PERTARUHAN

PERTARUHAN
PERTARUHAN


__ADS_3

"Cheers!" Suara dentingan gelas berisi minuman beralkohol terdengar bersahutan. Lima orang pria mature sedang bersulang merayakan sesuatu. Gelak tawa dan perbincangan hangat memenuhi ruangan itu. Beberapa wanita penghibur yang super seksi ikut meramaikan pesta mereka. Masing-masing duduk di pangkuan para pria itu. Kecuali satu orang, dia tokoh utamanya.


"Gilaaaa! Gue ga nyangka ternyata lu dapet juga. Keren, men." Arthur menepuk bahu Bisma. Lelaki yang ditepuk hanya tersenyum sedari tadi.


Tersenyum jumawa.


"Lu masih inget aja ya, Bisma. Gue aja udah lupa. Udah lama banget kan, ya?" tanya Dave. Sambil berbincang, tangannya memeluk gadis dipangkuannya. Si wanita itu tersenyum senang.


Sungguh menjijikkan.


"Ingetlahlah, men. Dia cakep begitu, gue juga kan pengen ngerasain gimana itu cewek." Bisma meneguk minumannya. Tidak. Dia tidak boleh teler malam ini. Ini kan malam pertama, kalau sampai teler jadinya tidak seru dong.


"Nih, tiket ke Labuan Bajo." Steven menyerahkan sebuah amplop. "Plus voucher menginap selama satu minggu. Buat lu sama Celine honeymoon." Dia menurunkan gadis yang duduk di pangkuannya dan menyuruh gadis itu pergi.


"Lah, kameranya mana?" Bisma mengerutkan keningnya. Seingatnya dulu mereka taruhan kamera sony terbaru milik steven.

__ADS_1


"Hilang. Ga tau dah ke mana. Gue lupa nyimpennya." Lelaki itu menepuk keningnya. Benar, dulu mereka mempertaruhkan Celine dengan sebuah kamera.


Bisma sangat iri kepada Steven yang dengan gampangnya membeli barang ini itu, karena itulah dia menerima taruhannya. Dia sendiri walaupun termasuk kaya, orang tuanya tidak terlalu memanjakan. Ada beberapa hal yang harus dia raih dengan usaha sendiri. Begitulah orang tuanya mengajarkan cara menjalani kehidupan.


"Yah, sayangnya. Mahal begitu." Bisma sangat menyesalkan. Itu kamera keluaran terbaru. Dulu, harga kamera dua digit itu selangit untuk ukuran mahasiswa seperti mereka. Walaupun sekarang mungkin sudah lama, tetap saja itu kamera bagus.


"Biarin, dah. Gampang itu ntar gue beli lagi." jawab Steven santai. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil. Menghisap terus menghembuskan asapnya. Sambil merokok, minum dan ditemani cewek-cewek.


Betapa beruntungnya hidup ini!


"Lu sekarang nge-vape?" Mereka asik melihat Steven yang sedari tadi asyik menghembuskan asap dari mulutnya.


"Ntar impoten baru deh ..."


Dasar! Syalan! Dia mengumpat.

__ADS_1


"Gue sih mending ga usah rokok daripada disfungsi ..."


Tawa mereka menggema, melihat kelakuan Steven yang absurd.


"Eh, tapi si Celine belum lu tidurin, kan?" Dave bertanya kepada Bisma dengan wajah serius. Dia mengalihkan pembicaraan.


Kasihan juga Steven ini jadi bahan bully mereka sejak dulu. Untung hatinya baik jadi tidak gampang tersinggung. Kalau soal cewek dia paling jago. Segala tipe disikat, asal dia senang. Tidak pakai pilih-pilih.


"Ntar malam ini." Bisma menepuk dada. Dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin menemui Celine. Sedari tadi meninggalkannya di apartemen sendirian demi berkumpul bersama teman-temannya.


"Cieee ... yang dapet bini perawan. Bawaannye happy mulu."


"Iya, dong. Gue gitu loh!"


Suara tawa kembali menggema. Senang sekali mereka malam ini.

__ADS_1


"Lu yakin masih segel?" Dion menuang minuman ke gelasnya. Dia ini yang paling jago minum. Mau berapa botol juga susah telernya. Gadis yang ada di pangkuannya ikut meneguk minum itu. Mereka cuek aja melihatnya. Sepertinya pemandangan begini sudah biasa.


Dihapus untuk kepentingan penerbitan buku.


__ADS_2