
Celine berjalan tegak memasuki gedung perkantoran itu. Bangunan mewah, megah yang tegak menjulang di tengah congkaknya ibu kota.
Dia agak ragu sebenarnya melangkahkan kakinya ke tempat ini. Namun, tekad di dadanya sudah bulat. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya. Sudah hampir dua bulan ini tidak ada kabar dari Bisma, suaminya.
Beberapa kali di menghubungi lewat telepon tapi kurang di respons. Pesannya hanya di balas sesekali, itu juga singkat. Satu hal yang masih rutin dia dapatkan adalah transferan untuk anak-anak.
Bisma seperti menghilang begitu saja, sejak telepon terakhir setelah kedatangan istrinya.
Celine tidak bisa diperlakukan seperti ini. Dia tidak mau digantung, ingin kejelasan mengenai hubungan mereka. Apakah dia masih dianggap sebagai istri atau tidak. Jika lelaki itu sudah tidak menginginkannya, baiknya dia diceraikan.
Hatinya sakit. Merasa diri seperti barang, diambil dan dibuang dengan seenaknya. Dia tak dihargai sedikit pun.
Matanya berkeliling melihat suasana di sekitar kantor ini. Tampak semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, hilir mudik tak berhenti. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali dia datang. Hanya petugas resepsionis-nya yang berbeda orang, bukan si wanita yang hendak mengusirnya dulu.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita itu ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Kak Bisma. Bisa?" ucapnya.
"Oh Mr. Bisma. Apa sudah ada janji?" Matanya penuh selidik, bertanya dalam hati siapa gerangan wanita dihadapannya ini, cantik dan terlihat berkelas.
__ADS_1
Penampilan Celine kali ini memang berbeda. Dia memakai dress casual selutut keluaran seorang perancang terkenal. Dia juga memakai perhiasan, tas dan sepatu dari sebuah brand ternama.
Dia tidak mau dipandang sebelah mata saat berkunjung ke kantor suaminya. Apalagi jika dia mengalami pengusiran untuk yang kedua kalinya.
"Belum." Dia itu menggelengkan kepalanya dengan lemas."Katakan saja padanya Celine mau ketemu."
Dia merasa gelisah, tangannya berkeringat dingin sedari tadi. Dia harus bertemu Bisma hari ini. Harus!
"Sebentar, ya. Saya sambungkan dulu." Wanita itu men-dial sebuah nomor. Entah berbicara apa, Celine tidak memperhatikan.
"Gimana?"
"Silakan ibu naik ke lantai tujuh. Lewat lift sebelah sana. Nanti ada yang menuntun ibu menuju ke ruangan Mr. Bisma."
"Oh, iya. Ibu bisa meminta bantuan security jika tidak bisa menggunakan lift."
Celine membuang muka. Sudah berpenampilan seperti ini, ternyata masih ada orang yang menganggap dirinya rendahan. Dia memang wanita biasa, bukan kalangan sosialita. Mungkin pembawaan dirinya tidak cocok berpenampilan mewah.
Pintu lift terbuka. Tampaklah lorong panjang dengan banyak ruangan. Tapi, suasana terlihat berbeda, yang ini lebih eksklusif.
__ADS_1
Celine mendatangi sebuah meja, sama seperti di depan tadi, lantai ini juga ada resepsionis-nya.
"Ya, Ibu?"
"Saya mau ketemu Mr. Bisma." Dia mengucapkan panggilan formil.
"Ibu Celine?"
"Iya."
"Boleh menunggu sebentar. Sedang ada tamu. Mungkin setengah jam lagi. Ibu boleh duduk di sana." Dia menunjuk sebuah sofa di sudut.
"Tadi katanya boleh langsung bertemu."
"Benar, Ibu. Mr. Bisma bersedia bertemu, hanya menunggu sebentar."
"Mbak, tolong. Saya perlu bertemu sekarang. Yang mana ruangannya?"
"Maaf, Ibu. Tapi ..."
__ADS_1
"Katakan yang mana!" Dia membentak wanita itu. Untunglah tidak ada security di situ. Wanita itu masih menolak memberi tahu.
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.