PERTARUHAN

PERTARUHAN
USAHA


__ADS_3

Andre memandang gadis di depannya ini dengan penuh rasa iba. Ingin membantu lebih banyak pun dia belum mampu. Sebagai atasan, dia hanya bisa mengupayakan yang terbaik sebisanya.


"Ini, bisa saya ajukan lewat koperasi. Mungkin prosesnya lama. Belum tentu disetujui. Lagi pula, jumlahnya tidak banyak. Maksimal hanya tiga jutaa. Itu juga nanti gaji kamu dipotong setiap bulan. Kamu mau?" Dia menjelaskan panjang lebar.


Celine adalah karyawan yang sangat kritis jika menyangkut soal keuangan. Bonus dan luang lemburnya dia hafal jumlahnya, sekian koma sekian. Tidak boleh kurang kalau bisa lebih.


Andre mengerti. Gaji segitu dipakai untuk menghidupi dan memberi makan banyak mulut. Jika dia menjadi Celine, Andre pasti akan stres setiap hari memikirkan bagaimana mengelolanya.


Penghasilannya yang cukup lumayan saja masih terasa kekurangan jika menuruti kehendak istrinya di rumah. Entah bagaimana gadis itu bisa bertahan hidup bersama anak-anak asuhnya dengan uang segitu. Dia tak habis pikir. Salut dengan keberanian timnya yang satu itu.


"Tapi, Elin butuh cepat, Pak. Apa ada pinjaman lain untuk karyawan?" Setengah memohon dia berkata. Mau mencari ke mana lagi uangnya?


"Ga ada, Lin. Hanya itu, pinjaman koperasi. Kita ini cuma toko, bukan bank." Dia kembali menjelaskan.


"Yaudah, Pak. Elin tetap ajukan saja. Mudahan lolos. Bantuin Elin ya." Wajahnya memelas. Untung saja wajahnya cantik, sehingga hati siapa yang tidak luluh melihatnya. Ditambah dengan kehidupannya yang berat, semua orang yang mengetahui, pasti dengan ringan tangan akan membantu.


"Pasti. Kamu salah satu tim terbaik saya. Apalagi saat ini kamu sedang ada musibah, saya pasti bantu. Tapi, saya tidak bisa janji cepat. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan. Semoga bisa lebih cepat. Saya usahakan."


"Terima kasih, Pak."


* * *


"Elin, ayo masuk. Tumben kesini ada apa. Kangen sama mas, ya?" Broto menyambut kedatangan gadis pujaannya di depan pintu. Sembringah wajahnya. Berseri-seri saat wajah cantik itu muncul. Mimpi apa dia semalam?


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak usah dicari malah datang sendiri. Broto menyambutnya dengan tangan terbuka. Kalau bisa langsung ditangkap, kenapa tidak?


Celine berjalan masuk. Berat hati, tapi akhirnya dia melangkah juga, ke rumah Broto. Tangannya berkeringat dingin. Datang ke sini sama saja dengan masuk ke kandang harimau. Menyerahkan diri sebagai umpan. Siap atau tidak kemungkinan hanyalah satu, menjadi santapannya.


"Elin datang ke sini ada yang mau dimintain tolong sama Bapak." Mereka duduk bersebelahan. Broto memang sengaja mengambil posisi yang nyaman agar bisa berdekatan dengan gadis itu. Kesempatan tidak datang dua kali kan?


"Oh, ya? Ada apa, sayang?" Matanya melebar. Tak menyangkan gadisnya akan berkata seperti itu. Apa yang bisa mas bantu untuk kamu?" Seketika perut Celine berasa mual mendengar perkataan Broto tadi. Apa dia tiba-tiba terserang asam lambung? Mas? Ini orang ingat umur apa tidak, ya?


"Begini, Pak. Eh, Mas." Lancar mulutnya menceritakan semua, sedetailnya tentang kecelakaan yang dialami Putri. Broto hanya mengangguk dan mendengarkan saat dia berbicara. Sesekali senyuman terukir di wajahnya. Tanpa dijelaskan panjang lebar pun, dia sudah tau apa maksud gadis itu datang ke rumahnya.


"Elin butuh biaya buat bayar sisanya, Mas." sambil berkata itu dia menelan ludah. Berat rasanya untuk memanggil pak tua itu dengan sebutan m**as. Dia tau resikonya apa jika berhubungan dengan lelaki ini, tapi tidak ada cara lain untuk kesembuhan anak asuhnya.

__ADS_1


"Hem, banyak juga, ya. Sepuluh juta bukannya sedikit. Itu sama dengan uang sepuluh pintu kontrakan saya sebulan." Dia memilin kumis. Sesekali mengusap jenggotnya. Menimbang, apakah akan memberikan secara percuma atau meminta imbalan atas bantuannya.


Elin terdiam. Dia tau Broto pasti punya uang segitu, bahkan punya lebih dari pada itu. Tanahnya saja masih banyak. Belum ternak sapi dan kambing. Bapak ini termasuk salah satu juragan yang cukup disegani di kampung ini.


Jelas saja, asetnya banyak. Banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. Hanya, dia ini susah terlanjur cinta mati kepada Celine. Selama gadis pujaannya itu belum menikah, dia akan terus mengejar. Bahkan jandanya pun akan ditunggu.


"Iya, tolong bantuin Elin ya, Mas. Elin ga tau lagi harus minta tolong ke siapa," lirihnya. Semoga kali ini dia bersedia membantu.


"Bisa saja sebenarnya. Tapi, uang segitu, kan, tidak sedikit. Mas juga muter-muterin uang buat usaha. Lagi pula kamu pinjam lama, belum tentu bisa balik cepat. Ya, kan?" Nada suaranya memojokkan. Sebenarnya memang iya, Celine juga tidak akan mampu membayar dalam waktu yang cepat.


"Iya, Elin tau. Tapi, tolong ya, Mas. Sekali ini aja. Mas ga usah jadi donatur lagi tiap bulan. Anggap saja ini di depe." Harapnya. Begitu saja lebih baik. Dia ambil diawal semua uangnya untuk sepuluh bulan ke depan.


"Hem ... Mas bisa saja pinjamkan sekarang, tapi yah paling tidak ada jaminan begitu. Bukannya mas ga percaya sama kamu." Dia tersenyum licik Broto. Sepertinya dia merencanakan sesuatu.


Celine terdiam. Menarik napas panjang. "Mas kan tau kami ga punya apa-apa. Rumah saja ngontrak. Apa yang Elin bisa jaminkan?" Matanya menatap Broto lekat. Tak bisakah dia berbaik hati? Sulitnya meminta tolong kepada orang lain di saat kita kesulitan.


"Lin." Broto mulai mendekat. "Elin kan tau kalau mas sayang sama kamu." Tangannya mulai meremas tangan gadis itu.


Celine bergidik ngeri. Dia menepiskan, tak rela disentuh. "Eh, anu, Mas." Perlahan dia menghindar. Menggeser duduknya agar sedikit berjauhan. Broto sendiri malah semakin merapat.


Gadis itu ketakutan. Tubuhnya gemetaran. Peringatan keras sudah berbunyi sedari tadi di kepalanya. Hanya dia tidak mengindahkannya. Masih saja bertahan di sini. Berharap mendapatkan bantuan, malam mengancam kehormatan.


"Bapak mau apa?" Menepiskan tangannya, saat Broto nekat memegangnya.


"Lin, maukan jadi pacar mas. Beneran mas janji bakal nikahin Elin. Nanti mau minta apa aja mas kasih." Tangannya kini beralih memeluk pundak Celine. Sedikit lagi gadis ini akan berada di dalam dekapannya.


"Engggg ..."


"Lin mau minta uang berapa? Sepuluh juta itu sedikit, sayang. Mas bisa kasih lebih. Berapa aja yang kamu mau," bisiknya.


"Eh, Pak. Lepasin tangannya. Saya ga suka dipeluk." Gadis itu menepiskan tangan nakal yang mulai meraihnya.


"Elin butuh uangnya sekarang, kan? Ayo kita ambil. Tapi, temenin mas dulu di dalam." Tangan nakal itu mulai turun kebawah, mengelus pahanya.


"Elin ga mau, Pak!" Gadis itu menolak dengan tegas. Semakin di diamkan, semakin menjadi.

__ADS_1


"Jangan gitu, sayang. Mas ga akan nyakitin kamu, kok." Ucapannya kali ini sungguh menjijikkan.


"Lepasin, Pak!" Dia mendorong tubuh Broto. Ini apaan sih? Benar-benar tidak tahu malu.


"Di sini lagi sepi. Cuaca mendung enak kalau kita kelonan." Nekat dia memeluk Celine. Mulutnya bahkan sudah mulai menyosor, hendak mencium pipi.


Tidak! Tolong!


"Lin ga mau. Lepasin, Pak! Lepas!" Dia meronta.


"Ayolah, Lin. Mas udah ndak tahan." Tangannya menarik-narik agar gadis itu semakin merapat. Terjadilah tarik-menarik dan dorong-mendorong diantara dua orang ini.


"Bapak gilaaaa ... Lepas!" Celine menolak muka Broto, tapi laki-laki itu masih saja terus berusaha menciumnya.


Tiba-tiba ....


"Bapak! Bapak mau ngapain?" Sebuah suara menghentikan.


Celine menatap seraut wajah yang sudah tidak asing baginya. Putra sulung Broto. Syukurlah dia datang. Kehadirannya menyelamatkan dirinya dari terkaman buaya darat nan bangkotan itu.


"Eh kamu kapan datang?" Broto melepaskan pelukannya. Dia malu ketahuan anaknya. "Kok datang kesini ga ngabarin Bapak?" Broto berbasa basi mengalihkan pembicaraan. Mau ditaruh di mana mukanya kali ini. Untung saja anaknya sendiri yang menemukannya. Coba kalau orang lain? Bisa jadi bahan gosip sekampung.


"Bapak mau mesum sama Elin?" tanya putranya dengan tatapan penuh amarah.


Broto menggeleng, berusaha mengelak. Percuma, sudah ketahuan juga.


"Ingat umur, Pak. Ingat cucu. Ingat almarhum Ibu. Bapak kalau suka, nikahin baik-baik. Bukan begini caranya," katanya tegas. Wajahnya menyiratkan kemarahan. Tangannya terlipat di dada. Walau pun begitu nada bicaranya masih sopan mengingat itu orang tua kandungnya sendiri.


"Eh engga. Bapak cuma ..."


"Saya permisi pulang!" Celine memutuskan pembicaraan dan segera pergi.


"Eh, Lin. Tunggu dulu. Mas mau ta-nya ..." Suara anak Pak Broto terdengar samar-samar. Dia sudah tak memperdulikan lagi. Setengah berlari dia menuju motor yang di parkir di samping rumah.


Sekarang dia harus kembali ke rumah sakit. Putri membutuhkannya. Tadi sebelum kesini dia menitipkan anak itu kepada perawat jaga. Untung Putri sedang tertidur, jadi dia tidak mencari kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2