipi nya itu.


"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja? dari tadi nyonya tidak keluar-keluar kamar, apa nyonya baik-baik saja di dalam sana?" ujar bik Yatri menempelkan telinganya di pintu kamar itu.


Husna berdiri dari duduknya ia sedikit kesusahan untuk berdiri, di karenakan kandungan nya sudah sangat besar.


"Uus baik-baik saja bik! ujar Husna membuka pintu kamar nya itu.


Bik Yatri tidak percaya dengan ucapan nyonya nya itu, apa lagi bik Yatri melihat mata dan hidung nyonya nya itu memerah, sudah di pastikan jika nyonya nya itu abis menangis.


"Ada apa lagi nyonya?" tanya bik Yatri


"Sudah di pastikan nyonya baru selesai menangis, tidak pernah berhenti nyonya Husna menangis, begitu besar permasalahan hidup yang ia hadapi!" batin bik Yatri


"Ada apa bik?" tanya Husna


"Nyonya belum makan siang!" ujar bik Yatri


"Nanti bik!"


"Tidak baik seperti itu nyonya, kasihan dengan anak yang nyonya kandung!"


"Nanti saja, Uus merasa kenyang!"


Bik Yatri memasang wajah iba dan sedih melihat keadaan nyonya nya yang akhir-akhir ini sering mengurung diri di kamar dan menangis tanpa sebab.


"Nyonya merindukan tuan?" pertanyaan itu terbesit di pikiran bik Yatri dan langsung menanyakan kepada Husna.

__ADS_1


Husna tersenyum simpul menanggapi ucapan bik Yatri itu, saat ini perasaan Husna lagi campur aduk, pertama ia ingin bertemu dengan Mahesa karena sudah lama Mahesa meninggalkan nya, kedua ia tidak ingin bertemu bahkan untuk selamanya tidak bertemu tidak apa-apa pikir Husna, karena apa? karena Husna tidak ingin menyerahkan anak ini kepada Mahesa, ia sangat senang jika Mahesa tidak ke sini lagi, tapi ada perasaan tidak ikhlas juga jika Mahesa pergi meninggalkan nya selama-lamanya nya.


Saat ini Husna di hadapi dengan dua masalah, masalah pikiran dan masalah perasaan, Husna berusaha mengurangi rasa cinta nya untuk Mahesa tapi ia tidak bisa secepat itu menghilangkan rasa cinta itu untuk suaminya itu, biar bagaimanapun Husna selama ini hidup di bawah kuasa Mahesa, jadi ia merasa sangat tidak bisa harus kehilangan kedua-duanya dalam hidup nya ini.


Lama bik Yatri memperhatikan nyonya nya yang lagi melamun itu, tatapan mata Husna selalu sedih dan kecewa.


"Nyonya yakin tidak mau makan dulu?"


"Iya bik, Uus istirahat saja, kalau Uus lapar pasti Uus akan makan!" ujar Husna lalu ia kembali lagi ke kamar nya.


"Mas, apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan ku sedikit pun? aku tidak ingin berpisah dari anak ini!" batin Husna


Jalan yang Husna jalani saat ini sudah buntu dan tidak ada kesempatan lagi bagi nya untuk meminta kepada Mahesa untuk tidak membawa pergi anak ini.


Husna membuka laci nakas ia mengambil bingkai foto keluarga nya itu, Husna mengusap foto yang sudah usang itu.


"Ayah, ibu, Uus saat ini lagi bingung, Uus di hadapi dengan dua pilihan dalam hidup Uus, Uus harus gimana ayah, ibu?"


Husna mengusap air matanya yang tergenang di sudut matanya.


"Di lain sisi Uus pengen mas Mahesa ke sini untuk menjenguk Uus dan anak ini, dan di sisi lainnya Uus berharap mas Mahesa tidak akan ke sini lagi agar mas Mahesa tidak membawa anak ini pergi!"


Sekali-kali Husna memeluk bingkai foto itu dan mengusap nya, "apa Uus tidak berdosa jika tidak menuruti keinginan mas Mahesa, ayah, ibu?" Husna dilanda rasa galau dan resah pada hidup nya ini, semakin ke sini semakin hidup nya merasa sengsara dan menderita dengan pernikahan siri ini.


...


Bersambung....


Suara para readers mana nih?


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨

__ADS_1


__ADS_2