PERTARUHAN

PERTARUHAN
PULANG


__ADS_3

"Kakak ..."


Celine memeluk mereka satu persatu. Anak-anak asuhnya. Ada rindu yang bertumpuk-tumpuk selama seminggu ini dia meninggalkan mereka semua.


"Kakak pergi ke mana?"


"Kok lama pulangnya?"


"Kak, Dafi berantem sama Andi. Rebutan kue."


"Kak, dikampung ada apa aja? Ada rambutan gak?"


"Kak, aku bosen masakan bibik. Mau kakak aja yang masak."


"Kak. PR ku banyak. Susah mau jawabnya. Ajarin, Kak."


"Kak, bajuku sobek. Belikan baru, ya."


"Kak, Mak Susi cerewet. Kalau ada kakak dia baik."


"Kak."

__ADS_1


Celine menoleh. Putri tampak cantik dengan rambut diikat. Kakinya masih pincang. Masih memakai tongkat. Berat hati sebenarnya waktu meninggalkan mereka walau hanya seminggu.


"Sayang." Celine memeluknya. Gadis mungil ini cacat setelah kecelakaan itu. "Gimana kabarmu? Sehat?"


"Sehat. Kakak lama pergi. Kami kangen."


"Kan, cuma sebentar."


"Tapi, rasanya lama."


"Ini kakak udah pulang. Ayo kita makan kue. Kakak beli banyak." Sedikit lagi jika dia meneruskan kalimatnya, air mata pasti akan tumpah.


Gadis itu mengangguk. Mengikuti Celine dan yang lainnya menuju meja makan.


Bik Onah memeluknya erat. Susi juga. Ah, rumah memang tempat yang paling nyaman untuk pulang.


"Ayo duduk dulu. Kakak bawa oleh-oleh nih. Dari kampung."


White Lies. Sedikit berbohong tentang kepergiannya. Mengatakan pada semua orang dia pulang ke kampung halamannya. Padahal dia sendiri tak punya. Tak tahu dari mana dia berasal.


Bulan madu yang indah di awal tapi menyakitkan di akhirnya. Mereka hanya beberapa hari di luar kota. Setelah itu pulang ke apartment.

__ADS_1


Hari terakhir di apartment, suaminya malah tidak pulang semalaman. Entah kemana dia, tidak ada memberi kabar sama sekali. Paginya datang dan langsung mengajak pulang.


Celine ingin marah, tapi urung. Mengingat lelaki itu adalah penguasa atas semua kehidupannya dan juga panti.


Dia memilih diam. Mengikuti apa saja maunya. Benar saja, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menandakan sejumlah uang masuk. Nilainya cukup besar. Dia tidak perlu mencari donatur lain. Cukup dari suaminya saja, Bisma.


"Bawa apa, Kak?" Satu-persatu mereka duduk dengan rapi. Mata mereka berbinar-binar senang


"Ini bawa kue. Sebentar ya, kakak bagi dulu. Ga boleh rebutan." Dia meletakkan potongan kue di piring-piring kecil yang sudah disediakan. Bik Onah dan Susi memang gerak cepat kalau soal makanan.


Sementar anak-anak makan dengan lahap, dia duduk diam sambil mengamati. Kali ini porsinya banyak. Mereka boleh makan sampai puas, sampai kenyang. Uang yang dikirim Bisma bahkan cukup untuk sampai dua bulan ke depan.


"Sebagian untuk kebutuhan panti. Sebagian lagi nafkah dari aku untukmu, sayang." bisik lelaki itu mesra sebelum mereka berpisah.


"Makasih ya, Kak." Dia tertunduk malu. Bisma menjadi semakin gemas saja waktu itu. Ingin mencumbunya kembali, kalau tidak ingat dia juga harus pulang ke rumahnya.


Lelaki itu mengantarnya hanya sampai di travel, kemudian mereka berpisah. Ada rasa sedih dalam hati Celine. Bagaimana pun, rasanya dia ingin berada didekat suaminya, selalu.


"Eh, Neng. Istirahat dulu. Biar bibik sama Susi yang ngeliatin anak-anak. Neng pasti capek."


Celine tersentak dari lamunannya. Dia melangkah menuju kamar. Tidak ada yang berubah setelah seminggu dia tinggalkan.

__ADS_1


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.


__ADS_2