
Celine menggeliat di bawah tindihan tubuh besar diatasnya. Lelaki ini penuh gairah, sehingga bernapas baginya pun sulit rasanya. Dia diserang dari berbagai arah. Di puaskan dengan berbagai sentuhan, kecupan dan cumbuan yang menari-nari tiada henti.
Tubuhnya bereaksi dengan sangat baik akan semua ini. Dia tak pernah merasakan sebelumnya, sehingga ketika pertama kali terjadi semua terasa luar biasa.
Bisma terengah-engah. Dia sudah saat ingin menyatukan tubuh mereka sejak awal dia melucuti semua pakaian istrinya ini. Tapi dia bersabar. Menunggu ketika wajah cantik itu meng-anggukkan kepalanya. Dia dengan segera meng-eksekusi. Bisma merasakan surga dunia benar-benar ada di genggamannya. Utuh tak bercela.
Penuh perjuangan untuk menggapainya, tapi dia tau dialah lelaki paling berbahagia saat ini. Tetesan air mata celine menambah kebahagiaan di hati Bisma. Wajah yang meringis kesakitan, bibir yang digigit dengan mata terpejam serta desahan menggoda iman. Geliat tubuh mereka bergerak seirama. Bersatu menggapai cinta.
Dia istriku. Dia halal untukku.
* * *
Celine mematikan shower. Sudah hampir satu jam dia di dalam kamar mandi dan tidak berani keluar. Bisma sedari tadi sudah terbangun menunggunya, dan dia merasa malu setengah mati.
Bagaimana dia bisa keluar tanpa pakaian dan ada suaminya di situ?
Kenapa malu? Kan kalian sudah sah.
"Sayang. Sudah belum mandinya?" Lelaki itu mengetuk pintu.
__ADS_1
"Be-belum kak se-sebentar lagi." Tangannya gemeteran sampai handuk yang dipegangnya terlepas, jatuh dan basah.
Bisma tertawa geli. Kegugupan istrinya itu sangat kentara terdengar di telinganya.
"Aku masuk ya. Udah ga tahan nih." Dia berniat menggoda.
"Kakak mau apa?!" ucapnya setengah berteriak. Bisma menahan tawa. Lucu sekali sampai gemas dibuatnya.
"Aku mau mandi juga, sayang. Lengket ini, sisa semalam. "
"Kak ..." rengeknya. Manja sekali. Membuat Bisma ingin segera bergabung dengannya di dalam.
"Ambilkan handukku!" Perintahnya.
"Tadi ga bawa?" Masih saja menjahili istrinya.
"Jatuh. Basah," jawabnya.
"Apanya yang basah?" Bisma menahan tawa sedari tadi. Dia senang sekali. Belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan dengan Tiara sekalipun.
__ADS_1
Tiara? Lupakan saja dulu sementara ini, Bisma. Kamu sedang bersama Celine saat ini.
"Handuknyaaaaa ..." Teriak wanita itu. Dia merasa kesal sejak tadi digoda terus. Padahal dia sudah menggigil sedari tadi karena kedinginan.
"Oh kirain apa gitu?" Bisma tertawa terbahak-bahak.
"Cepetan kak. Dingin ini." Ujung-ujung jarinya mulai mengkerut. Bibirnya pucat membiru. Jantungnya berdebar kencang.
"Ya udah aku masuk ya." Semakin jadi Bisma menggodanya. Dia serasa kembali seperti remaja dulu. Jatuh cinta lagi.
"Kakaaakkk ..." Celine menahan tangisnya. Entah apa yang dia rasakan. Bahagia atau sedih? Semua bercampur aduk.
Hiks ... hiks ... hiks ...
Bisma tersentak mendengar suara isak tangis di dalam. Pelan dia membuka pintu. Benar saja sesuai dugaannya. Pintu itu tidak di kunci. Celine tidak tau cara menguncinya. Dia tidak pernah menginap di hotel. Seumur hidupnya inilah pengalaman pertamanya.
Bisma menarik tubuh itu di dalam pelukannya. Membalutkan handuk putih di tubuh yang menggugah hasratnya sebagai seorang lelaki.
Bisma mengerti, istrinya yang satu ini memang belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Celine hanyalah wanita biasa yang hanya mengabiskan waktunya di panti dan toko. Tidak pernah ke tempat-tempat seperti ini. Hal ini tidak menjadi masalah buatnya. Toh setelah jadi istrinya, Bisma akan mengenalkan dunia baru kepada istrinya.
__ADS_1
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.