PERTARUHAN

PERTARUHAN
PERNIKAHAN


__ADS_3

Celine menceritakan semua kejadian di rumah Broto kepada Siska. Berdua mereka duduk di kantin bakso dan soto langganan tempat mereka makan siang. Kali ini Siska yang membayarkan. Biasanya setiap hari Broto mengantarkan makanan. Namun, sejak kejadian itu, dia tidak pernah muncul. Tidak ada ada makanan gratis lagi. Celine sendiri tidak membawa bekal. Alhasil, terdamparlah mereka di sini.


"Lin, Lin. Ngapain kamu ke situ sendirian. Kan bisa ngajakin aku." Siska tak habis pikir mengapa sahabatnya itu nekat berbuat itu, tanpa berdiskusi dulu dengannya.


"Aku udah ga tau lagi mau gimana. Aku bingung. Sementara tagihan terus berjalan. Ga mungkin kan, aku bawa putri kabur dari rumah sakit."


Siska menggelengkan kepalanya. "Eh, si Broto mesum juga. Kupikir dia mau ngambil kamu baik-baik. Ternyata ..., ah dasar laki-laki semua begitu." Dia mengomel panjang lebar. Tak menyangka si bandot tua yang satu itu nekat juga. Tak bisa terbayangkan jika sesuatu terjadi pada Celine karena akibat perbuatannya.


"Untung anaknya datang. Aku udah jijik banget pas dia mau nyium." Celine tiba-tiba saja menjadi mual saat membayangkannya.


"Udah, Lin. Kita cari jalan lain. Sabar ya." Dia mencoba menenangkan. Sendirinya pun tak bisa membantu banyak. Uang segitu banyak kemanalah mereka mau mencari. Keluarganya juga bukan kaya raya. Dia sendiri bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu adiknya bersekolah.

__ADS_1


Saat ini mereka berdua dilanda kebingungan. Mau nekat tapi tidak punya keberanian. Mau meminjam uang, tapi dengan siapa? Tidak punya kenalan sama sekali.


"Kebetulan pas waktu itu Susi datang, jadi aku bisa ninggalin Putri sebentar terus ke situ," lirihnya.


"Dia udah ngapain kamu?" Siska menjadi geram. Membayangkan wajah Broto saja dia sudah muak. Apalagi perlakuannya kepada Celine, jika memang benar seperti itu yang diceritakan. Tapi, Celine tidak mungkin berbohong kan kan?


"Ga ada. Pas dia mau nyium, anaknya datang. Aku langsung kabur."


"Yaudah lain kali kita pergi bareng. Tunggu aku pulang kerja." Gadis itu menggenggam tangan sahabatnya. Menguatkan


"Kamu udah ajukan pinjaman koperasi?"

__ADS_1


"Udah, tapi dapatnya juga cuma dikit. Masih lama lagi prosesnya. Sedangkan dalam waktu tiga hari ini, Putri udah bisa dibawa pulang. Kalau mengulur waktu, malah nambah biaya perawatan."


Siska termenung. Memikirkan jalan keluarnya. Tiba-tiba terlintas sesuatu ide dibenaknya.


"Lin!" Dia menepuk bahu Celine. "Apa kita minjam duit sama bulek Darmi?" Dia menyebutkan nama seorang rentenir yang cukup terkenal di kampung ini.


"Jangan. Bunganya tinggi. Lagian aku juga ga punya jaminan. Kalau pinjam banyak dia ga bakalan mau lepas begitu aja."


Siska kembali merenung merenung. Memikirkan apa-apa yang bisa menjadi solusi. Jika mengorbankan motornya itu tidak mungkin. Gimana dia akan pergi bekerja. Lagi pula pasti akan di tanya oleh orang tuanya.


"Apa aku jual perawan aku aja, ya?" Entah apa yang merasuki Celine hingga berkata seperti itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Kamu gila apa?! Aku yang bukan muslim aja ga kepikiran begitu. Kamu bisa-bisanya!" bentak Siska. Tak habis pikir dia, kenapa sahabatnya ini sampai berpikir hal itu.


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.


__ADS_2