
Sebuah kecupan di pipi membangunkan tidurnya. Dia menggeliat perlahan saat cahaya sinar matahari masuk ke kamar ketika gorden dibuka. Matanya mengernyit. Tangannya menutup wajah.
"Pagi, sayang." Aroma minta mint segar menguar di hidung Celine. Siapa yang menciumnya? Rasanya tadi malam dia tidur sendirian. Setelah berkeliling melihat satu persatu bagian dari apartemen ini, dia langsung tertidur pulas.
Perlahan dia membuka mata. Mendapati Bisma tersenyum melihatnya. Lelaki itu selalu tampan dari sejak dulu. Bersih wangi dan berkharisma.
"Eh pagi, Kak," jawabny malu-malu. Dia teringat bahwa sekarang dia sudah menjadi istri Bisma.
"Ayo sarapan. Nanti kita terlambat. Flight kita sebentar lagi." Bisma menarik tangannya. Tangan kokoh itu berusaha memeluk, tapi Celine melepasnya. Malu. Canggung.
"Iya. Aku mandi dulu. Sebentar, ya." Dia berjalan menuju kamar mandi. Bisma menatapnya tak berkedip. Menyadari hal itu dia segera masuk.
"Jangan ngintip. Nanti bintitan." Dia menutup pintu.
Lelaki itu tertawa geli. Lucu sekali istrinya. Tiba-tiba saja dia ingin sekali mengerjai istrinya.
__ADS_1
Brak ....
Dia menarik pintu yang ternyata tidak dikunci.
Celine berteriak. Wanita itu segera menarik handuk menutupi tubuhnya. Wajahnya tertunduk menahan malu. "Kakak mau apa?" Ada getar dalam nada suaranya. Dia tahu tapi sendirinya belum siap jika suaminya menginginkannya.
"Mau mandi bareng," jawab lelaki itu jahil. Dengan cepat dia menarik tubuh indah itu dalam rengkuhannya. Memandang mata indahnya. Mengelus lembut harum rambutnya yang tergerai.
Celine menggeleng. "Jangan, Kak."
"Kenapa?" Suaranya berubah parau. Harum tubuh wanita ini membuatnya mabuk. Lupa bahwa hari ini mereka harus segera berangkat.
Bisma terbuai akan permainannya sendiri. Istrinya cantik sekali, dan sungguh menggoda iman. "Sayang ..." bisiknya lembut.
Dia menolak Bisma dengan pelan. Takut suaminya tersinggung. "Kak ... nanti kita terlambat," kata itu terucap diantara deru napasnya.
__ADS_1
Seketika Bisma tesentak, lalu mengecup keningnya perlahan. "Oh, iya. Aku tunggu di bawah. Jangan lama-lama." Dia melepaskan rengkuhannya dan segera keluar dari kamar.
* * *
Lelaki sudah duduk di minibar menunggu istrinya datang. Dia mengaduk-ngaduk kopi. Harum baunya memenuhi ruangan itu. Semacam aromaterapi yang menenangkan.
Tap ... Tap ... Tap ....
Terdengar suara langkah menuju tempatnya duduk sekarang. Dia menoleh. Matanya terbelalak melihat penampilan istrinya pagi ini. Tatapannya terpusat pada seraut wajah cantik di hadapannya. Matanya tak berkedip. Bisma menelan ludah.
Gadis itu memakai dress casual. Rambut panjangnya digerai. Dia memakai lisptik merah dan sedikit make-up. Harum parfumnya menggoda. Benar-benar berbeda dengan Celine yang biasa dilihatnya. Memakai seragam minimarket dengan rambut diikat.
Saat menikah juga dia melihat Celine biasa saja. Padahal gadis itu memakai kebaya dengan make-up lengkap. Apa karena sekarang dia sudah menjadi istrinya. Bisma membayangkan ....
"Kenapa?" Dia bertanya saat melihat suaminya yang terdiam seperti itu. Dia sendiri tidak mengerti sinyal-sinyal seperti ini. Tanda bahwa lelaki dihadapannya sedang menginginkan dirinya.
__ADS_1
"Eh, ga apa-apa. Ayo makan." Bisma mengalihkan pembicaraan. Wajahnya memerah. Kenapa jadi dia yang malu?
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.