
"Selamat sore. Benar ini dengan Ibu Celina Andini?" Suara seorang lelaki menyapa saat Celine mengangkat teleponnya.
"Benar. Ini dengan siapa, ya?"
"Saya Fauzan. Notaris-nya Bapak Bisma," jawabnya.
"Oh. Ada apa ya? Saya sudah tidak berhubungan dengan Bapak Bisma lagi." Dia menjawab.
Bibirnya gemetaran setiap kali nama lelaki itu disebut oleh siapa saja. Bahkan, di rumah panti mereka, nama itu keramat, Onah dan yang lain tidak boleh menyebutnya. Di tempat kerja juga begitu, Siska memilih untuk diam dan tak mau bertanya apa pun lagi mengenai hubungan mereka.
"Saya mengundang Ibu untuk datang ke kantor kami. Ini mengenai jual beli rumah yang akan diproses atas nama Ibu."
"Maksudnya?"
"Bapak Bisma, memberikan rumah yang sudah ibu tempati sebagai hak milik." Begitulah penjelasannya.
"Tapi, saya ..."
"Saya harap ibu bersedia datang ke kantor kami pukul sepuluh besok pagi. Alamat akan kami berikan setelah ini."
__ADS_1
Dia menghela napas panjang. Dadanya sesak, mengharu biru. Entah apa yang dia rasakan, semua bercampur aduk menjadi satu. Bisma, sekalipun telah menceraikannya, lelaki itu menepati janji untuk menyerahkan rumah itu sebagai miliknya.
Dua bulan sejak kejadian itu berlalu, dia kembali fokus mengurus panti dan bekerja. Dia pasrah menerima takdir yang telah digariskan. Belum genap setahun pernikahan mereka sesuai perjanjian, semua berakhir.
Pernikahan mereka tidak legal dan tidak tercatat di manapun. Ketika talak itu jatuh, dengan sendirinya resmilah mereka bercerai. Satu hal yang mungkin dia harus syukuri, bahwa kehidupan masih berjalan tanpa adanya lelaki itu.
Satu hal yang juga disesalkan adalah tidak ada anak dalam pernikahan mereka yang singkat, karena memang telah masuk dalam perjanjian. Sekalipun dia menginginkannya, mungkin itulah yang terbaik. Jika ada anak di antara mereka, pasti semuanya akan semakin kacau.
Bagai dua sisi mata uang yang berlainan. Ada sisi baik, ada sisi buruk dalam kehidupan. Celine, berusaha bertahan sekuat tenaga di tengah kehancuran, semua demi anak-anaknya.
Ternyata cintanya kepada anak-anak dan panti lebih besar dari apa pun di dunia ini. Bahkan cintanya kepada Bisma, perlahan memudar seiring dengan berjalannya waktu. Dia mulai terbiasa menerima, bahwa sudah tidak ada lelaki itu di kehidupannya sekarang.
"Baik, saya akan datang. Tolong kirimkan alamat kantor anda. Saya akan mengikuti semua prosesnya."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
"Siapa, Neng?"
__ADS_1
"Notaris, Bik."
"Apa katanya?"
"Serah terima rumah ini, jadi milik kita."
"Ya Allah, Neng." Onah bersimpuh, bersujud di lantai. Bertahun-tahun mereka hidup dalam kesusahan. Berpindah rumah karena di usir orang lain. Kini mereka punya tempat tinggal tetap yang layak huni.
Mereka menangis berpelukan. Mungkin inilah jalannya, perjuangan mereka untuk bertahan hidup. Sekiranya waktu itu Celine tidak menerima tawaran Bisma, entah bagaimana nasib mereka.
"Besok Lin datang, Bik. Itu tadi dia bilang tinggal tanda tangan aja. Langsung serahkan sertifikat." Tangisnya mengalir deras, sampai sesak dada tak mampu berkata.
Kadang kita harus mengorbankan diri, perasaan dan cinta demi untuk cinta yang lain. Menekan semua keinginan untuk bahagia versi kita, demi kebahagiaan orang lain.
***
Celine memasuki kantor itu dengan tenang. Diantar oleh seorang security, dia langsung menuju ruangan yang telah disebutkan oleh resepsionis di depan. Dalam hatinya berpikir, apa semua orang kaya di dunia ini memiliki kantor yang sangat bagus, bahkan melebihi rumah tinggal mereka?
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.
__ADS_1