PERTARUHAN

PERTARUHAN
NEGOSIASI


__ADS_3

Celine menatap sekeliling ruangan ini. Rasanya terakhir kali dia bertamu kesini suasananya berbeda. Sekarang terlihat lebih wah. Walpapernya baru. Ada sofa tergeletak menempel di dinding yang juga masih baru.


Ada bunga-bunga di sudut ruangan dan satu hal yang paling mencolok. Foto Bisma bersama keluarganya. Bersama istri dan putranya, di bingkai indah dengan ukuran ekstra tepat berada di belakang meja kerjanya.


Jika lelaki itu duduk, foto itu terlihat melatar belakangi meja kerja. Kontras sekali dengan pemandangan indah di seberangnya. Kaca transparan yang memperlihatkan sibuknya ibu kota jika dilihat ke bawah.


Wanita di foto itu terlihat anggun dan berkelas. Kelihatan sekali aura ningratnya. Sekalipun memakai gaun dengan model sederhana, tetap saja cantik. Gaun itu modelnya saja sih yang sederhana, soal harganya belum tentu. Pastilah mahal. Sesuai dengan isi dompet yang memakainya.


"Ehem." Suara batuk Bisma menyadarkan Celine. Dia melamun sedari tadi.


"Eh, hai." Sapanya kaku. Sekalipun dia gadis biasa saja, lelaki di hadapannya ini adalah seseorang di masa lalunya.


"Ayo duduk." Dia mempersilakan. Celine bersandar lega di sofa. Nyaman. Lebih empuk daripada kasur di rumah panti mereka.


"Sudah makan?"


"Sudah. Terima kasih, Kak," tolaknya halus. Dia memang sudah makan tadi sebelum berangkat kesini.


"Mau teh? Atau snack?"


"Boleh." Celine mengangguk. Kalau ini dia pasti mau, enak sih. Kapan lagi?


"Gimana kabar di panti?" Bisma sekedar berbasa-basi. Padahal sejak tadi dia sebenarnya ingin menerkam gadis ini di sofa.


Singkirkan pikiran kotormu, Bung!


"Lancar. Kami masih beraktifitas seperti biasanya," jawabnya tenang. Hatinya dag dig dug jika berhadapan dengan lelaki ini. Bisanya juga dia paling lihai menghadapi lawan jenis jika bertemu.


Lelaki yang ini berbeda, Celine. Dia lebih dominan darimu. Kamu tidak bisa menguasainya. Jangan coba menaklukan, nanti kamu yang terbawa arusnya.


"Syukurlah. Setidaknya kami masih memberikan waktu bagi kalian untuk mencari tempat pengganti." Bisma mencoba bersikap ramah. Saat ini posisinya harus segera mengusir mereka secepatnya sesuai rencana. Hanya saja caranya halus. Tidak boleh gegabah jika ingin menangkap kelinci. Apalagi kelincinya imut, cantik, menggemaskan pula.


"Ayo dimakan." Dengan senyum manis dan tatapan lembut Bisma menyodorkan sepiring snack. Isinya berbagai macam jajanan pasar. Tapi ini keluaran bakery ternama. Bukan yang di pasar induk seperti yang biasanya Celine beli.


"Mau tambah minumannya?" Bisma menawarkan kembali.


Celine menggeleng. "Makasih. Aku ga bisa lama. Sudah terlalu sering ijin."


Bisma memandang wajah cantik dihadapannya. Masih sama seperti dulu tidak banyak berubah. Hanya sekarang terlihat lebih dewasa. Cara bicara Celine pun lebih tertata, tidak polos seperti dulu yang dia kenal.


"Kamu sudah punya pacar?"


Celine mendongak. Kemudian menggeleng. Apa maksud lelaki ini menanyakan hal itu. Apa ada hubungannya dengan panti?


"Aku tidak punya waktu menjalani kisah romantis, Kak. Aku sibuk bekerja dan mengurus anak-anak," jawabnya jujur.


Memang itulah kenyataan yang tidak bisa dia pungkiri. Seberapa kuatnya dia ingin memiliki pasangan, selalu dikalahkan oleh kepentingan anak-anak yang menjadi prioritas utama.


Selama ini lelaki yang mendekatinya keberatan jika harus di libatkan dengan urusan panti. Mereka hanya ingin memiliki Celine sendiri saja. Untuk diri mereka sendiri. Tidak mau dibarengkan dengan anak-anak sekaligus.


Untuk itulah Celine memilih menetap dengan kesendiriannya. Selama dia sehat, dia akan berusaha. Sekalipun tidak diberikan jodoh, dia akan menghidupi anak-anak semampunya sampai ajal memanggil.

__ADS_1


"Begini. Aku punya penawaran untukmu. Itu juga kalau kamu mau. Tapi, aku ga bisa maksain."


"Maksud kakak?" Gadis itu tidak mengerti.


"Aku akan kasih sebuah tawaran yang menguntungkan buatmu dan anak-anak asuhmu." Tentu saja menguntungkan aku juga. Licik yang ada dipikirannya saat ini.


"Apa kalau boleh tau?"


"Begini ..." Bisma menggeser duduknya mendekati Celine.


"Ya, Kak?"


"Kamu kan tau dari aku suka sama kamu. Mungkin ada sedikit kesalah pahaman diantar kita dulu. Aku minta maaf."


Celine mengangguk.


"Aku ingin memperbaiki semuanya. Kamu masih marah sama aku karena beasiswa dicabut?"


"Aku sudah melupakannya, Kak. Itu udah lama, kan?" Jawab Celine jujur.


"Begini. Aku bersedia menjadi donatur di panti yang kamu kelola. Aku juga akan mencarikan tempat tinggal yang layak untuk anak-anak." Dia mengatakan dengan sungguh-sungguh. Matanya menatap tajam berusaha untuk meyakinkan.


Benarkah? Atau ....


"Kakak serius? Aku memang sedang butuh donatur. Beberapa bulan ini sepi."


"Iya, tapi aku juga ingin ada sesuatu yang diberikan untukku. Yah, semacam timbal balik dan saling menguntungkan kita bersama." Bisma tersenyum.


Deg!


Tiba-tiba perasaan Celine menjadi tidak enak. What will happen?


"Maksud kakak?"


Come to papa, honey. Come to me.


"Begini. Kamu sekarang juga tidak sedang berhubungan dengan siapa pun. Artinya kamu free. Kalau aku bersedia menjadi donatur tetap untuk panti, apakah kamu mau menjadi milikku?" Bisma mengucapkannya tanpa ragu-ragu.


Hening. Celine terdiam tak percaya. Sekarang apalagi ini?


"Milik kakak? Aku ga ngerti."


"Ya, jadi milik aku. Kita nikah."


Oh, tidak!


"Kakak sudah punya istri. Aku ga mungkin ..."


"Sssttt ... pikirkan baik-baik. Aku kasih kamu waktu."


"Apa yang kamu harapkan dariku, Kak?"

__ADS_1


"Aku mau kamu jadi istri keduaku." Damn! Bisma mengatakannya dengan gamblang.


"Maksud kakak aku jadi simpanan kakak gitu?" Suarany mulai meninggi.


"Hei, tenang dulu. Aku belum selesai bicara."


"Katakan jangan berbelit-belit!" bentaknya. Kesabarannya mulai habis.


Dia sudah menduga. Pria ini masih tidak berubah, licik.


"Istriku lagi ada di Jerman setahun ini. Dia sedang menyelesaikan penelitian S-2 nya. Putra kami juga dibawanya. Aku di sini sendirian."


Celine menarik nafas. Gila!


"Lalu?"


"Aku laki-laki normal. Berjauhan dengan istri rasanya ga enak. Ga ada tempat berbagi."


Celine menelan ludah. Sudah mengerti arah dan maksud perkataan lelaki ini.


"Aku akan buat perjanjian. Kamu sama aku cuma setahun ini sampai dia pulang. Setelah itu bebas."


Brengsek!


"Kamu ngertikan maksudku? Aku butuh penghangat ranjang," bisiknya mesra.


Penghangat ranjang? Kurang ajar!


Celine berdiri dengan penuh amarah.


"Kau dendam padaku Bisma?"


Celine menunjuk dada pria itu dengan lantang dan berani. Sudah tidak menyebut kata "kakak" lagi untuk menghormati lelaki itu.


"Aku ga dendam sama kamu Celine." Bisma membalas tatapan wanita itu dengan dingin.


"Kalau begitu apa maumu?"


"Kamu taukan apa mauku dari dulu?" Sebelah alisnya terangkat. Menantang. Aku menginginkanmu.


"Aku ga mengerti jalan pikiranmu. Kotor!"


"Hei. Ini bisnis. Win-win solution. Kita sama-sama di untungkan. Why not?"


"Brengsek!" Dia memaki.


"Sudahlah. Terima saja tawaranku. Kamu dapat panti asuhan itu. Aku dapat ..."


Celine melangkah keluar.


"Pikirkan baik-baik, Celine. Aku kasih kamu waktu satu minggu. Kalau kamu ga mau, maka kosongkan rumah itu!" Bisma berteriak.

__ADS_1


Blam. Pintu tertutup dengan kasar.


__ADS_2