PERTARUHAN

PERTARUHAN
ANAK-ANAK


__ADS_3

Rumah itu nampak asri dengan halaman yang luas. Banyak pohon-pohon rindang yang sengaja ditanam oleh si empunya rumah. Sebagian adalah pohon buah-buahan yang bisa dipanen jika sudah waktunya tiba. Bentuk atap rumah itu menyerupai pelana yang dilipat. Jika di lihat dari samping, maka lipatan-lipatan tersebut terlihat seperti lipatan kebaya. Orang Betawi menyebutnya Rumah Kebaya.


"Assalamualaikum. Abah Ummi, Elin datang nih." Celine mengetuk pintu.


Tak lama keluarlah seorang lelaki separuh baya menyambut kedatangannya. "Waalaikum salam. Neng, masuk sini." Si bapak yang dipanggil Abah itu menyuruhnya masuk ke dalam rumah.


"Ummi mana, Bah?" Gadis itu mengambil tangan si bapak kemudian menciumnya. Tanda hormat kepada orang yang lebih tua.


"Ke pasar. Biasa belanja. Tau dah nyari apaan." Mereka berdua duduk berhadapan. Teras rumah ini memang luas, Abah dan Ummu biasa mengggunakannya untuk menjamu tamu dan menjadi tempat bersantai keluarga.


"Bah, Elin mau minta tolong. Soal panti." Dia memulai pembicaraan. "Kasian anak-anak." Setengah memelas dia bersuara.


Abah menarik napas panjang. Simalakama. Kalau rumah itu tetap dipakai untuk menampung anak-anak yatim piatu itu, dia tidak punya uang untuk membantu anaknya. Kalau rumah itu dijual, kasihan mereka juga mau tinggal di mana. Serba salah kalau sudah begini.


"Neng. Abah juga mau nulungin, tapikan Neng tau ndiri, Abah udah tua. Abah sama ummi pengen naek haji. Lagian anak-anak Abah pade banyak utang semua. Kalau ntu panti dijual, pan duitnye lumayan buat bayar semua." Dia menjelaskan panjang lebar.


"Tapi, kami mau pindah ke mana Bah. Sewa rumah di tempat lain mahal. Abah taukan Elin cuma karyawan biasa. Mana cukup gaji. Donatur juga udah mulai sepi." Saat ini Celine memang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Abah menimbang-nimbang. Mencari jalan terbaik. Kasihan juga anak ini, kalau sampai mereka diusir dari rumah itu.


"Gini aje. Neng cari-cari dulu rumah buat kontrakan. Mane tau ada yang murah. Kalau belom nemu juga, ntar Abah pikirin. Abah rembukan dulu sama ummi." Abah memberikan solusi. Dia juga tidak tega hendak mengusir mereka.


"Tulungin ye, Bah" Seketika Celine merasa tubuhnya lemas. Kata-kata Abah tadi membuat semangatnya hilang.


Dia teringat kembali saat pertama kali berkenalan dengan keluarga baik ini. Waktu itu, dia tak sengaja bertemu dengan putra sulung mereka. Jali, namanya. Mereka kemudian menjadi dekat dan akrab. Celine bahkan sudah dianggap seperti anak kandung, karena mereka tidak memiliki anak perempuan.


Ummi bahkan mengharapkan dia berjodoh dengan Jali. Tetapi Celine waktu itu masih kuliah, sehingga dia menolak. Akhirnya Jali kecewa dan menikah dengan gadis lain. Untungnya hubungan silaturahmi mereka tidak putus. Abah Ummi meminjamkan rumah mereka yang tidak terpakai sebagai tempat menampung anak yatim piatu.


Dia sendiri, awal membuka rumah panti itu tidak sengaja karena saat pulang kuliah bertemu dengan gadis kecil yang dibuang oleh orang tuanya. Dia membawanya ke kantor polisi. Namun berhari-hari tidak ada kabar.


Setelah rembukan dengan Jali, Abah dan Ummi, akhirnya dia dipinjami rumah itu. Berdua Jali mengelolanya, mencari anak-anak yang sudah tidak diinginkan keluarga. Celine melamar pekerjaan sebagai kasir di salah satu mini market untuk biaya dia kuliah dan menampung anak-anak.


Sayang, karena sesuatu lain hal, kuliahnya terpaksa berhenti. Jali juga menghilang, mungkin karena kecewa. Sejak saat itulah, dia berjuang sendiri menafkahi mereka. Berat, tapi dia kuat. Dia tangguh, karena sejak dulu dipaksa begitu oleh keadaan.


"Iye, Neng. Abah juga kesian sama ntu anak-anak. Udah kayak cucu ndiri." Abah berusaha menenangkan.


"Yaudah Elin pulang dulu. Dari tadi anak-anak nungguin. Salam sama ummi. Assalamualaikum." Dia kembali mencium tangan Abah tanda pamit.


"Waalaikum salam. Ati-ati, Neng. Awas kepentok cowok cakep."


Celine tertawa sambil melambaikan tangan. Abah. Sudah tua masih suka guyon. Kalau di rumah abang berasa seperti di rumah sendiri. Keluarga mereka hangat, saling melindungi. Kehangatan yang sudah lama tak pernah Celine dapatkan sejak dulu.


* * *


"Kakak ...." Dua puluh anak-anak berusia tiga sampai enam tahun menyerbu saat pintu rumah terbuka. Celine mengabsen satu persatu dari yang kecil sampai yang besar. Lengkap. Semua berkumpul jika dia datang.

__ADS_1


Diperlihatkan kresek hitam yang sedari tadi di sembunyikan di balik punggung. Sengaja memberikan mereka kejutan. "Hem ... harum." Dia mencium kresek itu di depan mereka. Membuat anak-anak itu menjadi penasaran.


"Apa itu, Kak? Apa itu, Kak?" Mereka berebutan ingin menyambarnya. Lagi-lagi Celine menggoda, diangkatnya tinggi sehingga mereka melompat-lompat ingin menggapainya.


"Ayo, cuci tangan dulu. Habis itu kita bagi. Oke?"


Okeee ....


Mereka berlarian ke belakang. Anak-anak, tiada hari tanpa berlari. Seolah-olah jatuh tak pernah membuat mereka jera.


Dia duduk di meja makan. Menghela napas panjang. Mengelap keringat yang tadi menetes. Mengencangkan ikat rambut ya, kemudian mengeluarkan isi kresek dan menyusunnya dipiring kecil-kecil. Masing-masing dapat satu. Hanya yang usia lebih tua dapat potongan lebih besar daripada adik-adiknya.


"Kue boluuuuu ..." Mereka berlari lagi menuju meja makan saat melilhat ada makanan enak telah tersaji.


Bukan meja sebenarnya. Hanya papan-papan biasa yang bentuk meja panjang. Bahkan tidak di cat dan tidak ada alasnya. Setiap pagi dan malam tugas mereka membersihkannya bergantian.


"Ayo duduk. Makan kuenya pelan-pelan. Habis itu diminum tehnya. Jangan berebutan." Dia mengatur posisi duduk mereka. Anak yang suka berantem dengan yang lain, dipisahkan duduknya. Sehingga saat makan tenang, tidak berisik karena suara tangisan. Yang paling kecil juga ikut duduk, dibantu karena tidak sampai kakinya. Celine tertawa geli melihatnya.


"Awas keselek. Baca doa dulu sebelum makan." Serentak mereka mengulurkan tangan. Membaca doa yang sudah dia ajarkan. Harus hafal, kalau tidak nanti dapat hukuman.


"Alloohumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar.”


Enakkkk ....


Mereka makan dengan lahap. Beberapa bahkan mendiskusikan keju merk apa yang di tabur di kue itu sehingga rasanya enak. Bahkan ada yang iri-irian karena keju di kuenya lebih sedikit.


Celine sengaja memotong kuenya di pantry sepulang jam kerja. Karena akan berisik jika dia bawa pulang ke panti. Anak-anak pasti ikutan membantu. Itu cukup merepotkan. Bukannya membantu, yang ada malah berebutan. Ujung-ujungnya mereka bertengkar.


"Dah pulang Neng?" Seorang wanita tua keluar dari dapur membawa membawa secerek teh panas. Ada gelas plastik disusun bertumpuk di sebelahnya. Dia meletakkan gelas itu dan menuang isi cerek ke dalamnya. Nanti selesai makan, anak-anak akan mengambil sendiri minumannya.


Onah nama wanita itu. Dialah yang sejak awal membantu Celine mengurus panti ini. Mengurus anak-anak dengan sabar. Menasehati dan membimbing layaknya seorang ibu.


"Baru nyampai, Bik." Dia mnyerahkan dua potong kue bolu untuk Onah. "Makan, Bik."


"Ga usah Neng. Buat anak-anak aja." Onah menolak. Dalam hatinya juga ingin sebenarnya. Kue bolu siapa yang tidak suka. Tapi jika buat anak-anak saja tidak cukup, dia lebih baik mengalah.


"Ada kok. Tadi Elin beli banyak." Celine kembali menyodorkan piring plastik itu ke hadapan Onah.


"Lagi promo ya, Neng. Kue bolunya?"


"Iya, Bik. Tiga bulan lagi mau expired, tapi masih bagus kok. Tadi Elin sama temen-temen udah nyobain di pantry." jawabnya enteng. Kalau memang tidak punya uang berlebih, barang expired yang dilelang menjadi pilihan. Asal tidak berjamur atau berubah rasa tetap dibeli. Sekalipun mempertaruhkan kesehatan diri.


"Oh." Onah melahap kuenya. "Enak, Neng. Ada kejunya."


Mereka berdua tertawa geli. Sudah biasa.

__ADS_1


* * *


Celine merebahkan tubuhnya di dipan kayu. Tubuhnya sangat lelah sepulang dari kantor Bisma. Tadi dia membujuk Pak Andre untuk bisa izin dan bekerja hari ini. Tapi hasilnya nihil. Dia baru bisa bertemu Bisma besok jam tiga sore sesuai dengan perjanjian.


Dia memandang buku rekening yang siang tadi dibawanya berkunjung ke bank. Setelah dari kantor itu, dia mampir sebentar untuk mengecek saldo.


Ada transferan masuk. Lumayan, lima ratus ribu. Kebetulan di mini market sebelah bank tadi sedang ada promo makanan. Dia mampir melihat-lihat dan dapatlah kue tadi. Beli dua gratis satu, dengan masa expired tiga bulan ke depan.


Dia berharap ada nugget atau sosis promo karena anak-anak suka, tapi belum beruntung. Mungkin dua atau tiga bulan lagi akan diobral kalau sudah tidak laku.


"Neng. Beras habis. Telur juga." Onah datang menghampirinya. Celine memang tidur sekamar dengannya. Anak-anak dikamar masing-masing dengan tempat tidur bertingkat.


Ada empat ruang di rumah ini. Tiga ruang dipakai sebagai kamar. Satu ruang dipakai sebagai ruang tamu merangkap ruang makan, nonton tv dan bermain. Kamar mandi merangkap tempat cuci baju.


Ada dapur kecil di belakang, tanahanya diambil sedikit untuk membuat dapur dari kayu seadanya untuk tempat masak dan cuci piring. Sisa tanah masih luas sekali. Mungkin itulah pertimbangan para kontraktor untuk membeli rumah ini, karena sisa tanah masih bisa dibangun lagi.


Biarpun rumah ini biasa saja, tapi kebersihan tetaplah utama. Celine tidak mau sembarangan mengelola panti sekalipun tempat mereka hanya sederhana. Lagi pula tidak mungkin juga dia bangun, ini rumah sewa.


"Besok Elin pergi belanja, Bik. Mau lihat mini market sebelah. Kali ada promo lain. Di tempat Elin masih mahal."


"Iya, Neng."


"Apalagi yang habis, Bik?"


"Hampir semua. Minyak goreng masih ada dikit, cukup sampai minggu depan."


Celine mengangguk.


"Anu, Neng." kata Onah sedikit ragu.


"Si Ijal minta susu. Nangis dia kalau tidur ga dodot."


"Kan udah ada yang kalengan Elin belikan minggu lalu."


"Ga mau dia. Minta susu bubuk. Katanya yang kalengan ga enak."


Nyut ... Nyut ... Nyut ....


Kepalanya seketika bereaksi. Teringat wajah lucu Ijal, anak asuhnya paling kecil, belum tiga tahun. Memang masih butuh susu, dia menjadi tidak tega. Semoga ada susu promo. Biar berbeda merk nya juga tidak apa-apa yang penting murah.


"Iya, Bik. Nanti Elin carikan."


Dia menatap kembali saldo di buku rekening. Transferan donatur tadi pagi bakal ludes besok. Sedangkan saldo sebelumnya sudah tipis. Kemana lagi dia akan mencari tambahan.


Mudah-mudahan tidak ada yang sakit. Dia memijit kepala. Setiap hari harus memikirkan bagaimana mengelola keuangan membuat kepalanya pusing. Perlahan dia memejamkan mata. Sebelum tidur dia berdoa. Tak meminta apa-apa. Hanya ini diberikan kecukupan rezeki untuk membesarkan anak-anak kesayangannya.

__ADS_1


Tuhan maha adil. Selalu ada jalan untuk setiap permasalahan.


__ADS_2