
Happy reading 😘
Entah kenapa perasaan Mahesa siang ini terasa was-was, apa lagi pikiran nya selalu tertuju pada Husna, Mahesa sengaja mengaktifkan teleponnya yang biasa menelepon bik Yatri, saat ini Mahesa sedang memeriksa pasien nya ia di bantu oleh perawat yang selalu menemaninya.
"Bagaimana dengan kondisi anak saya dok?"
"Alhamdulillah, keadaan pasien sudah mulai membaik!" ujar Mahesa
"Terus kapan anak saya bisa pulang dok?"
"Kita lihat nanti ya bu, nanti saya akan ke sini lagi!" ujar Mahesa
Kini mereka berdua keluar dari ruang rawat itu, Mahesa dan perawat perempuan itu akan berpindah ke ruang rawat lainnya. Dari tadi senyum perawat yang menemani Mahesa itu selalu mengembang.
"Dokter Mahesa sangat tampan ya, aku harus mendapatkan nya, apa lagi dia masih single!" batin perawat itu.
Mahesa bersama Santi berjalan di koridor rumah sakit itu, dari tadi Santi memperhatikan wajah dokter Mahesa itu, ya, perawat itu bernama Santi ia sering menemani Mahesa untuk mengecek keadaan pasien, Santi memang bertugas menemani Mahesa, Mahesa sendiri merasa tidak nyaman jika terus di temani oleh perawat Santi ini, biar bagaimanapun ia sudah memiliki seorang istri dan sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak.
Mau di bantah, Mahesa mana ada kuasa untuk membantah atasan nya, karena Santi sendiri bukan mau dia juga untuk bekerja dengan Mahesa, ini semua sudah sesuai prosedur yang berlaku.
Santi menatap wajah Mahesa ia sangat mengangumi ketampanan dokter spesialis bedah itu, Mahesa yang merasa di perhatikan terus menerus jadi risih apa lagi perawat Santi itu senyum-senyum sendiri melihat Mahesa.
"Tampan sekali, aku harus bisa mendapatkan hati dokter Mahesa!" batin Santi
"Hekhem!
Mahesa berdehem agar Santi tidak terlalu memperhatikan nya, Santi menundukkan kepalanya karena deheman Mahesa itu.
"Saya pergi dulu, kamu boleh istirahat dulu!" ujar Mahesa
Santi mengangguk lalu ia pergi ke kantin untuk beristirahat.
"Huff... hampir saja dokter Mahesa menegur ku, tapi dokter Mahesa memang tampan sih ingin aku miliki!" ujar Sinta berjalan menuju kantin rumah sakit ini.
Sementara itu Mahesa masih kepikiran dengan Husna entah kenapa ia merasa tidak tenang saja, Mahesa mengeluarkan telepon genggam nya lalu ia mencoba menghubungi nomor ponsel bik Yatri.
Aktif tapi tidak di angkat
Mahesa mencoba mengulangi kembali menelepon nya, tetap sama aktif tapi tak di angkat.
"Apa bik Yatri sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat telepon dari saya?"
Mahesa geram sendiri lalu ia sedikit melempar meletakkan handphone nya itu ke atas meja.
__ADS_1
...
Di lain sisi, Husna merasa sakit di bagian perutnya tapi sakit perutnya itu tidak terlalu sakit jadinya ia menganggap itu sepele saja.
Husna masih rebahan di kasur nya itu untuk menghilangkan rasa sakit perutnya, ia pikir dengan cara rebahan seperti ini sakit perutnya itu akan hilang.
"Aduh... kenapa sakit perutnya tidak hilang sih?" Husna mulai gelisah dengan sakit perutnya ini, semakin ia tahan semakin sakit saja rasanya.
"Bik, bik Yatri...!" panggil Husna karena ia merasa sakit perutnya itu semakin bertambah melilit saja.
Husna berusaha bangkit dari tidurnya itu, ia berjalan menuju pintu kamar, "aduh... sakit sekali!" gumam Husna masih berjalan secara pelan.
Husna sampai di ruang tv tapi ia tidak melihat siapapun di rumah ini, keringat dingin sudah bercucuran di pelipis dan dahi Husna.
"Bik... bik Yatri...!" panggil Husna
Bik Yatri yang lagi membersihkan dapur mendengar nyonya nya yang memanggil dirinya, bik Yatri buru-buru menghampiri Husna.
"Nyonya! pekik bik Yatri saat melihat Husna sedang menahan sakit, bik Yatri langsung memapah tubuh Husna.
"Hiks... bik... sakit bik hiks...!" tangis Husna karena dia tak dapat menahan rasa sakit itu lagi.
"Masya Allah... seperti nya nyonya mau melahirkan!" ujar bik Yatri dengan nada sedikit cemas.
"Mang, mang Udin segera siapakan mobil, kita ke rumah sakit serang, nyonya mau melahirkan!" ujar bik Yatri sudah sampai di luar rumah.
Mereka sampai di rumah sakit, Husna langsung saja di bawa ke ruang bersalin, bik Yatri dan mang Udin mondar-mandir karena merasa cemas.
"Mang bagaimana ini!" ujar bik Yatri dengan gurat wajah khawatir bercampur cemas.
"Bik Yatri sudah menelepon tuan?" ujar mang Udin menenangkan bik Yatri agar tidak terlalu cemas, di sini orang selalu tenang yaitu mang Udin, mang Udin bisa bersikap tenang di depan orang yang lagi khawatir dan cemas karena dia tidak mau menunjukkan wajah cemas agar orang-orang di sekitar nya ikut merasakan tenang juga.
"Ah, iya sampai lupa! ujar bik Yatri mengeluarkan telepon genggam nya dari saku daster nya.
Ada banyak panggilan masuk dari Mahesa tapi tak sempat bik Yatri angkat karena ia panik tadinya.
"Astagfirullah alhazim... tuan Mahesa menelepon bibik tadi, tapi tak bibik angkat!"
Bik Yatri memencet nomor tuanya itu, tidak lama Mahesa mengangkat telepon dari bik Yatri itu.
'Kenapa bibik tidak mengangkat telepon dari saya?' tanya Mahesa di balik sambungan telepon itu.
"Maaf tuan, bibik tidak mendengarnya, tapi ada yang lebih gawat lagi tuan...!" beritahu bik Yatri dengan menjeda ucapan nya karena bik Yatri masih khawatir sampai-sampai suaranya hilang.
__ADS_1
'Gawat? gawat kenapa bik?'
"Tuan, nyonya tuan... nyonya...!"
'Iya ada apa dengan nyonya?'
"Nyonya mau melahirkan tuan, segera tuan datang untuk menemani nyonya, kami sedang di rumah sakit xx saat ini tuan!" beri tahu bik Yatri.
...
Mahesa langsung memutuskan panggilan telepon dari bik Yatri, karena mendapat kabar jika Husna mau melahirkan, Mahesa merasa senang saat ini.
"Tenang dulu, sekarang saya jadi ayah sungguhan, huff...!" Mahesa juga ikut cemas ia menghela napas agar tidak terlalu khawatir.
"Sekarang saya harus ke sana!" Mahesa buru-buru ingin ke Bandung untuk menemui Husna yang akan melahirkan.
Tapi sangat sial sekali bagi Mahesa karena jalanan dari sini ke Bandung sangat macet jam segini, Mahesa menghubungi Hendri untuk menyiapkan sebuah helikopter untuk pergi ke Bandung, dengan menggunakan helikopter pasti ia akan sampai lebih cepat dan bisa menemani Husna saat melahirkan.
'Baik tuan!' ujar Hendri di sambungan telepon itu.
Mahesa pergi ke tempat dimana helikopter itu di letakkan oleh keluarga Radyta, memang benar saat ini saja helikopter itu sudah siap mengantarkan Mahesa ke tempat tujuannya.
"Terima kasih Hendri!" ujar Mahesa menepuk bahu Hendri lalu Mahesa naik ke helikopter milik keluarga nya itu.
...
Husna dari tadi mengerang kesakitan, ia terus saja memanggil Mahesa agar Mahesa di sini untuk nya.
"Hiks... sakit... mas... mas Mahesa... hiks... sakit Husna tidak tahan lagi... hiks...!" tangis Husna kesakitan.
Dokter dan perawat lainnya sudah berada di dalam ruang persalinan ini, Husna terus menangis ia memegangi tepian brankar ini saking sakitnya.
"Kita harus cepat membantu nya!"
Dokter bersama perawatan itu membantu Husna melahirkan, Husna menangis sambil memanggil-manggil suaminya.
"Hiks... dokter... panggilkan suami saya hiks... mas... mas Mahesa... hiks...!" tangis Husna
...
Bersambung...
Komentar jangan next sama lanjut aja, apa salahnya berikan komentar tentang alur dan isi cerita ini!🤔🙄
__ADS_1
Skuyy yang mau baca cerita author yang lainnya boleh lah ya, dengan judul.
(Istri bercadar tak dianggap) di jamin seru, baca-baca saat bulan puasa gini seru lho.