
Wanita jelita itu sedari tadi bolak balik menelepon suaminya. Tidak diangkat. Kadang terputus. Oke, mungkin ada gangguan signal. Provider sering mengalami kendala seperti ini. Resiko jika memilih long marriage relationship. Ponsel menjadi ajang pelepas rindu.
Tiara nama wanita itu. Ibu satu anak yang sedang menempuh pendidikan di negara ini. Demi cita-citanya menjadi seorang pendidik yang berkualitas, menciptakan generasi penerus bangsa yang mandiri dan tangguh.
Untuk itulah dia berani mengambil resikonya, berpisah dengan mereka. Dia membawa serta anak lelakinya, atas permintaan suaminya.
Bisma ke mana saja sih, rutuknya dalam hati. Biasanya tidak begini. Entah mengapa satu bulan ini terlihat aneh. Sangat sulit di hubungi. Sekalipun bisa, hanya sebentar.
Dia mengerti suaminya sedang mengerjakan sebuah proyek besar tahun ini. Memang itulah pekerjaannya. Hanya saja, kali ini aneh. Seperti lupa pada anak istrinya.
Panggilan ke tiga puluh dua, tersambung. Terdengar suara serak seorang lelaki. Sepertinya baru bangun dari tidur.
__ADS_1
"Mas, what are you doing?" Tiara bertanya langsung saat mendengar suara Bisma.
"Sorry, ngantuk berat."
"Habis ngapain aja? Susah banget dihubungi." Firasatnya yang bertanya kali ini. Feeling perempuan sangatlah kuat. Sesuatu yang janggal biasanya akan cepat terdeteksi.
"Lembur sayang. Udah jalan proyeknya. Mas ketiduran. Devan mana?" Bisma bertanya kabar putra mereka. Biasanya setiap hari dia akan menelepon putranya. Tapi sebulan ini, dia benar-benar lupa. Celine, telah mengalihkan dunianya.
"Sudahlah, sayang. Apalagi yang kamu cari? Karirmu juga udah bagus kan di sini. Pulanglah." Inilah yang menjadi perdebatan mereka beberapa bulan terakhir.
Tiara, istrinya bersikeras untuk sekolah lagi. Dia seorang dosen di salah satu universitas di ibu kota. Tiara sangatlah pintar. Cantik dan terpelajar. Hanya sayang, dia lebih mementingkan karir. Bisma tidak melarangnya bekerja. Sebagai seorang suami, hal yang paling dia inginkan adalah perhatian dan kasih sayang. Untuknya dan putra mereka.
__ADS_1
Awalnya, Tiara tidak mau membawa Devan sama sekali. Wanita itu bersikeras ingin meninggalkan putra mereka. Dia ingin pergi sendiri, supaya lebih bebas menyelesaikan pendidikannya tanpa diganggu oleh siapa pun.
Bisma berang. Dia memberikan ultimatum. Tiara boleh saja melanjutkan pendidikan di mana pun, tapi harus membawa putra mereka. Devan masih kecil, masih butuh kasih sayang ibunya. Anak-anak bisa saja berpisah jauh dengan papanya, tapi tidak dengan mamanya.
"Mas, cuma setahun kita berpisah. Mas masih ga ikhlas sama keputusan aku?" Wajah cantiknya nampak kecewa. Sampai sudah berada di sini pun, lelaki itu masih mengungkitnya. Sejak dulu mereka memang selalu bersama. Kalau berpisah juga paling lama seminggu. Itu juga masih dalam kota atau wilayah sekitar Indonesia.
Kali ini, dia memilih Jerman sebagai tempat penelitiannya, karena ingin merasakan tinggal di luar negeri. Bukan hanya berlibur seperti yang biasa mereka lakukan. Jerman negara yang cantik. Banyak objek wisata yang menarik dan indah. Beberapa kali disela waktu liburnya, dia mengajak putra mereka, beserta pengasuhnya pergi berlibur.
"Sayang, jangan terlalu lama. Setahun cukup." Lelaki itu duduk di sandaran tempat tidur. Sebenarnya dia sangat sayang kepada istrinya. Sayang sekali.
Benar kata orang. Jika kamu memilih hidup bersama seorang wanita hebat, kamu juga harus menerima kalau dia itu keras dan tak terkalahkan.
__ADS_1
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.