PERTARUHAN

PERTARUHAN
TELEPON


__ADS_3

Bunyi dering ponsel membangunkannya. Tangannya bergerak meraba benda pipih itu di nakas. Setengah matanya masih tertutup. Dia masih mengantuk. Kepalanya juga terasa berat.


"Halo."


"Pagi, Bos." Terdengar sebuah suara menyapanya.


"Oh, ya. Gimana?"


"Udah selesai sesuai dengan pesanan. Serah terima surat jual beli dan sertifikat tanahnya beres. Lu udah bisa bangun perumahan di situ."


"Oh, oke. Tengkiu, ya." Dia bangun dan bersandar di headbord ranjang. Melirik ke sebelah, istrinya sudah tidak ada di sana. Matanya menangkap jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Ternyata dia bangun kesiangan. Semalam suntuk dia bergadang, menyelesaikan semua laporan proyek yang sudah separuh berjalan. Ada banyak kejanggalan dan kontraktor yang dia temukan. Tapi tidak fatal, mereka hanya nakal sedikit. Masih bisa dimaafkan.


"Lu baru bangun, ya?" Terdengar suara tawa di seberang sana.


"Iya, nih. Ngantuk banget gue," jawabnya.

__ADS_1


"Tapi proyek beres, kan?"


"Ada kendala dikit. Tapi masih bisa ditolerir. Biasanya, mereka mulai main kucing-kucingan. Dikiranya gue ga tau mungkin."


"Lu emang keren, lah."


"Eh, gimana kabar ... Celine?" Lelaki itu bertanya. Sedikit banyak dia masih memantau mantan istrinya itu walau mereka sudah berpisah, secara diam-diam, melalui lelaki yang meneleponnya ini.


Dia tidak menyuruh Fauzan menjadi mata-mata, hanya dia tahu, partner-nya ini sedang mendekati mantan istrinya. Itu terlihat jelas dengan seringnya lelaki ini bertanya mengenai Celine kepadanya. Seperti mengorek informasi, hanya caranya halus.


"Sehat aja kayaknya. Lu tega banget sih, perempuan baik gitu dimainin."


"Zan, gue udah ga mau bahas itu lagi."


"Beneran kalian udah pisah?"


"Iya." Bisma memijit kepalanya. Membicarakan Celine itu seperti mengorek kembali kenangan indah bersamanya dulu walau cuma sesaat. Dan perasaan bersalah itu masih belum hilang, sekalipun dia berusaha untuk mencoba.

__ADS_1


Bagaimana mungkin menghindari wanita itu, sementara dia dengan mudahnya bisa mendatanginya kapan pun dia mau. Mereka masih tinggal di rumah itu, masih beraktifitas seperti biasanya.


"Lu suka sama dia?" tanya Bisma to the point. Kenapa ada rasa tak rela dalam hatinya?


"Eh, udah dulu, ya. Gue ada perlu. Mau keluar bentar. Yang penting semua udah clear. Matur suwun transferannya, Pak Bos."


Klik.


Sambungan telepon terputus. Fauzan sengaja menutupnya cepat. Dia tidak mau Bisma menjadi curiga. Dia mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Hari ini dia ada janji, mengantarkan seseorang untuk men-survey sebuah sekolah.


Seseorang itu adalah wanita yang mereka bicarakan tadi lewat telepon.


Celine.


Wanita itu ingin mendaftarkan beberapa anak asuhnya untuk masuk sekolah tahun ini. Ada beberapa pilihan sekolah dasar negeri, tentu saja dia akan memilih yang dekat.


Sejak pertemuan mereka di kantornya, mereka menjadi semakin dekat. Fauzan rajin menyambangi rumah itu. Membantu Celine mencari donatur, membantu mendaftarkan asuransi pemerintah bagi seluruh penghuni panti. Mengurus surat menyurat akte kelahiran bagi anak-anak itu, secara dia mempunyai banyak kenalan di bidang itu.

__ADS_1


Mobilnya berhenti di depan rumah tua itu. Tampilan luarnya masih lapuk, hanya di bagian dalam lebih baik. Sudah ada papan nama di depannya. Mereka menuliskannya rumah singgah.


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.


__ADS_2