
Sebuah mobil Avanza terparkir cantik di depan rumah itu. Suara mesinnya yang menggema, membuat anak-anak yang sedang asyik bermain, berlarian keluar, ingin melihat siapa yang datang. Kaki kecil mereka nampak lincah melenggang. Suara tawa mengiringi langkah menuju teras depan.
"Kakaaakk ..." Mereka berteriak saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
Lalu mulai berbisik-bisik saat melihat seseorang lain ikut berjalan bersisian dengan kakak mereka.
"Siapa itu yang datang sama kak Elin?"
"Ih, omnya ganteng."
"Mobilnya bagus, ya."
"Pasti kaya."
"Eh, omnya bawa oleh-oleh. Asyik."
Entah apa lagi yang diucapkan anak-anak. Mereka terlihat sangat antusias saat Celine dan Fauzan membuka pagar, masuk menuju rumah itu.
"Ayo masuk. Kakak bawa kue nih. Cuci tangan dulu, ya." Senyum manis tercipta di bibirnya. Anak-anak itu kembali berlarian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Fauzan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, menjadi takjub melihat keakraban mereka. Betapa Celine sangat terampil mengurus mereka satu-persatu.
"Siapa, Neng?" tanya Onah. Melihat penampilan Fauzan yang rapi membuatnya sedikit penasaran.
"Notaris yang nelpon kemarin, Bik," jawabnya.
"Oh, ganteng juga." Onah meliriknya.
"Bibik ini."
"Hati-hati, Neng. Mana tau udah punya istri kayak yang dulu," bisik Onah.
"Bibik cuma ga mau eneng sakit hati lagi," jawab Onah.
"Lin tau. Makasih udah diingetin."
Ehem.
Terdengar suara batuk dari belakang. Serentak mereka menoleh, lupa bahwa sedari tadi mereka mengacuhkan Fauzan.
__ADS_1
"Eh, sorry. Duduk aja di situ." Celine menunjuk sebuah kursi panjang di sudut. Sekarang rumah panti mereka sudah memiliki kursi untuk menerima tamu.
"Oke." Lelaki itu meletakkan tubuhnya dan bersandar dengan santai. Dalam hatinya berkata, ternyata inilah tempat di mana wanita itu dan anak asuhnya tinggal.
Dia sedikit banyak tahu mengenai kehidupan wanita ini dari rekan kerjanya, Bisma. Sudah setahun ini mereka bekerja sama, sejak proyek pembangunan dimulai. Dia diminta untuk mengurus semua proses jual beli dan ganti rugi kepada pemilik rumah atau lahan yang akan diambil alih.
Kantor notaris miliknya belumlah besar seperti yang lain. Dai baru merintisnya dua tahun terakhir. Di banding dengan perusahaan milik Bisma, boleh dibilang masih jauh sekali. Dia baru merangkak, sedangkan lelaki itu sudah berlari.
Pantas saja jika Bisma bisa menyekolahkan istrinya ke luar negeri, dan menikah lagi. Dia bahkan membelikan istri mudanya sebuah rumah dengan cara tunai, dan menjadi donatur tetap di panti.
Fauzan sendiri belum mampu jika mengikuti gaya hidup lelaki itu. Dia harus menabung bertahun-tahun untuk membeli sebuah rumah. Mobil pun masih menggunakan keluaran lama sebuah dealer.
"Minum, Pak."
Susi yang sedari tadi diam-diam mengintip dari balik dapur, keluar malu-malu membawa segelas teh hangat. Meletakkannya di meja dan kembali masuk ke dalam. Selalu begitu setiap ada tamu yang datang berkunjung.
Setelah kejadian itu, Celine lebih gencar mencari donatur. Sumbangan dari Bisma sudah tidak ada lagi, semua di stop total. Dia kembali seperti dulu, berjuang mencari orang orang baik hati yang mau membagi sedikit rezeki untuk mereka.
Beberapa donatur mulai berdatangan, kebanyakan sih lelaki. Ada juga wanita dari komunitas amal dan masjid. Sekali pun tidak sebanyak dulu, jika dikumpulkan hasilnya lumayan.
__ADS_1
Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.