PERTARUHAN

PERTARUHAN
DEMI CINTA


__ADS_3

Sebuah mobil Toyota Fortuner terparkir cantik di depan rumah itu. Suara mesinnya yang menggema, membuat anak-anak yang sedang asyik bermain, berlarian keluar. Ingin melihat siapa yang datang. Kaki kecil mereka nampak lincah melenggang. Suara tawa mengiringi langkah menuju teras depan.


Selama ini rumah mereka tidak pernah menerima kedatangan tamu dari manapun. Mereka juga tidak diijinkan keluar, pagar ditutup rapat. Tidak dikunci. Tapi, siapa saja yang berani keluar tanpa ijin dari kakak mereka, akan dikenai sangsi. Mereka akan dilepas ke jalanan. Sehingga tidak ada yang berani melanggar.


"Siapa itu yang datang?"


"Omnya ganteng."


"Mobilnya bagus."


"Pasti kaya."


"Eh, omnya bawa oleh-oleh. Asyik."


Entah apa lagi yang diucapkan anak-anak, mereka berbisik-bisik. Terlihat sangat antusias saat Bisma membuka pagar dan kakinya berjalan masuk menuju rumah itu.


"Celine ada?" Dia bertanya kepada salah satu anak yang cukup besar. Ada sekitar lima belas anak dan semua mengerubunginya, seperti semut yang bertemu gula. Apalagi ditangannya terdapat sebuah tas belanja besar yang berisi snack dan jajanan.

__ADS_1


"Di sini ga ada yang namanya Celine, Om," jawab salah seorang anak.


"Oh, ya?" Dia menjadi bingung. Apa dia salah alamat? Tapi benar, ini sesuai dengan data yang diberikan istrinya sesaat sebelum dia mengantarnya ke travel, setelah pulang dari berbulan madu.


Dia memintanya dengan sedikit paksa. Sedikit banyak ada rasa khawatir kepada wanita itu. Jika terjadi apa-apa, dia bisa segera mengetahuinya. Dia tetap akan bertanggung jawab, setidaknya selama menjalani pernikahan ini berlangsung.


"Adanya Bik Onah, Mak Susi sama Kak Elin." Bocah lugu itu berkata.


Elin? Bisma berpikir dalam hati. Oh, i see. Dia akhirnya paham.


"Kak Elin ada?"


"Om boleh nunggu di sini ga?"


"Om siapa?"


"Temannya Kak Elin."

__ADS_1


"Pacar?"


"Iya. Pacar." Dia tertawa dalam hati. Celina Andini itu istriku, Dek. Mungkin itulah yang ingin dia sampaikan.


"Om tunggu di sini. Jangan masuk." Seorang anak perempuan yang memakai tongkat keluar dan berkata dengan tegas ke padanya.


Mata Bisma menyipit. Keningnya berkerut. Dia teringat, inilah anak perempuan yang waktu itu kecelakaan, karena anak ini Celine datang kepadanya meminta bantuan dan menyetujui menikah kontrak dengannya. Ah, dia ingin mengucapkan terima kasih.


Bisma berjalan mendekat. "Putri?" Dia bertanya.


Anak itu mengangguk. "Iya, Om." Dia memandang Bisma dengan penuh selidik. Siapa om ini? Mengapa bisa tahu namanya.


Lelaki itu hanya tersenyum melihatnya. Anak ini pintar, terlihat dari sorot matanya yang begitu tajam. Matanya berkeliling menatap satu persatu anak-anak itu. Kasihan sekali mereka. Dia baru mengerti, ada kehidupan lain yang cukup keras untuk dijalani bagi sebagian orang. Bersyukurlah, karena dia tidak pernah mengalaminya.


"Siapa yang datang ini?" Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah. Wajahnya nampak kusut. Ada kain lap menempel di bahunya. Tangannya masih memegang sendok penggorengan. Sepertinya dia terburu-buru dari dapur saat mendengar suara keramaian.


"Saya Bisma. Mencari Elin, Buk." Katanya sopan.

__ADS_1


Mata Onah terbelalak saat lelaki itu menyebutkan namanya. Sendok ditangannya terlepas. Bibirnya bergetar dan menyebut nama Tuhan berkali-kali. Jadi, inilah lelaki itu, yang diceritakan Celine kepadanya. Lelaki ini yang telah menikahi anaknya. Lelaki ini menantunya.


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.


__ADS_2