PERTARUHAN

PERTARUHAN
DONATUR


__ADS_3

"Lin. Pak Broto datang lagi tuh. Nyariin kamu." Siska mendatangi Celine di belakang. Dia meninggalkan kerjaannya di depan sebentar dan meminta karyawan yang lain untuk menggantikannya sebentar.


Celine sedang menyusun beberapa barang di gudang. Setahun ini, dia meminta kepada HRD untuk dipindahkan ke posisi ini. Supaya tidak bertemu banyak orang. Dia memang cantik, jadi banyak pembeli yang suka menganggu.


Penampilannya sederhana, tapi paras ayunya tidak bisa menipu. Sekali pun hanya memakai seragam karyawan, banyak lelaki yang menyukainya. Karena itulah, mini market ini menjadi ramai sejak dia bergabung.


Lagi pula menjadi kasir resikonya tinggi, melihat uang matanya langsung hijau. Apalagi tanggungannya banyak. Kalau dibagian gudang, dia bisa sambil mengecek barang-barang promo. Lumayan bisa mengirit pengeluaran.


"Bilang aja aku lagi sibuk. Barang baru datang. Mau di labeli harga dulu," tolaknya halus.


"Jangan gitu, Lin. Dia nungguin dari tadi. Kasian, kan?" Siska mengedip-ngedipkan mata. Celine sudah tahu. Kalau begini, pasti Siska dikasih tip oleh Pak Broto untuk memanggilnya ke belakang.


Siska menarik tangannya. Dia celingak-celinguk melihat situasi sebentar. Untunglah Pak Andre sedang keluar makan siang. Jadi dia bisa bolos sebentar. Aman.


"Elin ..." Suara seorang lelaki paruh baya menyapanya ramah. Tangan lelaki hendak memeluknya. Dia bergerak menjauh. Takut.


"Eh, Bapak. Ada apa ? Elin lagi kerja." Dia menolak secara halus. Tidak enak kalau bersikap kasar kepada orang tua. Bagaimana pun juga Aku harus tetap menghormatinya.


"Jangan panggil bapak, dong. Mas aja biar mesra," katanya genit. Tua-tua keladi. Makin tua makin jadi. Jadi gatelnya. Huh!


Uhuk!


Celine dan Siska hampir saja tersedak. Mereka saling berpandangan dan tersenyum-senyum menahan tawa. Mas? Ingat umur, Pak. Cucu sudah berapa, ya?


"Eh." Dia menggaruk kepala yang tidak gatal. Lidahnya berasa keseleo kalau harus memanggil Pak Broto dengan sebutan mas. Apalagi Siska sedari tadi tersenyum-senyum menggodanya. Dasar ....

__ADS_1


"Ini, mas bawakan jajanan buat anak-anak. Kebetulan lewat sini. Jadi, mampir sekalian beli pulsa." Pak Broto mengeluarkan kresek gede dan menyerahkannya kepada gadis itu.


"Makasih, Pak. Eh, Mas." Dia mengambilnya. Berat. Banyak juga isinya. Anak-anak pasti suka. Dia mengintip sedikit. Ada snack dan cokelat serta entah kue apalagi, yang pasti banyak macamnya.


Siska tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Memang lucu sekali apalagi percakapan ini terlihat banyak orang. Celine jadi serba salah dibuatnya.


"Elin, nanti malam minggu ada acara ga? Jalan sama mas, yuk. Ada film baru di bioskop. Film romantis," bisiknya. Sengaja merapatkan tubuhnya sambil berbisik-bisik manja. Ih.


Tawa Siska semakin kencang. "Awas kamu ya!" Batin Celine. Gemas juga rasanya dia melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Anu, Pak. Kayaknya Elin dapat shift malam." Dia mengelak. Kapok, pergi dengan Pak Broto bukannya bisa nonton. Sepanjang film diputar, dia meremas-remas tangan Celine.Ganjen-nya kumat. Sedikit-sedikit mau meluk. Celine takut, sekaligus ... jijik.


"Oh, ya sudah. Lain kali saja kalau begitu." Broto nampak kecewa, tapi biarkan sajalah. Tidak boleh dibiasakan, nanti malah ngelunjak.


"Elin udah makan siang? Ini mas bawain geprek. Jangan telat makan, nanti sakit." Dia menyerahkan dua kotak ayam geprek. Celine menerimanya. Alhamdulillah, dapat makan siang gratis.


"Ehem ..." Tiba-tiba terdengar suara seseorang di belakang. Mereka tersentak. Siska kembali fokus pada pekerjaannya. Pura-pura menghitung uang.


Celine sendiri pasrah saja pada nasib. Mau bagaimana lagi?


"Elin! Bukannya kamu masih harus kerja. Kenapa malah ngobrol?" Suara Andre menggelegar. Membuat kaget semua orang.


"Eh maaf, Mas. Elin masuk dulu." Dia berpamitan kepada Broto. Gawat kalau sampai Pak Andre sudah marah. Bisa merembet ke mana-mana. Kenapa tiba-tiba dia datang?


"Yaudah kalau begitu. Mas pulang dulu ya. Nanti mas mampir lagi." Broto melambaikan tangan sebelum keluar toko itu. Gadis itu membalas lambaiannya, sebagai ucapan terima kasih atas pemberiannya. Keburu Pak Andre datang, jadi dia lupa.

__ADS_1


Mata Andre melotot. Tentu saja dia tidak berani memarahi Pak Broto. Dia pelanggan, kalau kabur bisa berkurang omset toko. Celine lagi yang kena.


"Kalau waktunya kerja, jangan pacaran!" sungutnya. Galak juga bapak yang satu ini, walau pun baik sebenarnya. Dia hanya menerapkan disiplin kepada anak-anaknya. Kalau tidak begitu, semua karyawan bisa bersikap bebas semaunya. Toko ini dilengkapi CCTV. Mereka di awasi. Kalau ada karyawan yang nakal, dia yang dapat sangsi. Resiko menjadi atasan begitulah.


"Siapa juga yang pacaran?" jawabnya sebal, kemudian berjalan ke belakang. Kalau Andre sudah marah, sudah pasti mereka akan pulang telat. Setelah selesai jam kerja, dapat wejangan untuk pencerahan.


"Siska. Jangan tertawa. Nanti kamu salah hitung uang." Siska mengangguk saat dibentak Andre. Kena juga. Nasib.


* * *


Pak Broto. Duda dua anak usia lima puluh tahunan. Lumayan kaya, punya kontrakan sepuluh pintu di gang sebelah. Anak-anaknya sudah menikah. Bahkan dia sudah punya cucu. Dia ditinggal istrinya yang sudah wafat karena sakit.


Sudah setahun ini menyukai Celine, begitulah informasi yang diterima dari Siska. Itu juga yang membuat gadis itu meminta pindah ke bagian gudang. Dulu waktu masih menjadi kasir, Broto setiap hari belanja ke toko hanya untuk melihatnya.


Celine merasa risih sebenarnya, tapi dia masih menghormati Broto karena lebih tua. Lagi pula sejak dia tau gadis itu mengurus dan mengelola panti, dia menjadi donatur tetap di sana. Satu juta rupiah mengalir tiap bulan ke rekening. Jumlah yang cukup banyak untuk biaya hidup anak-anak sebulannya.


Sebenarnya ada beberapa donatur untuk panti, tapi tidak sebanyak dia. Hanya beberapa ratus ribu. Itu juga tidak tetap setiap bulannya. Kadang ada transferan, kadang tidak.


Setahun ini berat bagi Celine. Sebelum Pak Broto, ada pengusaha yang menjadi donatur tetap. Dia mentransfer tiga juta setiap bulan. Namun, beliau sudah meninggal.


Bapak Rahardian namanya. Gadis itu sudah pergi menghadap pihak bank untuk meminta informasi, tapi pihak Bank menolak dengan alasan privasi nasabah. Sampai saat ini, diA masih tidak tahu siapa orangnya. Setelah Bapak Rahardian meninggal, transferannya juga ikut menghilang.


Sejak itulah, dia mulai pontang panting mencari tambahan. Berjuang sendiri, swperti mulai dari nol saat pertama kali membuka panti. Bertemulah dengan Bapak Broto ini. Dia murah hati. Suka membawakan kue buat anak-anak, tapi sebenarnya Celine tau maksudnya apa. Dia ingin menjadikan gadis iti istrinya.


Dengan sopan Celine menolak. Dia belum ingin menikah, masih ingin mengurus anak-anak. Jikalau pun memang mau, sudah sejak dulu dia menerima lamaran Jali, anak sulung Abah Ummi.

__ADS_1


Sepertinya Broto masih belum menyerah. Dia masih kekeuh mengejarnya. Mungkin saja semakin penasaran karena ditolak terus menerus. Laki-laki biasanya memang menyukai hal itu. Menyukai tantangan.


Mengapa sejak dulu mereka semua selalu sama? Mendekatinya karena ada maunya saja.


__ADS_2