
Di sisi lainnya Adi dan Inah paman dan bibi Husna ia hidup luntang lantung di kontrakan kecil, semenjak di tinggal oleh putra semata wayangnya, Fajri sangat muak hidup dengan kedua orang tuanya yang selalu memikirkan harta dan harta, Fajri memutuskan untuk merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib nya di sana, terlebih lagi ia mendengar berita jika adik sepupu nya yaitu Husna juga ke Jakarta, jadinya ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta pula.
Alih-alih ia ingin bertemu dengan adik sepupu nya itu, ia ingin bercerita banyak dengan Husna ia ingin mengadu kepada Husna.
Saat ini Adi dan Inah lagi kelaparan karena ia tak memiliki uang untuk membeli makanan, terlebih lagi mereka akan membayar kontrakan tempat mereka tinggal ini.
"Gimana ini yah, kita mau makan pakai apa? keluh Inah
"Ayah juga tidak tau buk, uang untuk bayar kontrakan saja tidak ada apa lagi untuk makan!" sesal Adi
Mereka berdua sedang merenungi nasib mereka masing-masing, semenjak warung nasi mereka bangkrut semua usaha mereka juga ikut-ikutan bangkrut juga, semua harta mereka sudah lenyap karena banyak utang yang harus mereka bayar. Terlebih lagi mereka juga di tinggal oleh anak semata wayangnya.
"Ayah, ibu tidak mau hidup seperti ini terus, coba saja ayah cari pekerjaan siapa tau ada orang yang butuh tenaga ayah!" tutur Inah
Adi menghela napas kasar, "mana ada orang mau menerima ayah buk, tenaga ayah sudah tidak di butuhkan lagi karena usia ayah sudah terbilang tua!"
"Mungkin ini teguran yang Allah berikan kepada kita buk, kita banyak salah dengan Husna, anak yatim piatu yang sering kita manfaatkan demi kepentingan kita sendiri, kita tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan keponakan kita itu, ayah sudah banyak salah terhadap Husna buk, andai kita bisa bertemu dengan dia mungkin kita akan meminta maaf sama dia buk, ayah sangat menyesal sudah menjaminkan dia sebagai jaminan hutang kita waktu itu, sekarang kita tidak tau dia kemana, apa dia bahagia dengan suami nya itu ataupun tidak!" tutur Adi sangat menyesal telah menjual keponakan nya demi hutang-hutang nya terlunasi.
"Apa lagi ibu yah, ibu sangat menyesal telah memarahi nya setiap saat, apa lagi ibu sering melukai fisik nya yah, andai ibu bisa bertemu dengan nya mungkin ibu akan meminta maaf dengan apa yang telah ibu lakukan kepada nya!" tutur Inah
Mereka baru menyesali perbuatannya yang selalu membuat hidup Husna menderita selama ini, bahkan mereka juga tega telah menjual rumah peninggalan orang tua Husna itu, beruntung saja Mahesa lah yang membeli rumah itu dan rumah itu telah menjadi milik Husna kembali.
"Kita sudah merampas paksa apa yang telah menjadi hak keponakan kita itu, kita sudah dzolim kepada Husna, ayah tidak tahu apakah Husna mau memaafkan kita atau pun tidak, kita sudah banyak salah dengan nya!"
Mereka berdua saling bermenung memikirkan nasib mereka yang entah sampai kapan seperti ini terus dan mereka juga memikirkan keponakan mereka yang telah mereka dzolim waktu itu.
Terlebih lagi mereka sangat terpukul saat putra mereka meninggalkan diri mereka yang sangat membutuhkan kehadiran anaknya itu, Fajri memang benar sudah muak dengan ayah dan juga ibu nya itu, ia memutuskan untuk tidak melihat ayah dan ibu nya itu.
...
Di sisi lainya, seorang pemuda sedang sibuk arah pandang nya tertuju pada layar laptop yang dari tadi menyala itu.
"Permisi pak, ini ada berkas yang harus bapak tanda tangani!"
"Letakkan saja di atas meja saya!"
"Baik pak Fajri!"
Ya, pemuda yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya itu ialah Fajri yang selama ini meninggalkan ayah dan ibu nya, karena ia merasa muak dan juga benci dengan kehidupan keluarga nya itu. Dan sekarang dia sudah jadi bos besar di salah satu perusahaan yang sedang ia pegangi itu, dari nol Fajri memulai merintis perusahaan nya itu dan sampai lah pada saat ini ia berhasil menjadi CEO ternama di kota tempat ia tinggal ini.
Fajri menatap jam di pergelangan tangan nya jam sudah menunjukkan untuk sholat Zuhur, ia berhati bekerja dan ia memilih untuk sholat Zuhur terlebih dahulu.
"Waktu nya sholat, tinggalkan pekerjaan kalian terlebih dahulu!" tutur Fajri ke semua karyawan kantor nya itu
"Baik pak!"
Fajri menuju ke mushola kantor nya itu mereka akan melaksanakan sholat berjamaah di mushola kantor nya itu. Seperti itulah setiap hari, mushola kantor nya ini akan ramai saat jam sholat sudah masuk.
Selesai mereka melaksanakan sholat Zuhur berjamaah, kini Fajri kembali ke ruang kerja nya, ia akan makan siang di ruangan nya itu.
__ADS_1
Fajri menghela napas, sudah lama ia merantau di kota Jakarta ini, tapi ia tak pernah menemukan keberadaan Husna, sudah sering ia mencari kabar tentang adik sepupu nya itu tapi mereka tak pernah bertemu juga.
"Dimana lah abang bisa bertemu dengan kamu, Uus!"
"Abang ingin bercerita banyak dengan kamu, tapi kita belum juga bertemu, abang sudah berupaya mencari kamu tapi keberadaan kamu masih saja tidak di ketahui!"
...
Husna sedang mengasuh putra nya itu ia sedang kesusahan, terlebih lagi dari pagi tadi ia merasakan tidak enak badan.
"Bener nih abang tidak mau mimi susu?" terlebih lagi putra nya itu tak ingin menyusu pada bunda nya itu.
Ansel kecil itu terus merangkak ke sana ke sini ia sangat senang bermain di ruang bermain yang khusus Mahesa buatkan untuk anaknya itu.
Husna memijit kepalanya itu yang terasa pusing, entahlah dari pagi tadi ia merasakan pusing dan tidak enak badan.
"Buna... Buna...!" celoteh Ansel memanggil bunda nya itu.
"Iya ada apa nak?"
Husna tambah merasa pusing saat ia ingin menghampiri putra nya itu, "pusing sekali!" keluh Husna
Pada saat bersamaan bik Yatri masuk ke ruang bermain itu, bik Yatri melihat nyonya nya itu yang seperti sempoyongan saat ingin melangkah kakinya.
"Astagfirullah alhazim... nyonya kenapa?" bik Yatri langsung memegangi tangan Husna itu agar ia tak jadi jatuh.
"Sebaiknya nyonya istirahat dulu, biar tuan muda bibik yang urus!" ujar bik Yatri
Husna mengangguk kecil ia merebahkan tubuhnya di sofa itu, rasa pusing itu masih terasa di kepala nya.
Sore pun tiba, Mahesa kembali ke rumah nya itu, ia langsung berlari masuk ke kamar putra nya itu, ia tahu anak dan istri nya itu pasti ada di kamar putra mereka itu.
"Assalamualaikum... ayah pulang!" ucap salam Mahesa
Mahesa tidak menemukan siapapun di kamar ini ia mengerutkan keningnya, "tumben mereka tidak ada! kemana mereka?" gumam Mahesa lalu ia membuka pintu penghubung itu, ternyata ia menemukan Husna yang sedang istirahat di atas tempat tidur, sedangkan Ansel sedang berguling-guling sendiri di samping Husna itu.
"Yah... yah...! teriak Ansel melihat ayahnya ada di sini, Mahesa tersenyum melihat putra nya itu, ia juga ikut naik ke atas kasur itu.
"Bunda kamu kenapa?"
"Buna tit buna tit!" oceh Ansel memegangi kepala bunda nya itu mengisyaratkan jika bunda nya sedang sakit.
Mahesa memeriksa kening istrinya itu tapi ia tak merasakan panas, "bunda kamu baik-baik saja, tidak panas juga, tapi kenapa pucat?"
Mahesa melihat wajah istrinya itu pucat, ia mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa Husna, semuanya baik-baik saja dan normal saja, tapi entah kenapa wajah Husna itu kelihatan pucat sekali.
"Bunda, kamu sakit?" tanya Mahesa saat Husna terbangun.
"Tidak tau mas, kepala aku pusing rasanya!" beritahu Husna
__ADS_1
"Sejak kapan? perasaan pagi tadi kamu baik-baik saja!" tutur Mahesa
"Sebenarnya pagi tadi aku merasa pusing dan tidak enak badan juga sih mas, tapi aku tidak memberitahu kamu!" ungkap Husna
Mahesa mengangguk-angguk kecil mendengar penuturan istri nya itu, "kamu sudah makan? siang tadi kamu sudah makan belum?" tanya Mahesa
"Tidak mau makan mas, rasanya aneh saat Husna menyuap makanan ke mulut Husna!" penuturan Husna
Mahesa mengangguk-angguk kecil lagi, seperti nya ia tau kenapa istrinya itu tidak mau makan dan pucat seperti ini.
"Ansel sudah kamu susui?" tanya Mahesa semakin aneh saja pertanyaan Mahesa itu, pikir Husna.
"Apa lagi dengan Ansel, dia menolak setiap saat aku mau menyusuinya!" beritahu Husna
Mahesa semakin yakin dengan kecurigaan nya itu benar, "besok kita ke dokter kandungan!" ujar Mahesa
Husna mengerutkan keningnya, "mau apa ke sana mas?" tanya Husna saat mendengar dokter kandungan.
"Seperti nya buah hati kita akan bertambah satu lagi!" tutur Mahesa mengusap perut Husna yang rata itu.
Husna semakin mengerutkan keningnya saat penuturan suaminya itu semakin aneh saja.
"Apa maksud kamu, mas? tanya Husna
"Hamil anak ke dua!" ujar Mahesa mengecup pipi Husna.
Hamil anak ke dua? Husna tambah tidak percaya, bagaimana bisa mungkin ia mengandung kembali secepat itu sedangkan anak pertamanya masih berusia 10 bulan.
"Mas, yakin?" tanya Husna
"Suami kamu dokter bukan? tanya Mahesa mendapatkan anggukan dari Husna, "jadi seorang dokter tidak salah tebak dan tidak salah mengira!" sambung Mahesa
"Masa sih mas, anak pertama kita masih usia 10 bulan lho mas!" ujar Husna masih tidak mungkin.
"Tidak ada yang tidak mungkin sayang ku...!" tutur Mahesa sangat senang karena sebentar lagi mereka akan mendapatkan bayi kecil lagi.
"Kasihan Ansel mas, masa ia baru berusia 10 bulan sudah memiliki adik saja!" tutur Husna merasa sedih dengan anak pertama nya itu, ia takut kasih sayangnya akan teralihkan dan mendapatkan kasih sayang yang kurang.
"Tidak perlu di khawatirkan, kita akan tetap memberikan kasih sayang kita kepada anak kita itu, tidak akan sedikit pun jagoan kita itu kekurangan kasih sayang dari kita!" ujar Mahesa
Husna mengangguk kecil sambil mengusap perut nya yang rata itu, sebentar lagi mereka akan memiliki anggota keluarga baru.
...
Bersambung...
**Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨**
__ADS_1