PERTARUHAN

PERTARUHAN
SIAPA BISMA?


__ADS_3

Dua orang itu duduk berhadapan. Segelas minuman dan beberapa cemilan menjadi teman mereka saat berbicara. Si lelaki menatap si gadis dengan mata berbinar, sedangkan yang ditatap malah merasa sedikit ketakutan. Seperti terjebak ke dalam kandang singa.


"Maaf kak. Aku belum bisa," tolaknya halus.


Dia tidak bisa menolak pria ini dengan kasar. Selain berkuasa karena ayahnya pemilik yayasan di universitas ini, Bisma adalah senior. Sedangkan dia mahasiswa baru di tahun pertama.


"Kenapa?" Lelaki itu menatap Celine dengan wajah kecewa. Belum pernah seumur hidupnya dia di tolak wanita. You know lah, the most wanted man di kampus ini ditolak cewek? Bercanda, ya!


"Aku belum ingin berpacaran dulu, Kak. Mau fokus kuliah saja dulu. Kalau berpacaran takutnya nanti terganggu." Celine menatapnya ragu-ragu. Takut lelaki ini nekat memaksanya. Secara hampir seluruh makhluk bernama wanita penghuni kampus ini menginginkannya. Sementara Celine sendiri tidak.


"Apa kalau pacaran sama aku bisa ganggu konsentrasi kamu belajar?" Bisma belum ingin menyerah. Masih terus berusaha. Jangan sampai tidak dapat. Bisa kalah dia. Mau ditaruh di mana mukanya nanti?


"Bukan gitu, Kak. Aku belum bisa bagi waktu antara kuliah sama hubungan dengan seseorang." Dia beralasan. Padahal dalam hatinya tahu, dia hanya dijadikan taruhan bagi lelaki ini dan teman-temannya. Klise, tapi itulah yang terjadi.


"Aku bahkan bisa beli nilai kamu. Ga usah capek belajar, lah." tawarnya. Susah juga menaklukan gadis ini. Pintar sekali dia berkata-kata.


"Kak. Aku ini ga seberuntung kakak. Aku masuk universitas ini juga karena beasiswa." Dia menjelaskan. Tangannya memutar sedotan, mengaduk es batu di gelas. Sesekali minum. Sedikit-sedikit. Cemilan yang tersaji tak disentuhnya sama sekali. Tak berselera. Jantungnya berdetak tak karuan sejak pertemuan tadi.


Celine, berkencan dengan Bisma? Apa kata dunia?


"Hem. So? Kamu nolak saya?" Suara bass-nya menggelegar. Naluri kelelakian-nya muncul. Ada rasa tidak terima mendengar ucapan gadis itu.


"Aku mohon pengertiannya, Kak. Aku belum bisa kalau sekarang." Nada suaranya sangat menyakinkan. Matanya penuh permohonan. Harus begini, supaya lelaki itu percaya.


"Jadi kapan, kamu bisa nerima aku?" Bisma masih belum mau menyerah.


"Aku ga tau. Aku mohon kakak ngerti, ya," ucapnya tulus. Senyum paling manis diberikannya agar Bisma tidak tersinggung. Bahaya kalau sampai itu terjadi. Bisa berakibat fatal pada kelangsungan hidupnya di kampus ini.


"Oke. Aku harap kamu ga bakalan nyesel. Banyak loh cewek-cewek di sini yang mau jadi pacar aku." Bisma menjual dirinya. Sedikit banyak dia tersinggung juga dia. Kurang apalagi? Tampang keren, kaya raya. Celine menolaknya? Impossible!


"Makasih atas pengertiannya ya, Kak." Refleks tangan gadis itu menggenggamnya.


Bisma terhentak, kemudian balas menggenggam. Senyum evil menghiasi wajahnya. Tangannya bahkan tak mau melepasnya. Masih dipegang erat. Hal yang membuat wajah gadis itu merona merah.


Siapa yang tidak suka sih, diperlakukan begini oleh seorang lelaki. Apalagi sosok dihadapannya bagai malaikat sempurna. Tapi kalau diingat alasan lelaki itu menyatakan cinta kepadanya hari ini, hatinya kembali memanas. Dia tidak terima.

__ADS_1


"Eh, tapi boleh kan satu kali saja kita nge-date? Aku pingin jalan sama kamu." Lelaki itu mencoba merayunya.


Celine terdiam sesaat. Menimbang-nimbang sebelum memutuskan. Pergi dengan Bisma juga besar resikonya. Bisa saja nanti malah dia dijebak.


"Boleh. Sekali saja, ya." Akhirnya dia menganggukkan kepala tanda setuju.


Bisma tersenyum menang. Mereka pun berpisah. Celine segera berpamitan pulang. Bisma sendiri masih asyik duduk menikmati minuman dan makanan yang sudah dia pesan tadi.


Tangannya kemudian beralih mengambil ponsel yang terletak di meja.


"Pa. Bilang sama pengurus yayasan, beasiswa atas nama Celina Andini dibatalkan." senyum liciknya tersungging.


* * *


Celine begitu kaget mendapat pesan bahwa seorang seniornya ingin bertemu. Bisma namanya. Dia tak terlalu hafal wajah lelaki itu karena memang jarang bertemu di kampus.


"Yang mana sih orangnya?" tanya Celine pada Kristi sahabatnya.Berdua mereka duduk di kantin sambil memesan semangkok bakso dan es jeruk. Kantin penuh sesak dengan mahasiswa yang kelaparan setelah selesai jam kuliah. Belum selesai, setelah ini masih ada kuliah lanjutan.


Antrian panjang menghiasi pemandangan sehari-hari di sini. Dengan penuh perjuangan akhir dua mangkok bakso itu berhasil mereka dapatkan.


Perlu untuk di ingat juga, di kantini ini ada kursi di posisi tertentu yang sudah di kavling oleh sang penguasa sehingga kaum pinggiran harus pandai-pandai mencari tempat.


"Ada fotonya?" Gadis itu bertanya. Sementara mulutnya masih penuh dengan makanan. Bakso di kantin ini memang lezat sekali.


"Kamu kuper deh, kan dia muncul waktu ospek. Emang cuma bentar sih liat-liat. Habis itu cabut." Kristi menjelaskan. Kali ini tangannya mengipas wajahnya sendiri. Keringat bercucuran.


"Kapan? Perasaan ga ada deh." Tangan gadis itu bergerak mengambil gelas minuman. Menyedot isinya dengan kuat.


"Oh, pas kamu ke toilet deh kayaknya. Dia masuk ruangan. Ngasih sambutan bentar habis itu ngacir."


"Nah, ya itu. Ga ketemu jadinya." Celine kembali menyendok mie dan sebutir pentolan bakso. "Terus dia ngapain mau ketemu aku? Ga kenal juga." Dia mengangkat bahu.


"Dia suka sama kamu kali." Sahabatnya itu menggoda sambil mengedipkan mata. Celine tertunduk malu saat mendengarnya. Dia mengulum senyum sambil terus melanjutkan makan.


"Ah ga mungkin. Masa' Kak Bisma naksir aku? Ga mungkin." Gadis itu melambaikan tangan meminta tambah minuman. Kristi juga ikutan menambah, bukan minuman tapi semangkok bakso lagi. Hem, itu perut atau karung beras?

__ADS_1


"Oh, mungkin mau bicarain soal beasiswa." Mulutnya Kristi komat-kamit seperti orang yang sedang membaca mantra. Untung saja itu pentolan bakso tidak melompat keluar.


"Tapi kok, ketemuannnya pulang kuliah. Di cafe lagi. Biasanya diadakan rapat yayasan begitu ya."


"Tau dah. Temuin aja. Lumayan kan bisa ketemu cowok ganteng. Kalau aku sih ga bakal nolak. Apalagi kalau dia nembak buat jadiin pacar. Mau banget."


"Dasarrr ...."


"Eh itu orangnya." Kristi memberi kode ke arah Celine dengan mulutnya.


Dia menoleh.


Segerombolan lelaki memasuki kantin. Hampir semua mata tertuju melihatnya. Beberapa mahasiswi berhenti makan dan berlagak manis saat mereka lewat.


Seperti film meteor garden saja, pikir Celine. Ada segerombolan lelaki tampan, kaya, pemilik yayasan dan diperebutkan semua wanita. Mereka berkuasa dan semena-mena kepada siapa saja yang berani bersinggungan dan melawan.


Jangan mendekat kalau tidak ingin mencari masalah. Pasalnya, beasiswa di kampus ini susah untuk di dapatkan. Mahasiswa penerima beasiswa seperti Celine sebaiknya berhati-hati kalau tidak ingin kena masalah.


Oh, ternyata yang seperti ini benar adanya. Dikira cuma ada di film drama Korea. Praktek per-bully-an jelas adanya di dunia nyata.


"Tampangnya lumayan juga," ucapnya lirih. Celine memperhatikan satu persatu yang lain. Mereka semua ganteng-ganteng apalagi yang berwajah blasteran itu.


"Kan apa aku bilang? Kamu ga percaya sih."


"Tapi aku takut." Sia bergidik ngeri.


"Halah, takut apa sih? Mereka tu tajir banget loh. Kalau kak Bisma beneran naksir sama kamu, bisa ketiban rejeki juga aku." Kristi tertawa geli. Tak bisa dia membayangkan seandainya dia juga bisa dekat dengan salah satu di antara mereka.


"Hus ..." Celine menepuk tangan Kristi. Dia masih asyik menatap satu persatu saat lelaki itu balas melihatnya. Menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa dia harus datang di tempat yang telah dijanjikan.


Celine balas mengangguk, sebagai tanda bahwa dia bersedia datang.


Lelaki itu tersenyum senang. Entah berbicara apa bersama teman-temannya sambil tertawa senang.


Kemudian terjadilah penembakan itu dan dia menolaknya. 

__ADS_1


Semua bermulai sejak saat itu. Kehancurannya. Kehancuran masa depannya. Lelaki itu merasa sakit hati dan membalas semua penolakan Celine dalam diam dan tersusun rapi namun fatal akibatnya.


Dia harus ikhlas melepas semuanya dengan lapang dada.


__ADS_2