
Celine memasukkan barang-barang ke dalam kantong belanja. Sepulang dari restoran tadi, dia mampir ke mini market terdekat. Membeli beberapa barang diskonan.
Sebenarnya paling enak jika diantar Fauzan, karena kalau pakai mobil bisa muat lebih banyak. Tapi tak apalah, mumpung hari ini dia off, sekalian saja. Motornya penuh, jadi dia membawanya pelan-pelan.
Tak terasa hari sudah sore, bahkan hampir gelap. Dari tadi dia asyik memilih sampai lupa waktu. Ikan yang dibungkus tadi, bakal dihangatkan lagi untuk makan malam anak-anak.
Bles!
Motornya tersendat dan terguncang. Hampir saja dia jatuh. Dia turun dan menepikan kendaraannya. Semangatnya hilang melihat ban motor yang amblas. Sepertinya bocor, ada paku yang menancap.
Dia melihat sekeliling, tidak ada tukang tambal ban. Bengkel juga sudah banyak yang tutup. Hampir pukul enam sore saat dia melirik ke arah jam tangannya.
Sedikit merasa takut, pasalnya jalanan sekitaran sini cukup sepi. Celine berdoa dalam hati semoga tidak ada yang mengganggunya. Zaman serba sulit sekarang, di mana-mana banyak preman yang suka malak.
Mau menelepon Fauzan tapi tidak enak rasanya. Beberapa kali dia menimbang. Ragu, dan akhirnya dia mengambil ponsel, mulai menghubungi lelaki itu.
__ADS_1
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan periksa kembali nomor tujuan anda."
Begitulah jawabannya. Kemudian dia menelepon lagi. Menghubungi Onah, memberitahu bahwa dia pulang terlambat karena motonya bocor. Onah berpesan agar dia berhati-hati karena sudah hampir malam.
"Sendirian, Mbak?" Suara seorang lelaki mengagetkannya.
Dia menoleh. Ya Allah, semoga ini penolong. Dilihat dari penampilannya, ini pemuda baik-baik. Tidak ada tato atau anting dan rambut yang di cat warna-warni. Jadi sepertinya aman saja.
"Ban motornya bocor, Mas." Dia menunjuk ke bawah.
Dia mengangguk. Tubuh kecilnya tak mungkin sanggup mendorong sejauh itu. Mana bawaannya banyak pula.
Berdua mereka berjalan menuju arah yang berlawanan dari rumah. Kemudian berbelok ke arah gang yang agak sempit. Celine berjalan di belakang mengikuti pemuda tadi.
"Masih jauh, Mas?"
__ADS_1
"Dikit lagi, Mbak. Diujung, ada tambal ban. Kasian Mbak-nya kalau dorong sendiri, berat," jawab lelaki itu.
Sampailah mereka pada sebuah rumah kayu bertuliskan tambal ban bocor. Lelaki itu mengetuk pintu. Muncullah seorang bapak. Mereka berbicara sebentar kemudian si bapak mengambil peralatan tempurnya.
Ternyata harus diganti. Untunglah masih ada sisa uang belanja tadi. Dia tidak pernah membawa uang banyak, bahkan ATM khusus dana dari donatur dia simpan di rumah.
Celine duduk di kursi kayu, menunggu motornya dikerjakan. Lama juga sudah lima belas menit dan akhirnya selesai. Dia membayar sesuai dengan yang diminta, lebih mahal dari biasanya. Dia masih bersyukur saja ada yang bisa menolong. Kalau tidak, entah bagaimana dia pulang nanti.
"Anterin saya ke tempat tadi, Mbak," kata lelaki itu. Berdua mereka menyusuri jalan.
"Loh kok ke arah sini, kan bukan tempat tadi?"
"Saya mau beli rokok," ucapnya. Celine menuruti saja. Pemuda ini sudah berbaik hati menolongnya. Taka apalah dia membalas budi, kalau perlu dia akan membayarkan belanjaannya.
"Bentar ya, Mbak." Lelaki itu memarkir motor agak jauh dari warung. Agak gelap di sini, sepi juga seperti tempat tadi. "Minta duit." Dia mengulurkan tangan.
__ADS_1
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.